KUNINGAN – Tak banyak yang tahu, bahwa sosok penting di balik lahirnya Hari Ibu 22 Desember ternyata lahir dari tanah subur Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Namanya Emma Puradiredja, perempuan tangguh, cerdas, dan penuh kasih yang telah menorehkan sejarah besar bagi bangsa Indonesia.
Di tengah gegap gempita memperingati Hari Pahlawan 10 November, kisah perjuangan Emma menjadi pengingat bahwa dari Kuningan, lahir pahlawan yang mengubah wajah bangsa.
Lahir pada 13 Agustus 1902, di keluarga priyayi terdidik, Emma kecil tumbuh dalam lingkungan yang memuliakan ilmu pengetahuan.
Ayahnya, Raden Kardata Poeradiredja, adalah seorang editor di Balai Pustaka sekaligus Redaktur Kepala untuk Bahasa Sunda di Pustaka Rakyat.
Ibunya, Nyi Raden Siti Djariah, mendidik Emma dan saudara-saudaranya agar tidak sekadar menjadi perempuan Jawa Barat biasa, tapi perempuan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Meski berasal dari keluarga terpandang, Emma tumbuh sederhana dan berpikiran maju. Ia bersekolah di HIS Tasikmalaya, lalu melanjutkan ke MULO Salemba, Batavia, di mana semangat kebangsaannya mulai tumbuh.
Di usia remaja, ia sudah aktif di organisasi pelajar Jong Java, wadah anak muda pribumi yang kelak menjadi motor pergerakan nasional.
Sejak muda, Emma percaya bahwa perempuan punya hak yang sama untuk berpendapat, belajar, dan berjuang.
Pada Kongres Pemuda I dan II, ia hadir menyuarakan pentingnya keterlibatan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan.
Tak hanya itu, tahun 1930, Emma mendirikan Pasundan Istri (PASI), organisasi perempuan Sunda yang memperjuangkan hak pilih bagi perempuan serta perlindungan hukum melalui undang-undang pernikahan.
Puncak kiprah Emma terjadi di Bandung tahun 1938, ketika ia memimpin Kongres Perempuan Indonesia III. Dari forum bersejarah itulah, lahir keputusan penting yang kita kenal hingga kini, penetapan 22 Desember sebagai Hari Ibu.
Sebuah keputusan monumental yang menjadikan nama Emma Puradiredja abadi dalam sejarah perjuangan perempuan Indonesia.
Tak berhenti di sana, Emma menorehkan sejarah baru sebagai perempuan pertama yang duduk di dewan legislatif Hindia Belanda (Gemeenteraad).
Di masa Presiden Soekarno, ia dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (1959–1965), dan di era Presiden Soeharto, ia masih aktif sebagai anggota MPRS hingga DPR/MPR hasil Pemilu 1971.
Dari ruang rapat hingga panggung politik, suara perempuan dari Cilimus, Kuningan ini menggema lantang membawa semangat kesetaraan, kemanusiaan, dan cinta tanah air.

Sebagai penghargaan, namanya diabadikan menjadi Rumah Sakit Bersalin Emma Puradiredja di Bandung, lambang kasih sayang seorang ibu sekaligus simbol perjuangan perempuan Indonesia.
Emma wafat pada 19 April 1976 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung.
Namun semangatnya tetap hidup, terutama bagi masyarakat Kuningan. Dari bumi Cilimus yang sejuk, lahir seorang tokoh nasional yang mengajarkan bahwa keberanian dan kecerdasan perempuan Sunda bisa mengguncang sejarah Indonesia.
Kini, setiap kali tanggal 10 November atau 22 Desember tiba, kita patut berbangga bahwa dari Kabupaten Kuningan, daerah yang dikenal sejuk, religius, dan berbudaya, pernah lahir sosok perempuan hebat yang mengubah arah bangsa.
Semangat Emma Puradiredja menjadi inspirasi bagi generasi muda Kuningan untuk terus melangkah:
berani belajar, peduli sesama, dan tak takut bersuara untuk kebaikan.
“Dari Cilimus untuk Indonesia, dari perempuan untuk kemanusiaan.”(Beng).
Sumber : https://edoo.id/
Leave a comment