Duamata.id – Di sebuah sore yang biasa saja, di gang sempit yang akrab dengan suara sandal jepit dan obrolan ringan, Dudung duduk di bangku kayu depan rumah kontrakannya. Tangannya sibuk meremas kantong celana yang isinya lebih banyak harapan daripada uang.
Dari kejauhan, suara yang selalu punya cara untuk menghidupkan kenangan masa kecil itu terdengar:
“Baaaasooo… baso…!”
Dudung menelan ludah. Bukan lapar yang paling menyiksa, tapi keinginan yang tak bisa ditebus. Ia menoleh ke samping. Di situ ada Rian, sahabatnya sejak zaman sekolah, orang yang sering bilang, “Tenang, kita mah bareng-bareng.”
“Yan…” Dudung berbisik pelan, setengah ragu.
“Kenapa?”
“Itu… baso lewat.”
“Iya, terus?”
Dudung menarik napas, menurunkan gengsi yang tinggal separuh.
“Boleh… minta dibayarin nggak?”
Rian tersenyum santai, seperti orang yang tak pernah kekurangan.
“Udah, stop aja dulu tukangnya.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk menyalakan sedikit harapan. Dudung berdiri, melambaikan tangan dengan semangat yang sudah lama tak ia rasakan.
“Bang! Baso! Sini dulu!”
Tukang baso berhenti. Gerobaknya berderit pelan, seolah ikut menyaksikan sesuatu yang akan jadi pelajaran.
Dudung menoleh ke Rian, mencari konfirmasi atau mungkin sekadar penguat. Tapi bangku di sampingnya kosong.
Rian hilang.
Bukan pergi jauh. Hanya… tidak ada di saat yang paling dibutuhkan.
“Pesan, Kang?” tanya tukang baso ramah.
Dudung terdiam. Senyumnya kaku, seperti dipinjam dari orang lain. Tangannya kembali meremas kantong celana, kali ini bukan mencari uang, tapi mencari cara untuk tetap terlihat punya harga diri.
“Ehm… nggak jadi, Bang. Salah orang kayaknya.”
Tukang baso mengangguk maklum, lalu pergi. Suaranya menjauh, meninggalkan Dudung dengan rasa yang lebih pahit dari kuah baso yang bahkan belum sempat ia cicipi.
Ia duduk kembali. Kali ini lebih dalam, lebih sunyi.
Beberapa menit kemudian, Rian muncul lagi dari arah gang sebelah, sambil mengunyah permen.
“Tuh kan, udah lewat?” katanya enteng.
Dudung menatapnya. Tidak marah. Tidak juga benar-benar kecewa. Hanya ada satu hal yang pelan-pelan runtuh: kepercayaan.
“Yan,” ucapnya pelan, “kalau nggak mau bayarin… nggak apa-apa. Serius.”
Rian mengangkat bahu. “Ya terus?”
Dudung tersenyum tipis.
“Tapi jangan suruh aku berhentiin tukang baso.”
Hening.
Kadang, yang membuat seseorang merasa kecil bukan karena dia tak punya uang. Tapi karena dia sudah mengumpulkan keberanian untuk berharap, lalu dibiarkan berdiri sendirian di tengah jalan.
Sejak hari itu, Dudung belajar satu hal sederhana:
lebih baik menahan lapar daripada harus menahan malu yang dititipkan orang lain.
Dan tentang Rian, ia tetap sahabat. Hanya saja, tidak semua sahabat layak diajak menghentikan “tukang baso” dalam hidup kita.
Cerpen oleh Mang Duta
Leave a comment