Duamata.id – Kuningan memang luar biasa. Alamnya hijau, pegunungannya indah, mata airnya melimpah. Bahkan air dari kaki Gunung Ciremai itu sudah lama dikenal sebagai salah satu yang terbaik di Jawa Barat. Tapi ada satu hal yang kadang membuat masyarakat mengernyitkan dahi, kenapa daerah yang kaya mata air justru hanya menjadi penonton dalam bisnis air minum kemasan?
Belakangan, Perumda Aneka Usaha Kabupaten Kuningan menandatangani kerja sama dengan perusahaan air minum kemasan dari luar daerah untuk pemasaran di kawasan wisata yang mereka kelola. Secara bisnis mungkin ini dianggap langkah cepat dan praktis. Tinggal kerja sama, pasang produk, distribusi jalan. Aman.
Tapi di situlah letak ironi yang sulit diabaikan.
Airnya dari Kuningan. Sumber mata airnya dari Kuningan. Dijual di objek wisata Kuningan. Tapi yang memproduksi perusahaan luar daerah, sementara perusahaan daerah milik Kuningan hanya kebagian tugas jadi pemasar.

Kalau diibaratkan, Kuningan ini seperti pemilik kebun mangga yang subur, tapi tiap musim panen cuma kebagian jadi tukang parkir di toko buah orang lain.
Padahal beberapa bulan lalu PDAU sempat menyoroti fenomena hasil panen sayur mayur Kuningan yang lebih dulu dikirim ke pasar Cirebon, lalu masyarakat Kuningan membeli kembali dari sana dengan harga yang sudah naik. Saat itu narasinya bagus: pola distribusi harus diperbaiki agar nilai ekonomi tidak lari keluar daerah.
Publik tentu setuju.
Namun pertanyaannya, kenapa pola yang sama justru terjadi pada air mineral?
Bukankah logikanya serupa? Bahan baku dari Kuningan, nilai tambah pengolahan terjadi di luar daerah, lalu Kuningan hanya menjadi pasar dan lokasi distribusi.
Tentu mendirikan perusahaan air minum dalam kemasan bukan perkara mudah. Butuh investasi besar, teknologi, izin BPOM, sertifikasi, mesin produksi, jaringan distribusi, hingga strategi branding yang matang. Tidak sesederhana membeli galon lalu ditempeli stiker “Air Asli Kuningan”.
Tetapi justru di situlah fungsi badan usaha milik daerah diuji: apakah hanya menjadi perantara bisnis, atau berani membangun kemandirian ekonomi daerah?
Sebab kalau hanya menjadi reseller berkedok kerja sama strategis, hampir semua orang juga bisa.
Kuningan sebenarnya punya modal yang sangat lengkap. Mata air melimpah, citra daerah wisata kuat, pasar wisata tersedia, bahkan sentimen lokal masyarakat cukup tinggi. Tinggal keberanian dan visi jangka panjangnya: mau membangun merek daerah sendiri atau terus menjadi etalase bagi merek luar.
Bayangkan kalau suatu hari wisatawan datang ke Balong Dalem atau Leuweung Monyet Cibeureum lalu yang mereka minum adalah produk air mineral asli milik daerah. Diproduksi di Kuningan, menyerap tenaga kerja Kuningan, pajaknya kembali ke Kuningan, keuntungannya pun berputar untuk masyarakat Kuningan.
Itu baru namanya hilirisasi.
Kalau sekarang, jangan-jangan yang terjadi baru sebatas “titip jual sambil foto MoU”.
Dan masyarakat tentu berhak bertanya: apakah PDAU sedang membangun kemandirian ekonomi daerah, atau sekadar menjadi jalur distribusi yang kebetulan memakai nama daerah?
Opini by Mang Duta


Leave a comment