Home Cerpen Langkah yang Tidak Dipilihkan

Langkah yang Tidak Dipilihkan

Share
Share

Duamata.id – Di sebuah meja warung kopi, papan catur itu terhampar seperti kehidupan yang sudah digambar garis-garisnya.

Hitam dan putih.
Seolah dunia memang sesederhana memilih sisi.

Aku duduk berhadapan dengan seorang lelaki tua. Tangannya tenang, matanya tajam. Ia tidak banyak bicara, tapi setiap gerakannya seperti sudah tahu akhir cerita.

“Mulai,” katanya singkat.

Aku menggerakkan pion di depanku. Dua langkah ke depan. Seperti biasa, pion selalu diberi kehormatan membuka permainan, sekaligus risiko pertama hilang.

“Kenapa selalu pion dulu?” tanyaku.

Lelaki itu tersenyum tipis.
“Karena mereka paling mudah disuruh maju.”

Aku terdiam.

Permainan berjalan. Kuda meloncat, gajah menyilang, benteng berdiri kokoh. Semua tampak punya kuasa. Semua tampak penting.

Kecuali pion.

Ia hanya berjalan lurus. Pelan. Tidak bisa mundur. Tidak bisa belok. Seperti hidup yang kadang terasa sudah ditentukan arahnya.

“Apa pion itu lemah?” tanyaku lagi.

“Tidak,” jawabnya. “Mereka hanya sering tidak sadar kekuatannya.”

Aku mengernyit.

Di langkah berikutnya, pionku dimakan. Begitu saja. Tanpa drama. Tanpa peringatan.

Aku menarik napas.

“Lihat,” kata lelaki itu, “pion sering jadi korban. Karena mereka percaya langkahnya milik mereka, padahal hanya mengikuti rencana orang lain.”

Aku menatap papan.
Kosong di tempat pionku tadi.

“Jangan jadi pion orang,” lanjutnya pelan.
“Kalau kamu maju hanya karena disuruh, kamu hanya menunggu giliran untuk hilang.”

Aku mulai bermain lebih hati-hati.

Kali ini, aku tidak asal maju. Aku perhatikan posisi. Aku pikirkan tujuan. Aku biarkan beberapa bidak lain bergerak dulu.

Permainan berubah.

Beberapa langkah kemudian, satu pionku berhasil menembus barisan lawan. Pelan, tapi pasti. Ia sampai di ujung papan.

“Apa yang kamu pilih?” tanya lelaki itu.

Aku menatap bidak kecil itu.
Pion yang tadi dianggap paling lemah.

“Jadi menteri,” jawabku.

Ia mengangguk.

Dalam sekejap, pion itu berubah. Dari yang paling tidak diperhitungkan menjadi yang paling bebas bergerak.

Aku tersenyum kecil.

“Lihat?” kata lelaki itu. “Pion yang terus maju, dengan kesadaran bisa jadi apa saja.”

Aku mengangguk. Tapi mataku tertarik pada satu bidak lain.

Raja.

Ia berdiri di tengah, dijaga ke mana-mana. Semua bidak seperti mengabdi padanya.

“Kalau raja paling penting, kenapa dia tidak kuat?” tanyaku.

Lelaki itu tertawa pelan.

“Karena raja itu makhluk paling lemah di papan,” katanya.
“Langkahnya satu-satu. Terbatas. Tapi semua harus melindunginya.”

Aku terdiam.

“Jadi… dia tidak benar-benar berkuasa?”

“Dia pusat permainan, tapi bukan yang paling bebas,” jawabnya. “Kadang yang terlihat paling tinggi, justru paling bergantung.”

Permainan berlanjut. Aku mulai melihat papan dengan cara berbeda.

Bukan lagi siapa paling kuat.
Tapi siapa paling sadar langkahnya.

Aku tidak lagi asal menggerakkan pion.
Aku tidak lagi buru-buru jadi raja.

Aku hanya memastikan satu hal, setiap langkah yang kuambil adalah pilihanku sendiri.

Beberapa saat kemudian, permainan selesai. Aku tidak ingat apakah aku menang atau kalah.

Yang aku ingat hanya satu kalimat lelaki itu sebelum ia pergi:

“Hidup memang seperti catur.
Tapi jangan pernah jadi pion yang hanya disuruh maju.
Jadilah pion yang tahu ke mana ia melangkah.

Karena kalau terus maju dengan kesadaran, suatu hari kamu bisa jadi menteri.

Dan ingat, raja yang terlihat paling penting itu, sebenarnya hanyalah makhluk lemah yang bahkan untuk bertahan pun harus dilindungi.

Cerpen oleh : Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langkah yang Tidak Dipilihkan

Duamata.id - Di sebuah meja warung kopi, papan catur itu terhampar seperti kehidupan yang sudah digambar garis-garisnya. Hitam dan putih.Seolah dunia memang sesederhana...

Related Articles

Bupati Dian Buka Turnamen Catur, Siapkan Jalan Menuju Grand Master

KUNINGAN — Suasana GOR Ewangga mendadak dipenuhi “perang sunyi” penuh strategi. Ratusan...

Hardiknas 2026, Bupati Dian Tekankan Penguatan Pendidikan Bermutu di Kuningan

KUNINGAN — Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Pendapa Paramarta, Sabtu...

LKKS Kuningan Luncurkan “Bunda El untuk Ananda” di Hardiknas 2026

KUNINGAN – Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, LKKS Kabupaten Kuningan sebagai...

SPs Uniku Jalin Kerja Sama Internasional dengan AIMS Institute Somalia, Langsung Implementasikan Program Kolaboratif

KUNINGAN – Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Kuningan (Uniku) resmi menjalin kerja sama...