Duamata.id – Pagi itu, langit masih menyisakan dingin yang enggan pergi. Takbir berkumandang dari pengeras suara masjid, mengalun pelan seperti menenangkan sesuatu yang tak pernah benar-benar tenang.
Di pelataran masjid, orang-orang mulai berdatangan. Baju baru berwarna-warni, sandal yang masih kaku, dan wajah-wajah yang bersih oleh harapan. Hari itu adalah hari kemenangan, kata mereka.
Sebelum salat dimulai, mikrofon berderak. Ketua DKM berdiri, membetulkan pecinya, lalu mulai berbicara dengan suara penuh wibawa.
“Alhamdulillah, bapak ibu sekalian… tahun ini pengumpulan zakat fitrah kita meningkat signifikan. Ini menunjukkan kesadaran kita semua semakin baik.”
Beberapa orang mengangguk bangga.
“Dan kami laporkan, zakat tersebut telah disalurkan kepada yang berhak. Sebagian besar diberikan kepada fakir miskin di kampung kita tercinta ini.”
Kata sebagian besar diucapkan dengan penekanan, seolah itu adalah prestasi.
Tepuk tangan kecil terdengar. Ada rasa lega yang ditanamkan lewat kata-kata itu, bahwa semuanya sudah selesai, sudah benar, sudah tepat.
Di barisan paling belakang, seorang lelaki tua duduk di atas sajadah lusuh. Bajunya bersih, tapi jelas bukan baru. Ada jahitan di sana-sini, seperti menyimpan cerita yang tak pernah selesai.
Ia tersenyum.
Senyum yang tidak terlalu lebar, tapi cukup untuk menyembunyikan sesuatu.
Di sebelahnya, seorang anak kecil menarik ujung sarungnya.
“Bapak… nanti kita makan apa?”
Lelaki itu menatap anaknya sebentar, lalu kembali menatap ke depan. Mikrofon masih berbunyi, laporan masih berlanjut, angka-angka masih disebutkan dengan bangga.
Ia menghela napas pelan.
“Katanya… sebagian besar untuk kita, Nak,” katanya lirih, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Sang lelaki tua kembali tersenyum.
“Berarti… kita ini mungkin bukan ‘sebagian besar’ itu,” gumamnya.
Takbir kembali menggema.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar…”
Semua berdiri, merapatkan saf. Hari kemenangan dimulai.
Namun di sudut kecil itu, ada satu keluarga yang masih mencoba memahami arti dari sebuah kalimat sederhana:
Sebagian besar.
Dan di hari yang katanya penuh kebahagiaan, mereka tetap harus berdamai dengan kenyataan, bahwa menjadi miskin bukan hanya soal tidak punya,
tapi juga soal tidak selalu dianggap ada.
Hanya Cerpen by Mang Duta
Leave a comment