Nama kami ikan dewa.
Iya, dewa.
Minimal itu yang tertulis di brosur wisata, spanduk selamat datang, dan caption Instagram para tamu yang berdiri di pinggir balong sambil berkata,
“Masya Allah… ikannya keramat.”
Keramat, kata mereka. Tapi dingin tetap dingin.
Aku lahir di Balong Cigugur, kolam tua yang lebih sering disebut “keramat” daripada “dirawat”. Setiap hari kami berenang dengan tenang, melatih kesabaran tingkat dewa: tidak boleh dimakan, tidak boleh ditangkap, hanya boleh dipandangi.
Kami sudah terbiasa jadi tontonan. Sudah hafal bunyi kamera. Sudah kebal dengan komentar,
“Besar-besar ya ikannya, pasti sehat.”
Padahal, sehat itu relatif. Relatif terhadap kepedulian.
Kami ini ikon. Kami tahu.
Nama kami disebut dalam sambutan. Wajah kami menghiasi poster pariwisata. Anak-anak sekolah diajak studi wisata melihat kami, lalu pulang dengan tugas membuat karangan berjudul Ikan Dewa, Kebanggaan Kuningan.
Yang jarang ditulis adalah, air kami makin dingin, tubuh kami digerogoti parasit, dan kami menggigil diam-diam sambil tetap terlihat “keramat”.
Beberapa hari lalu, cuaca berubah. Air tiba-tiba sedingin tatapan pejabat setelah acara seremonial selesai. Tubuh kami lemah.
Kami tak lagi lincah berputar seperti yang diharapkan wisatawan. Lalu satu demi satu dari kami mengapung bukan untuk dipuja, tapi untuk diangkut.
Ironis ya?
Kami mati justru saat status kami sedang “ikon”.
Saat kami mengapung, manusia ramai. Ada yang prihatin, ada yang berdoa, ada yang sibuk menjelaskan.
Katanya ini karena cuaca. Katanya ada parasit. Katanya akan ada ramuan tradisional.
Kami mendengar semua itu. Dari dasar balong, kami mendengar segalanya.
Hanya satu yang jarang terdengar:
“Maaf.”
Kami tidak butuh disakralkan.
Kami hanya butuh dijaga.
Tak perlu spanduk besar bertuliskan Ikan Dewa Warisan Budaya. Cukup air yang layak. Cukup perhatian sebelum mati, bukan setelah berita naik.
Sekarang, beberapa dari kami telah pergi.
Mungkin jadi legenda tambahan.
Mungkin jadi bahan rilis pers.
Kami yang tersisa masih berenang pelan, berharap satu hal sederhana: jangan biarkan kami hidup hanya sebagai simbol.
Karena bahkan ikan dewa pun bisa lelah jika terus dipuja, tapi lupa dipeluk oleh kepedulian.
Hanya Cerpen by Mang Duta
Leave a comment