Duamata.id – Namanya Arka. Dulu, orang-orang menyebut tulisannya “tajam seperti silet, tapi terasa seperti pelukan.” Sebuah paradoks yang hanya bisa dimiliki oleh penulis yang jujur, yang berani menyayat, tapi juga paham luka.
Sekarang, tulisannya masih rapi. Bahkan lebih rapi dari sebelumnya. Kalimatnya halus, aman, mudah diterima banyak orang. Terlalu mudah, mungkin.
Dan justru di situlah masalahnya.
Suatu malam, Arka menatap layar laptopnya yang kosong. Kursor berkedip seperti detak jantung yang ragu—hidup, tapi tak yakin untuk apa.
Di luar, kota terasa lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena tak ada suara, tapi karena tak ada yang benar-benar ingin didengar.
Ia membuka folder lama. Tulisan-tulisan lamanya tersusun rapi: kritik sosial, satire yang menggigit, cerita-cerita yang membuat orang tersenyum pahit.
Ia membaca satu paragraf, lalu berhenti.“Dulu gue berani banget ya…” gumamnya pelan.
Dulu, ia tidak terlalu memikirkan siapa yang tersinggung. Ia hanya menulis apa yang ia lihat, apa yang ia rasa. Ia percaya tulisan punya tugas, bukan sekadar menghibur, tapi juga mengganggu.
Sekarang?
Sekarang ia punya cicilan.
Sekarang ia punya tanggung jawab.
Sekarang setiap kata terasa seperti harus lolos sensor tak kasat mata, sensor yang bahkan tidak pernah benar-benar ada, tapi terasa begitu nyata.
“Kenapa tulisan lo sekarang… ya… gitu aja?” tanya Reno, temannya, suatu sore di warung kopi.
Arka tersenyum kecil. “Gimana maksudnya?”
“Ya aman. Terlalu aman. Lo dulu kayak… nendang. Sekarang kayak… brosur.”
Arka tertawa, tapi tawanya cepat habis.
“Orang berubah, No.”
“Atau dipaksa berubah?” Reno menatapnya tajam.
Kalimat itu menggantung.
Seperti sesuatu yang sudah lama ingin Arka akui, tapi selalu ia telan sendiri.
Malam itu, Arka kembali ke laptopnya.
Ia membuka dokumen baru. Mengetik satu kalimat, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, menghapus lagi.
Tangannya berhenti.
Pikirannya mulai berisik.
“Kalau gue nulis kayak dulu lagi… ada yang tersinggung nggak?”
“Ada yang berhenti kerja sama nggak?”
“Ada yang… bikin hidup gue makin sulit nggak?”
Lalu, suara lain muncul. Lebih pelan, tapi lebih jujur.
“Kalau gue terus nulis kayak sekarang… gue masih jadi penulis nggak?”
Arka menarik napas panjang.
Ia sadar sesuatu yang selama ini ia hindari: ekonomi memang tidak mengubah apa yang ia tulis. Tapi ia mengubah keberaniannya untuk jujur.
Dan itu jauh lebih berbahaya.
Ia mulai mengetik lagi.
Kali ini tanpa berhenti.
Kalimat demi kalimat mengalir. Tajam. Nakal. Sedikit kurang ajar. Tapi hidup.
Ia menulis tentang orang-orang yang berpura-pura tidak tahu. Tentang sistem yang lebih suka dipuji daripada diperbaiki. Tentang dirinya sendiri, yang sempat memilih diam demi kenyamanan.
Sesekali ia tersenyum.
Sesekali ia merasa takut.
Tapi ia tidak berhenti.
Menjelang subuh, tulisannya selesai.
Arka membaca ulang dari awal sampai akhir.
Ada rasa yang lama hilang, rasa berwibawa yang tidak datang dari jabatan, bukan dari uang, tapi dari kejujuran.
Ia tahu tulisan ini mungkin tidak akan disukai semua orang.
Ia tahu mungkin akan ada konsekuensi.
Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa… utuh.
Sebelum menutup laptop, Arka berbisik pada dirinya sendiri:
“Kalau harus sulit, ya sudah. Tapi jangan sampai kehilangan suara.”
Kursor berhenti berkedip.q
Dan malam itu, seorang penulis menemukan kembali dirinya, bukan sebagai orang yang aman, tapi sebagai orang yang berani.
Hanya cerpen by Mang Duta
Leave a comment