Duamata.id – Tidak ada yang benar-benar sepi di grup WhatsApp itu.
Namanya sederhana: Orangtua Kadet Unhan.
Anggotanya berasal dari berbagai penjuru Indonesia, dengan berbagai latar belakang profesi Mereka belum pernah saling bertemu. Tetapi ada satu hal yang membuat mereka terasa seperti keluarga.
Anak-anak mereka.
Anak-anak yang beberapa minggu lalu berangkat ke Magelang, mengenakan pakaian loreng untuk pertama kalinya, menjalani Diksarmil yang akan berakhir di penghujung Agustus.
Sejak hari itu, telepon menjadi sunyi.
Tidak ada pesan.
Tidak ada panggilan video.
Tidak ada kabar, selain keyakinan bahwa anak-anak mereka sedang ditempa menjadi pribadi yang lebih kuat.
Setiap pagi, grup itu selalu diawali ucapan yang hampir sama.
“Selamat pagi, Ayah Bunda. Semoga anak-anak kita selalu sehat dan diberi kekuatan.”
Lalu puluhan emotikon tangan berdoa memenuhi layar.
Yang paling ditunggu bukanlah chat.
Melainkan… foto.
Kadang seseorang tiba-tiba menulis,
“Ayah Bunda… saya dapat foto dari Instagram. Baris ketiga sebelah kanan, sepertinya anak kita ada di sana.”
Dalam hitungan detik, puluhan orang memperbesar gambar yang resolusinya bahkan buram.
Mereka memperbesar lagi.
Dicubit layarnya.
Diputar.
Dicermati.
“Itu yang paling belakang bukan ya?”
“Kalau dilihat dari posturnya mirip anak saya.”
“Yang pakai topi agak miring itu kayak anak saya…”
Tak ada yang benar-benar yakin.
Tetapi semua memilih percaya.
Karena rindu memang sering bekerja dengan imajinasi.
Suatu sore, sebuah video berdurasi sebelas detik muncul.
Isinya hanya barisan kadet yang sedang berlari.
Tidak ada wajah yang jelas.
Tidak ada nama.
Hanya suara pelatih dari kejauhan.
Namun grup itu langsung ramai.
“Masya Allah… mereka sehat.”
“Alhamdulillah bisa lihat walau sebentar.”
“Saya ulang videonya sampai belasan kali.”
“Terima kasih yang sudah berbagi.”
Video sebelas detik itu menjadi pengobat rindu untuk ratusan hati.
Malam hari, obrolan berubah lebih pelan.
Seorang ibu menulis,
“Biasanya jam segini anak saya masih minta dibuatkan mi rebus.”
Yang lain membalas,
“Anak saya kalau malam pasti telepon. Sekarang lihat nama kontaknya saja sudah bikin mata basah.”
Ada ayah yang mengaku diam-diam masuk ke kamar anaknya.
Merapikan meja belajar yang sebenarnya sudah rapi.
Mencium bantal yang masih menyimpan aroma anak lelakinya.
Lalu keluar tanpa berkata apa-apa.
Di grup itu tidak ada yang menertawakan cerita seperti itu.
Karena hampir semua pernah melakukannya.
Mereka saling menguatkan.
“Kalau kita rindu, bayangkan anak-anak kita sedang belajar bertahan.”
“Kalau kita menangis, mungkin mereka sedang berjuang menahan lelah.”
“Kalau kita kangen, berarti mereka juga pasti sedang merindukan rumah.”
Setiap hari mereka menghitung.
“Berkurang satu hari lagi.”
“Berkurang satu minggu lagi.”
Kalender di rumah berubah menjadi penanda rindu.
Tidak ada yang mengeluh karena tahu, setiap hari yang berlalu adalah satu langkah anak-anak mereka menuju cita-cita.
Suatu malam, seorang ayah mengirim pesan yang membuat grup mendadak hening.
“Dulu saya yang menggandeng tangannya waktu masuk TK. Sekarang negara yang menggandengnya menjadi calon pemimpin masa depan.”
Tidak lama kemudian, puluhan notifikasi masuk.
Tidak ada perdebatan.
Tidak ada stiker lucu.
Hanya emotikon hati.
Dan doa.
Grup WhatsApp itu memang tidak pernah benar-benar membahas politik, pekerjaan, ataupun hal-hal lain.
Isinya hanyalah kerinduan.
Tentang anak-anak yang sedang belajar menjadi kuat.
Tentang orang tua yang sedang belajar ikhlas.
Karena ternyata, bukan hanya para kadet yang sedang ditempa di Magelang.
Di rumah-rumah yang tersebar di seluruh Indonesia, ada ayah dan ibu yang diam-diam juga sedang menjalani latihan yang sama beratnya.
Latihan melepaskan.
Latihan percaya.
Dan latihan mencintai tanpa bisa memeluk.
Kelak, saat akhir Agustus tiba dan anak-anak itu boleh ditemui dengan langkah lebih tegap dan wajah lebih matang, mungkin itu akan menjadi obat kangen para orang tua di grup ini. Mungkin grup akan perlahan sepi.
Bukan karena kasih sayangnya berkurang.
Melainkan karena kerinduan yang selama ini hanya bisa diketik di layar, akhirnya bisa dipeluk dengan kedua tangan.
Dan setiap kali notifikasi grup itu berbunyi di masa depan, mereka akan selalu ingat…
bahwa pernah ada satu masa ketika sebuah foto buram dan video sebelas detik mampu menjadi obat paling ampuh bagi ratusan hati yang sedang merindukan anak-anak hebatnya.
Cerpen oleh Mang Duta dari sebuah kerinduan


Leave a comment