DUamata.id – Namanya pernah dikenal. Tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membuat orang-orang menoleh ketika tulisannya muncul di koran harian, media online atau dibagikan diam-diam di grup-grup kecil. Ia menulis bukan untuk terkenal, melainkan untuk bertahan dari sepi, dari luka, dari hidup yang kadang terasa terlalu panjang untuk dijalani sendirian.
Lalu hidup, seperti biasa, punya cara sendiri untuk menguji manusia.
Ekonomi runtuh perlahan. Bukan sekali jatuh, tapi seperti tanah yang ambles sedikit demi sedikit. Penghasilan menipis, pekerjaan lepas tak lagi rutin datang. Tagihan mulai terdengar lebih nyaring dari suara hatinya sendiri. Ia mencoba bertahan, menjual apa yang bisa dijual, menahan apa yang bisa ditahan.
Di fase itu, yang berubah bukan hanya angka di rekeningnya.
Orang-orang juga ikut berubah.
Yang dulu sering menyapanya dengan hangat, kini sekadar lewat. Yang dulu memujinya sebagai “penulis berbakat”, mulai jarang menyebut namanya. Yang tersisa hanyalah beberapa orang, dan bahkan dari yang tersisa itu, ia mulai paham: tidak semuanya tinggal karena peduli.
Ada yang datang karena masih butuh sesuatu darinya. Entah ide, koneksi, atau sekadar ingin menempel pada sisa-sisa cahaya yang dulu pernah ia miliki. Ia tahu itu. Ia merasakannya. Tapi ia diam saja.
Karena dalam kondisi seperti itu, kadang ditemani kepentingan pun masih lebih baik daripada sepenuhnya ditinggalkan.
Ia terus menulis, meski sering kali hanya untuk dirinya sendiri. Tulisan-tulisan yang tak dikirim ke mana-mana. Kata-kata yang ia simpan seperti menabung napas, agar suatu hari ia tidak benar-benar kehabisan udara.
Sampai suatu hari, dua orang datang.
Tidak dengan cara yang megah. Tidak dengan janji-janji besar. Mereka hanya hadir dan itu saja sudah terasa berbeda.
Orang-orang memanggil mereka “Prof”. Bukan sekadar karena gelar, tapi karena cara mereka memandang hidup: tenang, dalam, dan tidak mudah menghakimi.
Mereka tidak bertanya, “Kamu sekarang ada di mana?”
Mereka tidak berkata, “Kenapa kamu bisa sampai seperti ini?”
Mereka hanya melihatnya… dan seolah tahu segalanya.
“Masih nulis?” tanya salah satu dari mereka suatu sore.
Ia mengangguk ragu. “Masih… tapi ya begitu.”
“Bagus,” jawab yang lain. “Berarti kamu belum hilang.”
Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa, seperti mengetuk sesuatu yang sudah lama terkunci di dalam dirinya.
Mereka tidak memberinya ceramah panjang. Tidak pula menyuruhnya bangkit dengan kata-kata klise. Mereka melakukan sesuatu yang jauh lebih jarang dilakukan orang: merangkul tanpa syarat.
Diberi ruang. Diberi kepercayaan. Dipoles lagi—bukan sebagai seseorang yang harus diubah, tapi sebagai seseorang yang hanya perlu diingatkan kembali siapa dirinya.
Pelan-pelan, ia mulai menulis lagi dengan cara yang berbeda. Bukan lagi dari rasa takut kehilangan, tapi dari keberanian untuk kembali menjadi dirinya sendiri.
Tulisan-tulisannya mulai keluar. Awalnya kecil, lalu mulai dilirik lagi. Ia tidak langsung “terbang tinggi”. Tapi ia tahu, kali ini ia tidak sedang jatuh.
Yang berubah bukan dunia di sekitarnya.
Yang berubah adalah cara ia berdiri di dalamnya.
Orang-orang yang dulu pergi, sebagian mulai kembali. Yang dulu meremehkan, kini mulai menyapa lagi. Ia melihat itu semua dengan cara yang lebih tenang.
Ia tidak lagi marah. Tidak juga merasa perlu membalas.
Karena sekarang ia paham dalam hidup, tidak semua orang harus tinggal.
Dan tidak semua yang tinggal benar-benar peduli.
Tapi dua orang itu berbeda.
Dua orang yang dipanggil Prof.
Mereka tidak hanya mengulurkan tangan saat ia jatuh. Mereka juga berjalan bersamanya saat ia mulai bangkit, memastikan ia tidak lupa cara melangkah.
Suatu malam, ia duduk sendiri, membuka kembali catatan-catatan lamanya. Lalu ia menulis satu kalimat:
“Aku sempat kehilangan diriku. Tapi ternyata, aku hanya tersesat sebentar… sampai ada yang mengingatkanku jalan pulang.”
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tersenyum.
Bukan karena dunia akhirnya ramah.
Tapi karena ia akhirnya menemukan dirinya lagi, di antara kata-kata yang tak pernah benar-benar meninggalkannya.
Cerpen oleh : Mang Duta
Leave a comment