Di sebuah grup WhatsApp bernama “Bidan Melati”, pagi itu notifikasi tak berhenti berbunyi. Empat bidan desa yang biasanya sibuk mengingatkan jadwal imunisasi, kali ini malah ribut soal foto dan status masing-masing.
Bidan Utara mengirim foto paling duluan. Terlihat dirinya mendampingi seorang perempuan anggun, Bunda Ela, istri bupati, yang sedang menyerahkan kursi roda kepada seorang nenek renta. Captionnya penuh haru:
“Alhamdulillah, hari ini mendampingi Bunda Ela memberikan kursi roda untuk nenek di desa kami. Semoga bermanfaat ”
Belum sempat banyak yang mengomentari, Bidan Timur langsung nyamber:
“Halah, itu mah editan. Hoax! Lha wong hari ini Bunda Ela sama saya, jalan kaki keliling desa, nengok warga yang sakit. Mana mungkin beliau bisa ke tempatmu juga?”
Bidan Utara kaget, lalu protes:
“Lho, kok kamu nuduh saya hoax? Ini nyata, Bu. Saksi hidupnya banyak!”
Percakapan makin rame. Lalu Bidan Barat ikut nimbrung dengan nada kalem tapi penuh tawa:
“Hehehe… kalian berdua ngarang, ya? Hari ini saya jelas-jelas mendampingi Bunda Ela ke posyandu. Saya lihat sendiri beliau ketawa-ketawa sama anak balita. Kalau menurut logika, mana mungkin beliau bisa ke tempat kalian juga?”
Grup makin heboh. Tak lama kemudian, Bidan Selatan kirim foto juga. Ia selfie bersama Bunda Ela di rumah sakit, mendampingi kunjungan seorang warga desa yang sedang dirawat. Caption-nya singkat tapi bikin semua bingung:
“Lha ini? Kalau begitu yang bareng sama saya ini siapa? Kembarannya kah? 😂”
Semua terdiam beberapa detik. Lalu… meledaklah tawa di grup.
“Jangan-jangan Bunda Ela bisa membelah diri!”
“Atau beliau punya ilmu teleportasi?”
“Hahaha… luar biasa, saya kalah!”
Setelah puas saling ledek, obrolan mereka mendadak jadi lebih serius.
Bidan Timur menulis pelan:
“Kalau dipikir-pikir… jauh juga ya, dari utara, timur, barat, sampai selatan. Tapi beliau datang ke semuanya.”
Bidan Barat menimpali:
“Iya, betul. Padahal jalanan kita bukan mulus semua, kadang naik turun, berlumpur, tapi beliau tetap hadir.”
Bidan Utara ikut menambahkan:
“Saya lihat sendiri, wajahnya nggak pernah lelah. Selalu tersenyum, seolah ingin bilang ke warga: ‘Kamu tidak sendirian.’”
Akhirnya Bidan Selatan mengakhiri dengan kalimat penuh rasa kagum:
“Hari ini kita semua jadi saksi… bahwa kepedulian tidak kenal batas wilayah. Bunda Ela hadir di tengah warga, dari nenek yang lumpuh, anak balita di posyandu, pasien di rumah sakit, sampai warga yang sakit di pelosok desa. Jarak memang jauh, tapi hatinya lebih luas daripada peta kabupaten ini.”
Grup kembali hening. Tapi bukan karena sepi, melainkan karena semua terdiam, merasakan kehangatan yang sama.
Dan hari itu, empat bidan desa yang biasanya sibuk berdebat soal jadwal posyandu dan laporan bulanan, akhirnya sepakat satu hal:
Ada banyak cara seorang pemimpin menunjukkan kepedulian. Tapi Bunda Ela memilih cara yang paling sederhana sekaligus paling sulit, hadir di tengah rakyatnya. (anonim).
Leave a comment