Home Cerpen Elang yang Kehabisan Bensin

Elang yang Kehabisan Bensin

Share
Share

Pesan WhatsApp itu singkat.

“Bro, lagi di mana? Punya uang kecil gak? Mau minta tolong.”

Belum sampai satu menit, centang dua berubah biru. Balasannya panjang — bahkan lebih panjang dari doa syukur waktu gajian:

“Lagi di kantor, Lang. Maaf banget, gak bisa minjemin dulu. Hari ini bayar cicilan mobil, anak minta uang sekolah, listrik belum dibayar. Pusing, Bro.”

Elang menatap layar ponselnya. Napasnya berat. Tangannya otomatis mengelus dada, entah menenangkan diri, entah menahan kecewa.

Padahal ia tidak sedang meminta pinjaman besar. Ia hanya kehabisan bensin, di depan rumah temannya sendiri, rumah dengan pagar tinggi, dua mobil mengilap di carport, dan papan kecil bertuliskan “Kerja Keras, Tetap Rendah Hati.”

Elang tersenyum miris.
Yang ia butuhkan cuma sepuluh ribu rupiah. Satu liter bensin, agar bisa pulang. Tapi temannya sudah lebih dulu menghitung cicilan ketimbang maksud sederhana dari sebuah kata “tolong.”

Pesan balasan tidak jadi ia kirim.
Ia matikan layar ponsel, masukkan ke saku, lalu mulai menuntun motornya pelan di bawah terik matahari.

Setiap langkah terasa berat, bukan karena panas, tapi karena rasa ganjil di dada, seperti ditinggalkan di depan pintu rumah sendiri.

Sekitar seratus meter berjalan, suara motor berhenti di sampingnya. Seorang bapak-bapak tukang sayur menurunkan kaca helmnya.

“Kenapa, Mas? Motornya mogok?”
“Kehabisan bensin, Pak.”
“Oh, saya bonceng aja sampai pom bensin, yuk. Deket kok.”

Tanpa banyak bicara, Elang menerima uluran tangan itu. Mereka berdua meluncur perlahan di jalan berdebu, dua orang asing yang tiba-tiba saling percaya.

Sesampainya di SPBU, si bapak mengeluarkan uang dua lembar sepuluh ribuan dari kantong plastik.

“Udah, Mas, ini buat beli bensin. Gak usah mikir balikin. Dulu saya juga pernah ditolong orang waktu kehabisan. Rezeki gak bakal salah alamat.”

Elang tercekat. Ia ingin menolak, tapi suaranya tertelan udara. Ia hanya bisa mengangguk pelan. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan, semacam pelajaran yang tak bisa ditemukan di ruang motivasi atau status media sosial.

Setelah mengisi bensin, Elang menatap jalan kembali ke arah rumah temannya. Ia tersenyum kecil.

Mungkin nanti, saat cicilan mobilnya lunas dan hidupnya lapang, temannya itu akan sadar:
ada hutang yang tak tercatat di rekening bank,
hutang kemanusiaan, dan sayangnya, tak semua orang sanggup membayarnya tepat waktu.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

ASABRI dan Bank BWS Sosialisasikan Jaminan Sosial serta Literasi Keuangan kepada Personel Kodim 0615/Kuningan

KUNINGAN – PT ASABRI (Persero) bersama Bank BWS menggelar kegiatan sosialisasi program...

KDM Minta Sekolah Swasta Buka Akses untuk Siswa Kurang Mampu, Pemprov Jabar Siapkan Bantuan Rp2,7 Juta

BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, , meminta sekolah swasta ikut berperan dalam...

Kuningan Kirim 140 Personel ke Porsenitas XIII Cirebon, Targetkan Juara Umum

KUNINGAN – Pemerintah Kabupaten Kuningan mengirimkan 140 personel untuk mengikuti Pekan Olahraga,...

Secangkir Kopi dan Isu yang Bergeser

Duamata.id - Warung kopi di sudut kota itu tidak pernah sepi. Pagi...