Literasi untuk Negeri: Perpustakaan “Si Bimo”
Komitmen Bunda Ela Helayati dalam memperkuat budaya literasi di Kabupaten Kuningan kembali terlihat nyata pada Kamis, 20 November 2025.
Hari itu, Bunda hadir di SDN 1 Kadugede untuk meresmikan Perpustakaan “Si Bimo”, sebuah ruang belajar yang diharapkan menjadi motor penggerak minat baca anak-anak sekolah dasar.
Mengusung tema “Literasi untuk Negeri, Inspirasi untuk Generasi”, Bunda Ela membuka acara dengan mengajak seluruh hadirin memanjatkan rasa syukur atas terselenggaranya peresmian ruang literasi yang representatif dan ramah anak.
“Perpustakaan Si Bimo bukan hanya bangunan fisik, tetapi jendela pengetahuan yang akan membantu anak-anak kita membangun imajinasi, memperluas wawasan, dan menumbuhkan karakter,” ujar Bunda Ela dengan penuh keyakinan.
Bunda menekankan bahwa buku dan literasi bukan sekadar alat belajar formal. Lebih dari itu, keduanya adalah jembatan bagi anak-anak untuk mengenal dunia, menumbuhkan empati, dan mengembangkan kreativitas.
Di hadapan kepala sekolah, guru, orang tua, komite sekolah, dan relawan, Bunda Ela memberikan apresiasi tinggi atas kerja keras mereka dalam menghadirkan perpustakaan yang tidak hanya fungsional, tetapi juga menyenangkan bagi anak-anak.
Bunda menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak untuk menciptakan lingkungan belajar yang inspiratif dan ramah anak.
“Kolaborasi ini adalah contoh nyata bahwa ketika guru, orang tua, dan masyarakat bersatu, kita bisa menciptakan ruang yang mendorong anak-anak untuk gemar membaca dan belajar,” tambahnya.
Tak ketinggalan, Bunda Ela memberikan pesan hangat kepada para siswa SDN 1 Kadugede agar memanfaatkan perpustakaan dengan optimal.
Bunda mendorong mereka untuk menjadikan membaca sebagai sahabat, menekankan bahwa melalui buku, mereka bisa menjelajah dunia, memahami hal-hal baru, dan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, kreatif, dan berakhlak mulia.
“Jadikan membaca sebagai sahabat kalian. Dengan buku, kalian bisa menjelajah dunia, mengenal hal-hal baru, dan tumbuh menjadi generasi yang cerdas serta berakhlak mulia,” ucapnya, disambut tepuk tangan hangat para siswa.
Peresmian Perpustakaan “Si Bimo” menjadi bukti nyata bahwa literasi tidak hanya sekadar program atau slogan. Di tangan Bunda Ela, setiap ruang baca adalah ruang inspirasi, ruang harapan, dan ruang untuk membangun masa depan generasi muda Kuningan.
Sejak saat itu, anak-anak SDN 1 Kadugede tidak hanya memiliki perpustakaan baru. Mereka memiliki teman dalam bentuk buku, ruang untuk bermimpi, dan semangat untuk belajar tanpa batas, semua berkat sentuhan kepedulian seorang Bunda Literasi yang hadir dari hati.
Menyemai Masa Depan: Kunjungan ke PAUD Kecamatan Luragung
Pagi itu, Senin, 5 Mei 2025, suasana di Kecamatan Luragung terasa berbeda. Tawa dan langkah kecil anak-anak terdengar riang dari dua lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang dikunjungi oleh Bunda Ela Helayati, Bunda PAUD Kabupaten Kuningan.
Kunjungan pertama berlangsung di Kober Tunas Bangsa, Desa Luragung Landeuh, dilanjutkan ke TK Negeri Bugenvil, Desa Cikaduwetan. Kedatangan Bunda PAUD disambut meriah oleh para guru, orang tua, dan anak-anak yang berseri-seri.
Kehadiran Bunda bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk kepedulian nyata terhadap pendidikan usia dini, fondasi utama pembentukan karakter dan kecerdasan anak.
Dalam sambutannya, Bunda Ela menekankan:
“Investasi terbaik untuk masa depan adalah pendidikan usia dini. Di sinilah pembentukan nilai-nilai, kebiasaan, serta kemampuan dasar anak dimulai. Maka perlu perhatian dan dukungan dari semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.”
Kata-kata itu mengalir dengan lembut, namun penuh makna, membangkitkan semangat para guru dan orang tua yang hadir. Anak-anak pun menampilkan berbagai kreativitas: tarian ceria, lagu-lagu anak, dan pertunjukan sederhana yang memukau.
Setiap langkah dan suara mereka mencerminkan kegembiraan sekaligus rasa percaya diri yang tumbuh dari bimbingan pendidik mereka.
Tidak hanya memberi motivasi, Bunda Ela juga menunjukkan kepedulian nyata terhadap kesehatan anak-anak. Bunda membagikan susu kepada seluruh siswa, menekankan bahwa kecerdasan dan gizi harus berjalan beriringan.
“Kami ingin memastikan anak-anak kita tidak hanya mendapatkan pendidikan yang baik, tetapi juga asupan gizi yang memadai,” tuturnya sambil tersenyum.
Kehadiran beliau juga memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dengan lembaga pendidikan.
Dari kedua PAUD yang dikunjungi, satu hal terasa jelas: perhatian dan kehangatan dari sosok Bunda PAUD menjadi energi positif bagi anak-anak dan guru.
Setiap senyum, setiap interaksi, bahkan setiap pelukan sederhana, meninggalkan pesan bahwa pendidikan usia dini adalah prioritas, dan setiap anak berhak mendapatkan fondasi yang kokoh untuk masa depan mereka.
Kunjungan ini tidak hanya menjadi momen kegembiraan sesaat, tetapi contoh nyata komitmen pemerintah daerah untuk menyiapkan generasi muda yang cerdas, sehat, dan berkarakter.
Dalam mata anak-anak, guru, dan orang tua, Bunda Ela bukan hanya seorang pejabat atau tokoh masyarakat, tetapi teman, inspirator, dan pembimbing yang hadir dari hati.
Sinergi untuk Masa Emas: Kunjungan ke PAUD Kecamatan Darma
Kamis itu, suasana pagi di Kecamatan Darma terasa hangat dan penuh semangat. Anak-anak di Kelompok Bermain (Kober) Karangsari dan TK PGRI Darma tampak riang menyambut kedatangan Bunda Ela Helayati, Bunda PAUD Kabupaten Kuningan, yang hadir bersama rombongan untuk melakukan kunjungan kerja.
Sambutan hangat dari para guru dan anak-anak membuat suasana menjadi akrab sejak awal. Sorak sorai anak-anak, senyum lebar para pendidik, dan tawa yang terdengar di halaman sekolah seolah menegaskan antusiasme mereka terhadap kehadiran Bunda PAUD.
Dalam sambutannya, Bunda Ela menegaskan pentingnya sinergi antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat.
Bunda menekankan bahwa masa emas pertumbuhan anak adalah waktu yang sangat berharga, dan semua pihak perlu berperan aktif untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung perkembangan mereka secara optimal.
“Anak-anak adalah aset masa depan bangsa. Masa emas pertumbuhan mereka harus kita isi dengan kegiatan positif, stimulasi, serta nutrisi yang baik. Salah satunya adalah melalui pendidikan PAUD yang berkualitas dan dukungan gizi yang memadai,” ucapnya dengan lembut namun tegas.
Selain memberikan motivasi, Bunda Ela juga menghadirkan kepedulian nyata melalui pembagian susu kepada seluruh peserta didik. Momen itu menjadi kegembiraan tersendiri bagi anak-anak yang tampak ceria, berebut untuk menerima gelas susu, sambil sesekali tersenyum malu atau melambaikan tangan kepada Bunda PAUD.
“Melalui pembagian susu ini, kami ingin menanamkan kebiasaan hidup sehat sejak dini. Ini merupakan langkah kecil yang membawa dampak besar bagi kesehatan dan perkembangan anak-anak,” tambahnya.
Lebih dari sekadar simbol, kunjungan ini juga menjadi kesempatan bagi Bunda Ela untuk berinteraksi langsung dengan anak-anak dan tenaga pendidik, meninjau fasilitas, serta menyampaikan apresiasi terhadap guru-guru yang telah menciptakan suasana belajar penuh kasih sayang dan stimulasi kreatif.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pembinaan dan monitoring, sekaligus menegaskan bahwa dukungan terhadap pendidikan anak usia dini bukan hanya tanggung jawab sekolah atau pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama, termasuk keluarga dan masyarakat sekitar.
Dengan kehadiran Bunda PAUD yang hangat dan penuh perhatian, anak-anak tidak hanya merasakan kebahagiaan hari itu, tetapi juga mendapatkan energi positif untuk terus belajar, bermain, dan berkembang.
Guru-guru pun terinspirasi untuk semakin berinovasi dalam proses belajar, sedangkan orang tua merasa didukung dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anak mereka.
Kunjungan ini menjadi bukti nyata bahwa literasi, pendidikan, dan gizi berjalan beriringan sebagai pondasi masa depan anak-anak Kuningan, dan bahwa setiap perhatian kecil yang tulus bisa menumbuhkan semangat besar dalam diri mereka.
Menyiapkan Generasi Ramah Lingkungan: Kunjungan ke TK Negeri Pembina Ciloa
Pertengahan Maret 2025, pagi itu halaman TK Negeri Pembina Ciloa dipenuhi tawa riang dan semangat anak-anak. Mereka tampak bersiap menyambut kedatangan Bunda Ela Helayati, Bunda PAUD Kabupaten Kuningan, yang hadir untuk meninjau persiapan sekolah dalam mengikuti Lomba TK Adiwiyata.
Bunda PAUD disambut hangat oleh seluruh warga sekolah. Anak-anak menampilkan tarian dan lagu penyambutan dengan penuh semangat, menunjukkan keceriaan sekaligus kreativitas yang telah dibimbing oleh guru-guru mereka.
Selama kunjungan, Bunda Ela meninjau sarana dan prasarana, mulai dari ruang belajar, taman bermain, hingga sudut-sudut yang dirancang sebagai lingkungan belajar ramah anak dan ramah lingkungan. Beliau tak sekadar melihat, tetapi juga memberikan pujian dan motivasi kepada para guru dan staf.
“Kami sangat mengapresiasi kerja keras seluruh pihak di TK Negeri Pembina dalam mempersiapkan diri untuk Lomba Adiwiyata. Semoga ini menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak kita,” ujar Bunda PAUD dengan senyum hangat.
Kunjungan itu bukan sekadar memeriksa kesiapan lomba, tetapi juga menjadi momen pembinaan dan inspirasi. Anak-anak merasa diperhatikan, guru-guru tergerak untuk terus berinovasi, dan seluruh warga sekolah menyadari bahwa pendidikan tidak hanya tentang nilai akademik, tetapi juga tentang menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.
Bunda Ela menekankan bahwa kegiatan seperti ini menanamkan nilai literasi, kreativitas, dan cinta lingkungan secara bersamaan.
Dengan dorongan dan perhatian nyata dari pemerintah daerah melalui Bunda PAUD, diharapkan TK Negeri Pembina dapat tampil maksimal, sekaligus menjadi contoh bagi TK lain di Kabupaten Kuningan.
Kunjungan ini meninggalkan kesan mendalam: bahwa membangun karakter anak sejak dini adalah tanggung jawab semua pihak, dan bahwa perhatian kecil yang tulus, seperti hadir, meninjau, dan memberi semangat, dapat menjadi energi besar bagi seluruh warga sekolah.
Percakapan yang Menguatkan – Kunjungan ke MTs Negeri Ciniru
Tidak semua perubahan dimulai dari panggung besar.
Kadang, ia lahir dari sebuah percakapan sederhana, dari duduk bersama, dari mendengar tanpa terburu-buru, dari kehadiran yang tulus.
Suasana hangat itu terasa di lingkungan MTs Negeri Ciniru, Kabupaten Kuningan. Tidak ada jarak yang kaku. Tidak ada sekat antara tamu dan tuan rumah.
Yang ada hanyalah pertemuan manusia dengan manusia, yang sama-sama membawa harapan tentang pendidikan.
Hari itu, Bunda Ela Helayati datang bukan untuk memberi arahan panjang, bukan pula untuk sekadar menjalankan agenda kunjungan.
Bunda datang dengan satu tujuan sederhana: mendengar.
Di sebuah ruang pertemuan sekolah, Bunda duduk bersama para guru, kepala sekolah, dan beberapa siswa. Posisi duduknya tidak dibuat berbeda.
Bunda tidak mengambil tempat paling depan. Ia memilih berada di tengah, sejajar, seperti bagian dari mereka.
Percakapan pun dimulai. Awalnya pelan. Sedikit ragu. Seperti ada jarak yang belum sepenuhnya hilang.
Namun Bunda tidak terburu-buru. Bunda membuka ruang dengan cara yang sederhana, menatap, mengangguk, dan memberi waktu.
Dan perlahan, suara-suara itu mulai muncul.
Seorang guru bercerita tentang keterbatasan sarana. Guru lain menyampaikan harapan akan peningkatan kualitas pembelajaran.
Ada pula yang menyentuh hal yang lebih dalam tentang kesejahteraan, tentang semangat yang kadang naik turun, tentang perjuangan yang tidak selalu terlihat.
Bunda mendengarkan semuanya. Tidak memotong. Tidak menyela. Tidak buru-buru memberi jawaban.
Sesekali Bunda mencatat. Sesekali Bunda mengangguk pelan. Di wajahnya, terlihat kesungguhan.
Di momen itulah, percakapan berubah menjadi kepercayaan. “Saya datang bukan untuk memberi janji,” ujarnya kemudian, dengan suara lembut namun tegas, “tapi untuk mendengar dan mencari jalan keluar bersama.”
Ruangan itu hening sejenak. Kalimat itu sederhana, tetapi terasa jujur. Bunda tidak menjanjikan hal besar, tidak menawarkan solusi instan.
Namun justru di situlah kekuatannya, pada kejujuran dan kesediaan untuk berjalan bersama.
“Sekolah adalah tempat mencetak masa depan bangsa,” lanjutnya, “jadi sudah seharusnya kita bergandeng tangan membantu.”
Kata-kata itu tidak disampaikan dengan nada tinggi. Tidak pula dengan retorika yang berlebihan. Namun ia mampu menyentuh ruang yang lebih dalam dari sekadar pikiran.
Para guru mulai lebih terbuka. Mereka tidak lagi berbicara sebagai pihak yang meminta, tetapi sebagai bagian dari solusi.
Mereka menyampaikan gagasan, berbagi pengalaman, bahkan sesekali tersenyum ketika menyadari bahwa mereka didengar.
Salah satu guru, dengan mata yang sedikit berkaca, berkata pelan, “Kami merasa sangat dihargai. Bunda Ela tidak hanya datang berkunjung, tapi benar-benar mendengarkan kami.”
Kalimat itu mungkin singkat. Namun di dalamnya, tersimpan sesuatu yang besar, rasa diakui.
Dan dalam dunia pendidikan, perasaan itu sering kali menjadi bahan bakar yang tidak terlihat, tetapi sangat penting.
Di sudut ruangan, para siswa juga ikut terlibat.
Awalnya mereka diam. Hanya saling melirik, seolah menunggu siapa yang akan berbicara lebih dulu.
Namun Bunda mengajak mereka dengan cara yang berbeda.
Bunda tidak bertanya hal-hal yang berat. Bunda hanya tersenyum dan berkata,
“Siapa yang mau cerita ke Bunda?”
Seorang siswi kelas IX akhirnya mengangkat tangan. Suaranya pelan, sedikit gugup, tetapi jujur. Ia bercerita tentang sekolahnya, tentang harapannya, tentang hal-hal kecil yang ia rasakan setiap hari.
Bunda mendengarkan dengan penuh perhatian.
Bukan sebagai orang dewasa yang memberi penilaian, tetapi sebagai seorang ibu yang ingin memahami.
“Bunda Ela ramah banget,” ujar siswi itu kemudian, dengan senyum malu-malu, “seperti ibu sendiri. Kami bisa cerita tanpa takut.”
Kalimat itu mungkin sederhana, tetapi bagi Bunda Ela, itulah makna dari semua yang ia lakukan. Bahwa kehadirannya bisa membuat anak-anak merasa aman untuk berbicara. Bahwa ada ruang di mana mereka bisa didengar tanpa rasa takut.
Percakapan di MTs Negeri Ciniru hari itu mungkin tidak menghasilkan keputusan besar yang langsung mengubah segalanya.
Namun menghasilkan sesuatu yang lebih mendasar: jembatan. Jembatan antara harapan dan kenyataan, jembatan antara kebutuhan dan kepedulian, jembatan antara suara yang selama ini terpendam dan telinga yang bersedia mendengar.
Sebelum mengakhiri pertemuan, Bunda menyampaikan satu hal yang menjadi refleksi dari seluruh percakapan hari itu.
“Kita tidak bisa membangun pendidikan hanya dengan angka dan data,” ujarnya pelan, “kita harus hadir, mendengar, dan memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan.”
Kalimat itu menggantung di udara. Tidak keras, tidak memaksa. Namun menetap di pikiran, di hati, dan mungkin akan terus diingat jauh setelah pertemuan itu berakhir.
Ketika Bunda Ela meninggalkan sekolah itu, tidak ada seremoni yang berlebihan. Hanya lambaian tangan, senyum, dan rasa hangat yang tertinggal.
Namun bagi warga MTs Negeri Ciniru, kunjungan itu bukan sekadar agenda, tetapi sebuah pengalaman. Pengalaman tentang didengar, dihargai, dan tidak merasa sendiri dalam memperjuangkan pendidikan.
Dan bagi Bunda Ela, pertemuan itu adalah pengingat. Bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari kesediaan untuk duduk bersama dan mendengarkan. Karena dari situlah, segala sesuatu bisa dimulai.
Kehangatan di Halaman Sekolah – Kunjungan ke SMPN 3 Kuningan
Siang itu, halaman SMPN 3 Kuningan berubah menjadi panggung kecil penuh semangat. Suara riang ratusan siswa memenuhi udara, sementara mata mereka berbinar menantikan kedatangan sosok yang telah menjadi akrab di hati mereka.
Ketika seorang guru bertanya dengan nada bercanda, “Siapa bunda kita?” seluruh siswa menjawab serentak, suara mereka menggema kompak:
“Bunda Ela!”
Sorakan itu bukan sekadar spontanitas anak-anak. Itu adalah wujud kepercayaan, kehangatan, dan rasa senang mereka terhadap sosok Bunda Ela Helayati.
Sejak awal kedatangannya, Bunda Ela tidak menjaga jarak. Ia membaur, menyapa satu per satu, menanyakan kabar, dan bahkan bercengkerama dengan siswa layaknya seorang ibu yang tengah bertemu anak-anaknya sendiri.
Kehadirannya menghadirkan rasa nyaman, seolah sekolah itu menjadi ruang keluarga besar yang hangat.
Untuk menambah semarak, Bunda Ela mengajak siswa bermain kuis ringan. Tangan-tangan kecil serentak terangkat, berebut kesempatan menjawab.
Gelak tawa dan sorak sorai pecah di halaman, membuat suasana menjadi hidup. Beberapa siswa beruntung mendapatkan hadiah berupa tas keren yang langsung diberikan oleh Bunda Ela.
“Seneng banget dapat hadiah dari Bunda Ela,” ujar seorang siswa dengan wajah sumringah, memeluk tas barunya dengan gembira.
Namun, momen paling manis justru muncul menjelang kepulangan. Saat Bunda Ela hendak meninggalkan sekolah, ratusan siswa mendekat, memohon untuk berfoto bersama. Ia tersenyum, menunduk, dan dengan sabar melayani permintaan selfie, merangkul bahu anak-anak yang berebut mendekat.
Dalam momen sederhana itu, terlihat jelas bahwa kunjungan Bunda Ela bukan sekadar menghadiri agenda formal. Kehadirannya membawa energi positif, membuat anak-anak merasa dicintai, didengar, dan didukung.
Bunda hadir bukan sebagai tamu, tetapi sebagai sahabat, sebagai sosok yang memberi inspirasi bahwa literasi bukan sekadar kegiatan membaca dan menulis, melainkan pengalaman yang membuat mereka percaya diri dan berani bermimpi.
Ketika langkahnya meninggalkan halaman sekolah, senyum anak-anak dan tawa mereka seolah tertinggal sebagai jejak kecil, tetapi penuh makna.
Kehadiran Bunda Ela di SMPN 3 Kuningan menjadi bukti nyata bahwa perhatian, ketulusan, dan interaksi hangat bisa menyalakan semangat belajar yang tak ternilai harganya.