KUNINGAN – Tradisi Babarit kembali menggema di Desa Tundagan, Kecamatan Hantara, setelah satu dekade vakum. Momen kebangkitan kearifan lokal ini mendapat perhatian langsung dari Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, yang hadir dalam kegiatan tersebut pada Rabu malam (25/3/2026).
Kehadiran orang nomor dua di Kabupaten Kuningan ini menjadi simbol dukungan nyata pemerintah daerah dalam menjaga tradisi sekaligus mempererat ikatan sosial masyarakat, termasuk para perantau yang pulang kampung.
Acara yang digelar di Aula Balai Desa Tundagan ini juga dihadiri Camat Hantara M. Reza, jajaran Forkopimcam, Kepala Desa Tundagan Sanudi, serta tokoh masyarakat dan agama setempat. Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa kuat, seolah menghidupkan kembali ruh kebudayaan yang sempat terhenti selama sepuluh tahun.
Dalam sambutannya, Wabup Tuti menyampaikan pesan dari Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, yang menegaskan bahwa tradisi Babarit bukan sekadar seremoni, melainkan simbol rasa syukur dan kekuatan pemersatu masyarakat.
“Babarit bukan sekadar tradisi, tetapi pengikat sosial yang memperkuat persatuan warga. Kemajuan desa harus tetap berpijak pada nilai budaya dan kearifan lokal,” ujar Wabup Tuti.
Tak hanya menyoroti aspek budaya, pemerintah daerah juga merespons aspirasi warga terkait pembangunan infrastruktur. Dalam kesempatan tersebut, Wabup menyampaikan komitmen pemda untuk memperbaiki jalan desa, dengan mempertimbangkan aspek teknis seperti kondisi cuaca agar hasil pembangunan lebih optimal dan berkelanjutan.
Kebangkitan tradisi Babarit ini diharapkan menjadi pemantik semangat gotong royong masyarakat Desa Tundagan. Lebih dari itu, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diyakini mampu menjadi fondasi dalam membangun desa yang maju tanpa kehilangan jati diri budaya.
Leave a comment