Home Opini “Pemuda Sudah Capek dengan Pidato”, Pernyataan Ayep Ditujukan ke Siapa?

“Pemuda Sudah Capek dengan Pidato”, Pernyataan Ayep Ditujukan ke Siapa?

Share
Share

Duamata.id – Kalimat dari Ketua KNPI Kuningan terpilih, Ayep Setiawan yang mengatakan “Pemuda Kuningan sudah capek dengan pidato, pemuda butuh bukti.”, sebenarnya terdengar biasa saja.

Tapi kalau dicermati pelan-pelan, itu seperti alarm yang berbunyi tepat di tengah ruangan sebuah acara pelantikan yang isinya penuh dengan orang yang pidato.

Maka publik pun mulai menerka: Ini sindiran buat siapa?

Buat KNPI? Atau buat birokrasi di lingkungan Pemda Kuningan?

Karena kalau dipikir-pikir, yang paling sering pidato di negeri ini ya bukan tukang bakso, bukan petani, bukan pemuda nongkrong di pos ronda.

Yang hobi berdiri di podium sambil membuka map dan berkata “izin menyampaikan beberapa hal” biasanya ya para pejabat, elite organisasi, dan tokoh-tokoh yang hidupnya akrab dengan acara seremoni.

Budaya pidato memang seperti pupuk: ditebar di mana-mana. Peresmian pidato. Pelantikan pidato. Rapat pidato. Launching pidato. Kadang yang beda cuma backdrop dan konsumsi.

Sementara rakyat mulai hafal pola acaranya: datang, sambutan , sambutan lagi , sambutan tambahan, foto bersama dan selesai.

Maka ketika Ayep berkata “pemuda sudah capek dengan pidato”, kalimat itu terasa seperti tamparan halus di ruangan yang justru dipenuhi orang-orang yang terbiasa bicara panjang di depan mikrofon.

Satirnya ada di situ.

Apakah ini kritik ke dalam tubuh organisasi yang dipimpinnya? Karena kalau jujur, di banyak daerah kadang memang lebih mirip tempat latihan menjadi pejabat daripada tempat melahirkan gerakan pemuda.

Latihannya lengkap: cara sambutan, cara pegang mikrofon, cara foto sambil menunjuk ke depan, sampai cara bilang “kolaborasi” minimal tiga kali dalam satu pidato.

Program kerja?

Pemuda akhirnya tumbuh dalam budaya organisasi yang sibuk membuat spanduk, tapi bingung membuat dampak.

Sementara pemerintah daerah juga tampak menikmati pola hubungan yang aman: pemuda dikasih gedung, dikasih hibah, dikasih acara, asal jangan terlalu kritis.

Kalau ada kegiatan pemerintah: KNPI hadir. Kalau ada launching: KNPI hadir. Kalau ada forum: KNPI hadir.

Bagaimana dengan hasil konkretnya untuk Pemuda Kuningan?

Padahal yang dibutuhkan pemuda Kuningan hari ini bukan tambahan baliho ucapan selamat, tapi lapangan kerja, ruang kreatif, akses usaha, dan keberanian bersuara tanpa takut dianggap tidak sopan.

Maka ucapan Ayep terasa seperti kritik dari dalam rumah sendiri. Bahwa pemuda mulai sadar mereka terlalu lama dipelihara dalam budaya tepuk tangan dan dokumentasi.

Ironisnya, setiap tahun selalu ada tema besar: pemuda tangguh, pemuda mandiri, pemuda berdaya, pemuda melesat, pemuda lumpat.

Tapi banyak pemudanya sendiri masih lumpat… cari kerja ke luar kota.

Sementara di dalam ruangan, kalimat “pemuda adalah agen perubahan” terus diputar ulang seperti lagu wajib acara organisasi.

Mungkin Ayep sedang mencoba mengatakan sesuatu yang selama ini jarang diucapkan keras-keras: bahwa pemuda Kuningan tidak kekurangan slogan, yang kurang itu keberanian mengubah slogan jadi kenyataan.

Kalimat “pemuda butuh bukti” akhirnya jadi seperti pisau bermata dua. Kalau setelah ini KNPI Kuningan masih dipenuhi agenda seremonial yang isinya lebih banyak pidato daripada kerja nyata, maka sesungguhnya ucapan Ayep kemarin bukan sedang menyindir orang lain.

Dan publik pasti akan mengingat itu.

Karena masyarakat sekarang tidak lagi terlalu terpesona oleh jas organisasi, foto pelantikan, atau kata “kolaborasi” yang diulang-ulang di podium.

Yang dilihat sederhana: setelah dilantik, apa yang berubah?

Apakah KNPI di Kabupaten Kuningan nanti benar-benar turun mendampingi pemuda desa? Membuka ruang usaha? Membantu anak muda menghadapi masalah pengangguran? Atau minimal menghadirkan diskusi yang lebih banyak solusi daripada sesi foto?

Sebab kalau ke depan KNPI hanya sibuk berpindah dari satu seremoni ke seremoni lain, maka kalimat “pemuda sudah capek dengan pidato” akan berubah jadi bumerang paling keras untuk kepengurusan Ayep sendiri.

Dan di situlah satirnya: sebuah organisasi pemuda yang mengkritik budaya pidato, tapi diuji justru apakah ia mampu keluar dari budaya itu.

Dan kalau setelah ini KNPI masih lebih sibuk bikin agenda seremoni daripada menyentuh persoalan nyata anak muda, maka pidato “pemuda butuh bukti” nanti tinggal jadi kutipan Instagram berikutnya.

Rapi di feed. Sepi di lapangan.

Hanya Opini oleh Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Bupati Dian Resmi Pimpin Alumni KNPI, Gaungkan Semangat “Pemuda Lumpat, Kuningan Melesat”

KUNINGAN — Semangat baru gerakan kepemudaan menggema di Pendopo Kabupaten Kuningan saat...

Pemkab Kuningan Buka Suara soal Rencana Pengadaan Perangkat Komunikasi di SiRUP 2026

KUNINGAN – Pemerintah Kabupaten Kuningan akhirnya memberikan penjelasan terkait informasi yang ramai...

PSI Kuningan Tegas Tolak Wacana Pilkada Dipilih DPRD: Demokrasi Bukan Sekadar Transaksi Elite

KUNINGAN – Wacana pengembalian mekanisme pemilihan kepala daerah melalui DPRD kembali memantik...

May Day Kuningan 2026: Ada Perlindungan Buruh, Ada Peluang 30 Ribu Lowongan Kerja

KUNINGAN — Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Kabupaten...