Home Cerpen Doa Diraya di Pundak Senja

Doa Diraya di Pundak Senja

Share
Share

Di halaman rumah tua itu, senja jatuh perlahan seperti menahan waktu agar tidak benar-benar pergi.

Diraya berdiri di samping keranda yang ditutupi kain putih, sementara aroma harum kayu dan doa-doa tetangga mengalun pelan.

Langit sore itu tidak kelabu, tetapi terasa sepi, sepi yang menyesap sampai ke tulang paling dalam.

Diraya menatap wajah ayahnya yang kini terbaring damai. Sosok lelaki yang selama ini menjadi rumah, guru, sekaligus kompas dalam hidupnya, akhirnya kembali ke pangkuan Sang Pencipta.

Usianya telah melampaui sembilan dekade, tetapi bagi Diraya, kepergian itu tetap terasa terlalu cepat.

Ia menarik napas panjang, dengan suara yang nyaris patah, berbisik pelan,

“Ayah… izinkan aku mengantarkanmu dengan doa yang paling dalam.”

Sejak kecil, Diraya tumbuh dalam kesederhanaan yang justru penuh kebijaksanaan. Ayahnya bukan tokoh besar yang setiap hari muncul di layar televisi, tapi bagi anak-anaknya, ia adalah pemberi cahaya.

Sang Ayah tak pernah mengajarkan kesuksesan dengan kemewahan, melainkan dengan ketekunan dan integritas. Tak pernah memaksakan apa pun, namun nilai-nilai yang diajarkannya menempel kuat di hati.

“Menjadi pemimpin tidak harus duduk di jabatan tinggi, Nak. Menjadi pemimpin itu cukup dengan mampu menjaga amanah, meski hanya untuk satu orang,” begitu kata ayahnya saat Diraya masih remaja.

Kini, puluhan tahun kemudian, Diraya berdiri sebagai salah satu pemimpin daerah, sebuah amanah besar yang tidak pernah ia impikan, tetapi ia perjuangkan. Dan setiap langkah yang ia ambil selalu mengingatkan pada pesan-pesan ayahnya.

Tentang kesabaran.
Tentang keberanian.
Tentang tidak meninggalkan siapa pun di belakang.

Saat malam mulai turun, Diraya duduk di dekat kepala ayahnya, menggenggam tangan itu, tangan tua yang dulu menggandengnya dengan hangat ketika ia belajar berjalan, tangan yang mengusap kepalanya ketika ia gagal, tangan yang menepuk bahunya ketika ia berhasil.

Hari ini, tangan itu dingin. Tapi kenangan yang melekat padanya tetap hangat.

“Ayah… terima kasih telah membesarkan kami dengan penuh pengorbanan. Terima kasih sudah mengajarkan bagaimana menjadi lelaki yang tidak hanya kuat, tapi juga lembut.”

Suara Diraya pecah.
Matanya berair.

“Jika hari ini aku bisa menjadi pemimpin, itu karena ayah yang lebih dulu memimpin hati kami. Dan jika suatu hari aku menjadi ayah yang baik, itu karena ayah telah menunjukkan caranya.”

Doa-doa mulai dipanjatkan. Suara para tetangga, sahabat, dan keluarga menyatu menjadi lantunan yang menggetarkan dinding rumah.

Diraya menunduk lebih dalam, merapalkan doa terakhir untuk ayahanda tercinta.

“Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah Ayah, memaafkan setiap khilafnya, dan memberikan tempat terindah di sisi-Nya.
Semoga Ayah beristirahat dengan tenang, setelah menghabiskan hidup untuk membesarkan kami menjadi manusia yang bermanfaat.
Dan semoga Ayah tahu… bahwa kami semua bangga pernah menjadi anak-anakmu.”

Ketika keranda akhirnya diangkat, Diraya tidak menangis lagi.
Ada kekuatan baru yang tumbuh di dadanya, kekuatan yang ayahnya wariskan, tanpa pernah ia sadari.

Ia menatap langit yang mulai dipenuhi bintang.

“Ayah… aku akan melanjutkan apa yang Ayah ajarkan. Baik sebagai pemimpin… maupun sebagai seorang ayah bagi anakku kelak.”

Di balik tangis yang telah reda, Diraya tahu:
sesungguhnya, warisan terbesar ayahnya bukanlah jabatan, bukan pula harta, melainkan keteladanan yang akan ia bawa sepanjang hidup.

Dan malam itu, di pundak senja yang pudar, doa Diraya terbang pelan menuju langit.
Semoga sampai pada Ayahanda yang telah kembali pulang.

Hanya Fiksi by Bengpri

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Wajah-Wajah Memelas Menjelang Lebaran

Duamata.id - Ada satu fenomena sosial yang selalu muncul setiap menjelang Lebaran....

PSI Bidik 5 Kursi DPRD Kuningan, Sinyal Kekuatan Baru di Peta Politik Lokal

KUNINGAN – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mulai tancap gas menghadapi kontestasi politik...

Prabowo–Gibran Kompak Bayar Zakat di Istana! Pesan Penting Presiden soal Potensi Ekonomi Umat

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberikan...

Jelang Lebaran, Pemerintah Pastikan Stok BBM dan LPG Nasional Aman

JAKARTA – Pemerintah memastikan cadangan energi nasional, khususnya bahan bakar minyak (BBM)...