Home Cerpen Korpri, Rumah yang Seharusnya Hangat untuk Semua

Korpri, Rumah yang Seharusnya Hangat untuk Semua

Share
Share

Di sebuah ruangan sederhana, para ASN duduk melingkar. Ada yang datang membawa map tebal, ada yang membawa laptop, ada juga yang membawa wajah lelah karena semalaman masih menyelesaikan laporan dinas.

Di depan ruangan, tema besar terpampang gagah.

“ASN Bersatu, KORPRI Kuat Menyatu, Mewujudkan Kuningan Melesat.”

Kalimat itu terdengar megah.

Tapi pagi itu, seorang ASN tua di pojok ruangan justru diam memandangi tangannya sendiri.

Tangannya mulai keriput.
Jarinya mulai gemetar.
Padahal dulu, tangan itu yang paling cepat mengetik surat dinas.
Paling rajin datang pagi.
Paling sering pulang terakhir.

Saat sambutan demi sambutan bergema tentang profesionalisme, inovasi, integritas, dan pelayanan publik, lelaki itu seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

“Dulu saya masuk jadi ASN cuma ingin hidup sederhana… ternyata perjalanan ini jauh lebih panjang dari yang saya kira.”

Ia ingat puluhan tahun hidup dalam rutinitas absen.
Mengurus masyarakat yang marah.
Menghadapi komplain.
Kadang dimaki padahal tidak salah.
Kadang disalahkan padahal hanya menjalankan aturan.

Namun yang paling melelahkan ternyata bukan pekerjaan.

Melainkan ketika sesama ASN mulai saling asing.

Ada yang dulu satu meja makan, setelah naik jabatan jadi susah ditemui.
Ada yang dulu bercanda di kantin, setelah punya ruangan sendiri pintunya lebih sering tertutup.
Ada juga yang paling semangat bicara “soliditas ASN”, tapi bahkan tak hafal nama pegawai honorer yang setiap hari menyapu kantornya.

Padahal seragam mereka sama.

Korpri itu sebenarnya bukan soal logo di dada.
Bukan sekadar kartu anggota.
Bukan hanya foto pengurus yang dipasang paling besar di backdrop acara.

Korpri seharusnya rumah besar ASN.

Rumah besar.

Artinya bukan hanya ruang nyaman bagi mereka yang duduk di depan meja rapat.
Bukan hanya hangat bagi mereka yang namanya selalu disebut dalam sambutan.
Bukan hanya hidup saat pengurus berkumpul dan kamera dinyalakan.

Tetapi juga tempat pulang bagi ASN biasa.
Yang namanya jarang dipanggil.
Yang tidak punya jabatan.
Yang tetap bekerja meski tak pernah masuk dokumentasi.

Sebab di banyak tempat, rumah besar itu kadang tanpa sadar berubah seperti rumah mewah.

Megah di depan.
Ramai di ruang tamu.
Tapi dapurnya dingin.

Semua bicara kebersamaan.
Tapi yang benar-benar merasa memiliki hanya segelintir orang.

Lelaki tua itu menunduk pelan.

Ia tahu…organisasi akan selalu terlihat indah di spanduk.

Tetapi nilai sebenarnya terlihat saat ada anggotanya sakit.
Saat ada yang pensiun lalu mulai dilupakan.
Saat ada pegawai kecil kesulitan hidup dan diam-diam berharap ada yang mengetuk pintunya.

Karena solidaritas paling jujur bukan lahir dari rapat kerja.

Melainkan dari kepedulian kecil yang tidak masuk notulen.

Mungkin itulah kenapa pagi itu Bupati berbicara tentang manfaat.
Tentang rumah bersama.
Tentang organisasi yang jangan hanya hidup saat iuran dipotong tiap bulan.

Sebab organisasi tanpa rasa memiliki cuma akan menjadi rutinitas administrasi yang pandai membuat acara, tetapi lupa merawat hati anggotanya.

Rapat kerja pagi itu akhirnya bukan sekadar membahas digitalisasi kartu anggota.
Bukan hanya soal aplikasi iuran.
Bukan sekadar wacana aset dan gedung.

Tetapi tentang pertanyaan sederhana:

“Masihkah Korpri benar-benar menjadi rumah bagi semua ASN?”

Sebab teknologi bisa dibangun.
Gedung bisa direnovasi.
Aset bisa dikembangkan.

Tapi rasa diperlakukan sebagai keluarga…

itu yang paling sulit diwujudkan.

Di akhir acara, para peserta mulai berdiri.
Sebagian sibuk foto bersama.
Sebagian buru-buru pulang mengejar agenda lain.

Lelaki tua tadi berjalan pelan menuju parkiran.

Lalu ia tersenyum kecil.

Bukan karena hasil rapat.

Tetapi karena pagi itu ia sadar…

ASN yang hebat bukan yang paling tinggi jabatannya.

Melainkan yang tetap manusia, meski bertahun-tahun hidup di tengah kekuasaan.

Cepen oleh Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Peuyeum Ketan, Tawa Hangat, dan Pin Duta: Saat Bang Ucok Baba Jatuh Hati pada Kuningan

KUNINGAN — Suasana hangat dan penuh canda terasa di Pendopo Kabupaten Kuningan...

Pemkab Kuningan Gandeng Swasta Kelola Lapang Randu, Disiapkan Jadi Kawasan Publik Terintegrasi

KUNINGAN – Pemerintah Kabupaten Kuningan resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerja sama...

Kuliah Umum KPK di UNIKU: Bangun Generasi Berintegritas Menuju Indonesia Emas 2045

KUNINGAN — Semangat membangun budaya integritas dan pendidikan antikorupsi terus digaungkan di...

Raker I KORPRI Kuningan 2026: Perkuat Soliditas ASN dan Dorong Organisasi Lebih Modern

KUNINGAN – Dewan Pengurus (DP) KORPRI Kabupaten Kuningan menggelar Rapat Kerja (Raker)...