Duamata.id – Pagi itu, Vano berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya.
Dasi dirapikan. Jas ditepuk pelan. Senyum dicoba beberapa kali yang tegas, yang hangat, yang “merakyat tapi tetap berwibawa.”
Ia tahu, hari ini bukan sekadar hari kerja.
Hari ini adalah panggung.
Di luar, mahasiswa akan datang membawa spanduk, megafon, dan kemarahan.
Di dalam, atasannya menunggu loyalitas.
Dan di tengah-tengah itu, Vano melihat peluang.
“Pak, massa sudah mulai berkumpul.”
Stafnya melapor dengan nada waspada.
“Biarkan,” jawab Vano tenang. “Nanti saya yang temui.”
“Langsung, Pak?”
Vano mengangguk.
“Ya. Mereka itu yunior saya. Pasti lebih cair kalau saya yang turun.”
Ia tidak menambahkan kalimat berikutnya:
Dan atasan pasti melihat itu sebagai inisiatif.
Beberapa menit kemudian, telepon dari atasannya masuk.
“Vano, jangan sampai mereka masuk ke dalam. Kita tidak bisa meladeni semua tuntutan jalanan.”
“Tenang, Pak,” jawab Vano mantap. “Saya akan jadi pagar.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih halus.
“Sekaligus jembatan.”
Di ujung sana terdengar dengusan kecil.
“Yang penting jangan sampai mereka menyentuh saya.”
Telepon ditutup.
Vano tersenyum tipis.
Baginya, itu cukup jelas.
Pagar di depan. Nama di belakang.
Ia melangkah keluar.
Suara orasi langsung menyergap.
“Turunkan kebijakan yang merugikan rakyat!”
“Jangan bungkam suara kami!”
Spanduk bergoyang. Mata-mata muda menatap tajam.
Vano mengangkat tangannya, memberi isyarat tenang.
“Teman-teman,” suaranya lantang, terlatih. “Saya di sini.”
Beberapa mahasiswa saling pandang.
Ada yang mengenali.
Ada yang tidak.
Dika maju ke depan.
“Pak Vano.”
Nada suaranya datar. Tidak hangat. Tidak juga hormat berlebihan.
Hanya… formal.
Sedikit asing.
“Saya paham apa yang kalian perjuangkan,” kata Vano, membuka dengan gaya lama yang ia hafal di luar kepala. “Dulu saya juga di posisi kalian.”
Beberapa mahasiswa tersenyum tipis.
Bukan karena setuju.
Lebih seperti mengenali pola.
“Silakan sampaikan aspirasi. Nanti saya yang teruskan ke pimpinan.”
Kalimat itu meluncur mulus.
Terlalu mulus.
Seperti sudah sering dipakai.
Dika tidak langsung menjawab.
Ia menatap Vano beberapa detik.
Lalu berkata pelan, tapi jelas:
“Kami tidak butuh perantara, Pak.”
Angin seolah berhenti sebentar.
Vano tersenyum, masih mencoba mengendalikan panggung.
“Ini bukan soal perantara. Ini soal mekanisme. Saya bagian dari sistem”
“Justru itu,” potong Dika.
Suara di belakang mulai menguat.
“Kami ingin langsung berdialog dengan yang membuat kebijakan.”
“Bukan dengan yang membela kebijakan.”
Kalimat itu jatuh seperti batu.
Tidak keras.
Tapi tepat.
Wajah Vano sedikit menegang.
“Jangan salah paham,” katanya, mulai mempertahankan posisi. “Saya di sini untuk membantu kalian.”
“Dengan menyaring suara kami?” tanya seorang mahasiswa lain.
“Atau… menghaluskan supaya enak didengar atasan?”
Beberapa tawa kecil terdengar.
Bukan tawa bahagia.
Lebih ke arah satir yang pahit.
Vano mencoba kembali mengambil kendali.
“Teman-teman, saya ini senior kalian. Percayalah”
“Justru karena itu, Pak,” potong Dika lagi. “Kami belajar dari senior.”
Ia melangkah satu langkah lebih dekat.
“Tapi kami juga belajar… kapan suara mulai berubah arah.”
Sunyi.
Kali ini benar-benar sunyi.
Di belakang, aparat mulai gelisah.
Situasi tidak sesuai skenario.
Tidak ada keributan fisik.
Tapi ada sesuatu yang lebih sulit ditangani:
Penolakan yang tenang.
“Kami tidak ingin suara kami diwakili,” lanjut Dika.
“Kami ingin didengar langsung.”
Ia menatap lurus ke mata Vano.
“Kalau Bapak benar-benar di pihak kami, tolong buka pintu. Bukan jadi pintu.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi cukup untuk merobohkan semua naskah yang sudah Vano siapkan sejak pagi.
Untuk pertama kalinya hari itu, Vano tidak punya jawaban siap pakai.
Ia melihat ke belakang.
Gedung itu berdiri kokoh.
Di dalamnya, atasannya menunggu… aman.
Di depannya, mahasiswa berdiri… menuntut.
Dan dirinya?
Tiba-tiba terasa tidak di tengah.
Melainkan… dihalangi.
“Pak, bagaimana?” bisik seorang staf.
Vano menelan ludah.
Ia tahu, jika ia membiarkan mereka masuk, ia kehilangan wajah di depan atasan.
Jika ia menahan, ia kehilangan wajah di depan masa lalu.
Dan mungkin… di depan dirinya sendiri.
Akhirnya, ia memilih.
“Silakan sampaikan ke saya,” katanya, kembali ke posisi awal. Lebih kaku sekarang.
“Kami akan teruskan sesuai prosedur.”
Kalimat aman.
Kalimat pagar.
Dika mengangguk pelan.
Bukan tanda setuju.
Lebih seperti… mengerti.
“Baik, Pak,” katanya.
Ia berbalik.
Mengangkat megafon.
“Teman-teman, kita lanjutkan aksi. Tuntutan tetap: audiensi langsung dengan pimpinan.”
Sorakan meledak.
Lebih keras dari sebelumnya.
Lebih tegas.
Hari itu, Vano tetap berdiri di tempatnya.
Sebagai pagar.
Yang ia kira jembatan.
Sore harinya, ia dipanggil atasannya.
“Bagus,” kata sang atasan singkat. “Kamu bisa mengendalikan situasi.”
Vano tersenyum.
Mendapat apa yang ia inginkan.
Pengakuan.
Malamnya, ia membuka grup alumni.
Pesan-pesan berdatangan.
“Aksi tetap lanjut.”
“Kita tolak mediasi.”
“Tidak mau suara kita dipelintir.”
Tidak ada satu pun yang menyebut namanya.
Tidak ada ucapan terima kasih.
Tidak ada pengakuan.
Vano menutup ponselnya perlahan.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang sederhana tapi pahit:
Pagar tidak pernah diingat.
Jembatan selalu dilalui.
Tapi yang berdiri di antara keduanya yang mencoba menjadi keduanya sekaligus demi kepentingan sendiri seringkali… hanya dilewati tanpa disapa.
Dan hari itu, Vano tidak menjadi jembatan.
Ia hanya pagar yang berharap dipuji karena berdiri.
Hanya Cerpen oleh Mang Duta
Leave a comment