Duamata.id – Di gedung itu, kursi lebih setia daripada manusia Ia tidak pernah protes. Tidak pernah lelah. Tidak pernah merasa bersalah. Ia hanya menunggu siapa pun yang duduk di atasnya.
Di sebuah ruangan yang lampunya terlalu terang untuk menyembunyikan kecemasan, seorang pria duduk sendiri.
Namanya tidak penting. Di dunia seperti ini, nama bisa diganti, tapi jabatan… itu yang dipertahankan mati-matian.
Ia menatap ponselnya. Notifikasi datang seperti bisikan pelan, tapi menusuk.
“Kalau terbukti, kita proses.”
“Partai tidak akan melindungi.”
Kalimat-kalimat itu seperti palu kecil yang dipukul berulang di kepalanya.
Ia menghela napas panjang.
“Terbukti…” gumamnya. “Kata yang sederhana, tapi bisa menghapus semuanya.”
Ia tahu, di luar sana, orang-orang sedang menunggu. Bukan untuk membelanya. Tapi untuk melihatnya jatuh.
Dan di dunia politik, jatuhnya seseorang bukan tragedi.
Itu kesempatan.
Di tempat lain, di ruangan yang sama terang tapi dengan suasana berbeda, seorang pria lain duduk dengan punggung tegak.
Wajahnya tenang, tapi matanya tak bisa menyembunyikan sesuatu yang lain, harapan yang ditahan-tahan.
Ia membuka berkas, menutupnya lagi. Membuka ponsel, lalu menguncinya kembali.
Ia mencoba terlihat biasa saja.
Padahal dalam kepalanya, satu kalimat berulang seperti doa yang tidak pernah diucapkan keras-keras:
“Kalau dia benar diganti…”
Ia berhenti di situ.
Tidak sopan melanjutkan kalimat itu, bahkan dalam hati sendiri.
Tapi pikirannya melanjutkan juga.
“…aku yang menggantikan.”
Ia menegakkan tubuhnya, seolah kursi di depannya sudah memanggil namanya. Padahal belum tentu.
Belum.
Malam itu, keduanya sama-sama sulit tidur.
Yang satu terjaga karena takut kehilangan.
Yang satu terjaga karena takut berharap terlalu jauh.
Ironis, pikir semesta, mereka berada di kapal yang sama, tapi satu sedang sibuk menutup lubang, sementara yang lain diam-diam mengukur ukuran pelampung.
Keesokan harinya, gedung itu kembali ramai.
Orang-orang berjalan cepat, membawa map, membawa kabar, membawa kemungkinan.
Di lorong yang panjang, dua pria itu hampir berpapasan.
Hampir.
Yang satu menunduk, menghindari tatapan.
Yang satu menatap lurus, tapi tidak benar-benar melihat.
Mereka tahu satu sama lain.
Mereka juga tahu posisi masing-masing.
Dan lebih dari itu, mereka tahu satu hal yang sama:
Kursi itu hanya satu.
Di sebuah rapat tertutup, kata-kata besar diucapkan.
“Integritas.”
“Etika.”
“Marwah lembaga.”
Semua orang mengangguk.
Beberapa benar-benar percaya.
Beberapa hanya pandai berpura-pura percaya.
Di sudut ruangan, pria pertama menggenggam tangannya erat. Di sisi lain, pria kedua menahan napas tanpa sadar.
Setiap kalimat yang keluar seperti undian yang belum diumumkan hasilnya.
Waktu berjalan lambat, seperti sengaja memberi ruang bagi rasa cemas dan harap untuk tumbuh bersamaan.
Di luar gedung, masyarakat berbicara tentang moral.
Di dalam gedung, orang-orang berbicara tentang mekanisme.
Di luar, ini soal benar dan salah.
Di dalam, ini soal siapa berikutnya.
Sore itu, hujan turun pelan.
Pria pertama berdiri di depan jendela. Untuk pertama kalinya, ia melihat kursinya dari kejauhan.
“Kau akan tetap di sana,” katanya pelan. “Dengan atau tanpa aku.”
Ia tersenyum tipis. Bukan karena ikhlas. Tapi karena akhirnya mengerti.
Bahwa yang selama ini ia jaga mati-matian…
tidak pernah benar-benar miliknya.
Di ruangan lain, pria kedua juga berdiri di depan jendela.
Ia membayangkan dirinya duduk di kursi itu. Mengatur agenda. Mengambil keputusan. Disalami banyak orang.
Ia menarik napas panjang.
“Kalau memang waktunya,” bisiknya.
Ia tidak berani menyebut “kalau dia jatuh.”
Karena di dunia ini, kata-kata bisa kembali seperti bumerang.
Beberapa hari kemudian, kabar itu akhirnya datang.
Singkat. Tegas. Tanpa emosi.
Seperti biasa.
Di gedung itu, tidak ada yang benar-benar terkejut.
Karena semua orang sudah menunggu.
Sebagian dengan doa agar tidak terjadi.
Sebagian dengan doa agar segera terjadi.
Kursi itu akhirnya kosong.
Tapi hanya sebentar.
Karena dalam hitungan waktu yang tidak lama, seseorang datang, merapikan jasnya, lalu duduk dengan hati-hati.
Seolah kursi itu rapuh.
Padahal tidak.
Yang rapuh… selalu orangnya.
Di luar gedung, hujan sudah berhenti.
Orang-orang kembali beraktivitas seperti biasa.
Berita berganti. Isu berganti.
Hanya satu yang tidak pernah berubah:
Di dunia ini, tidak ada kursi yang benar-benar kosong.
Dan di setiap kesalahan seseorang, selalu ada orang lain yang diam-diam menyiapkan diri, bukan untuk memperbaiki, tapi untuk menggantikan.
Karena di sana, kehilangan satu orang bukan akhir cerita.
Itu hanya cara lain
untuk memulai ambisi orang berikutnya.
Hanya Cerpen oleh Mang Duta
Leave a comment