Duamata.id – Setiap menjelang Lebaran, rumah Pak Rahman selalu kedatangan tamu yang tidak diundang, parcel. Bukan tamu yang mengetuk pintu, melainkan yang tiba-tiba muncul di ruang tamu dalam bentuk keranjang rotan yang dibungkus plastik bening berisik.
Biasanya dihiasi pita emas yang tampak mewah, seolah-olah sedang berusaha meyakinkan orang bahwa isi di dalamnya juga sama istimewanya.
Sore itu kurir datang lagi.
“Pak Rahman?”
“Iya.”
Sebuah parcel besar diletakkan di meja tamu. Dika, anaknya yang masih kelas lima, langsung mendekat dengan rasa penasaran yang tulus seperti setiap anak kecil terhadap segala sesuatu yang dibungkus cantik.
“Buka sekarang, Pak!”
Pak Rahman mengangguk. Mereka bertiga, Pak Rahman, Bu Rahman, dan Dika, duduk melingkar seperti hendak membuka peti harta karun.
Plastik dibuka. Pita dilepas.
Isi parcel mulai terlihat satu per satu seperti rombongan yang akhirnya keluar dari gudang lama.
Yang pertama muncul adalah sirup merah menyala dengan merek yang terasa seperti baru ditemukan kemarin sore.
“Rasa apa ini?” tanya Dika.
Pak Rahman membaca labelnya.
“Rasa… buah tropis campur.”
“Buah apa saja?”
Pak Rahman berpikir sebentar.
“Mungkin buah yang tidak sempat terkenal.”
Bu Rahman menahan tawa.
Dari dalam keranjang keluar lagi wafer kaleng besar yang kemasannya terlihat sangat optimis, padahal semua orang di rumah itu tahu wafer tersebut biasanya baru dimakan kalau semua makanan lain sudah habis.
Lalu ada biskuit yang kerasnya seperti sedang mempertahankan prinsip hidup, permen susu yang rasanya tidak pernah berubah sejak zaman radio masih pakai antena panjang, dan beberapa makanan ringan yang sepertinya sudah lama menunggu kesempatan tampil di panggung Lebaran.
Bu Rahman memandang isi parcel itu cukup lama.
“Aneh ya,” katanya.
“Kenapa?” tanya Pak Rahman.
“Setiap tahun kita dapat makanan seperti ini.”
“Iya.”
“Tapi sepanjang tahun saya hampir tidak pernah lihat orang beli.”
Pak Rahman tertawa kecil.
“Karena sebagian orang membeli makanan itu bukan untuk dimakan.”
“Lalu untuk apa?”
Pak Rahman menunjuk keranjang parcel itu.
“Untuk mengisi perhatian.”
Dika mengernyit.
“Maksudnya?”
Pak Rahman bersandar santai.
“Kadang orang memilih isi parcel bukan berdasarkan ‘ini enak dimakan atau tidak’, tapi berdasarkan tiga hal yang sangat mulia.”
“Apa itu?” tanya Dika serius.
“Murah.”
“Diskon.”
“Cuci gudang.”
Bu Rahman langsung tertawa.
Pak Rahman melanjutkan dengan nada setengah bercanda.
“Di toko-toko, ada rak khusus menjelang Lebaran. Isinya makanan yang sepanjang tahun duduk sendirian. Lalu tiba-tiba nasibnya berubah.”
“Kenapa?” tanya Dika.
“Karena ada orang yang berpikir, ‘Ah, ini saja. Lumayan buat parcel.’”
Dika memandang wafer kaleng itu dengan ekspresi iba.
“Kasihan juga ya.”
“Siapa?” tanya Bu Rahman.
“Makanannya.”
Pak Rahman tertawa.
“Bukan kasihan. Mereka justru punya karier musiman.”
“Maksudnya?”
“Sepanjang tahun mereka kurang diperhatikan. Tapi menjelang Lebaran, mereka menjadi bintang parcel nasional.”
Bu Rahman menimpali sambil mengangkat botol sirup merah itu.
“Padahal yang memberi parcel mungkin tidak pernah minum ini juga.”
Pak Rahman mengangguk.
“Itulah uniknya tradisi ini.”
“Unik bagaimana?”
“Kadang parcel itu bukan cerminan dari apa yang kita suka, tapi cerminan dari apa yang sedang murah di supermarket.”
Dika tertawa keras.
“Jadi orang memberi parcel bukan supaya orang lain makan?”
Pak Rahman mengangkat bahu.
“Kadang supaya terlihat memberi.”
Ruangan hening sebentar, tapi hening yang hangat.
Bu Rahman lalu berkata pelan,
“Tapi niatnya mungkin tetap baik.”
“Iya,” kata Pak Rahman. “Niat baik itu seperti pita emas ini.”
“Cantik?”
“Iya.”
“Isinya?”
Pak Rahman melirik wafer kaleng itu lagi.
“Kadang terlalu jujur.”
Dika tiba-tiba punya ide.
“Pak, nanti kalau kita kirim parcel ke orang, kita isi yang benar-benar enak ya.”
“Kenapa?”
“Supaya yang menerima benar-benar makan.”
Pak Rahman tersenyum.
“Dan supaya parcel kembali menjadi tanda perhatian.”
“Bukan tanda…?”
Pak Rahman menjawab pelan.
“Bukan tanda bahwa gudang seseorang akhirnya berhasil dikosongkan.”
Mereka bertiga tertawa.
Di atas meja, sirup merah tetap berdiri dengan penuh percaya diri. Wafer kaleng itu tampak tenang seperti sudah memahami takdirnya.
Dan di luar sana, di banyak supermarket, mungkin masih ada rak-rak yang diam-diam berharap:
Lebaran datang lebih cepat.
Mungkin mereka tahu satu hal:
Lebaran adalah waktu yang aneh.
Bahkan makanan yang tidak laku pun bisa merasa penting… setidaknya sekali setahun.
Hanya Cerpen by Mang Duta
Leave a comment