Home Cerpen Ada Sedikit Buat Takjil

Ada Sedikit Buat Takjil

Share
Share

Duamata.id – Menjelang Lebaran, bukan hanya pejabat yang gelisah menunggu notifikasi. Di sisi lain, ada juga yang menunggu dengan harap-harap cemas, bukan untuk memberi, tapi untuk diingat.

Rudi duduk di teras rumahnya yang sederhana, ditemani segelas teh hangat yang sudah dingin karena terlalu lama dibiarkan.

HP-nya tergeletak di samping, layarnya sesekali menyala, tapi bukan dari orang yang ia tunggu.

Ia bukan pejabat. Bukan pula staf penting. Hanya seseorang yang dulu sering “berada di sekitar” kekuasaan.

Pernah meliput, pernah membantu, pernah jadi penghubung, pernah juga sekadar jadi orang yang “dipanggil kalau dibutuhkan”.
Sekarang? Ya… masih ada di kontak. Itu saja.

Sore itu, azan Magrib tinggal menunggu waktu. Grup WhatsApp mulai ramai.

“Selamat berbuka puasa 🙏” “Mohon maaf lahir batin ya” “Semoga berkah semuanya”

Rudi membaca, tersenyum tipis. Ia tahu, pesan seperti itu dikirim ke semua orang. Tidak ada yang spesial. Tidak ada yang personal.

Yang ia tunggu bukan itu.
Tiba-tiba, notifikasi muncul.
Dari nomor yang ia kenal.
Ia langsung duduk tegak.

Pesannya sederhana:
“Mas, lagi di mana? Kalau sempat, mampir ke kantor ya. Ada sedikit bingkisan.”

Rudi terdiam beberapa detik. Dibacanya lagi. Pelan-pelan.

Bukan soal “bingkisan”-nya. Bahkan sebelum melihat isinya pun, ia sudah tahu, ini bukan tentang besar kecilnya.
Ini tentang… diingat.

Ia membalas cepat, berusaha tetap santai:
“Siap, Pak. Nanti saya ke sana.”

Tak lama, pesan lain masuk. Dari nomor berbeda.
“Mas Rudi, kirim norek ya. Ada sedikit buat beli takjil.”

Rudi tersenyum. Kali ini lebih lebar.
Ia menatap layar cukup lama, seolah-olah ingin memastikan bahwa itu benar-benar untuknya, bukan salah kirim.

Di luar, anak-anak kecil berlarian sambil membawa petasan. Di dalam, hati Rudi terasa hangat, bukan karena nominal yang belum ia lihat, tapi karena satu hal sederhana:
Namanya masih ada di ingatan seseorang.

Ia teringat masa-masa dulu, saat notifikasi seperti ini datang hampir setiap hari menjelang Lebaran. Dulu, ia bahkan tidak sempat membalas satu per satu.

Sekarang, satu pesan saja bisa ia kenang sampai malam.

Rudi akhirnya paham sesuatu.
Di dunia yang penuh basa-basi ini, ada dua jenis pesan menjelang Lebaran.

Yang pertama: “Mohon maaf lahir batin.”
Dikirim ke semua orang.
Yang kedua: “Mas, lagi di mana?”
Dikirim hanya ke yang masih dianggap ada.

Ia bangkit, mengambil jaket, dan bersiap ke kantor. Bukan karena ingin cepat-cepat mengambil bingkisan, tapi karena ia ingin memastikan satu hal, bahwa hubungan itu belum sepenuhnya selesai.

Di jalan, ia melihat banyak orang lalu lalang. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Semua membawa cerita.

Dan di tangannya, HP itu kembali bergetar.
Satu pesan lagi masuk:
“Mas, jangan dilihat dari jumlahnya ya. Ini hanya tanda ingat.”

Rudi tersenyum kecil.
Ia mengetik balasan:
“Justru itu yang paling berharga, Pak.”

Karena pada akhirnya, ia tahu…
Yang ditunggu bukanlah angka di rekening.
Bukan pula isi bingkisan.

Tapi notifikasi sederhana itu, yang diam-diam berkata:
“Kamu masih kami ingat.”

Hanya Cerpen by Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Disdikbud Kuningan Pastikan Solusi Iuran TASPEN Guru PPPK, Skema Baru Mulai Juni 2026

KUNINGAN – Polemik iuran TASPEN bagi guru PPPK di Kabupaten Kuningan akhirnya...

Jembatan 85 Meter di Ciwaru Mulai Dibangun, Akses 3 Dusun di Kuningan Segera Terbuka

KUNINGAN — Harapan ratusan warga di Kecamatan Ciwaru akhirnya mulai terwujud. Pembangunan...

Roblox Akhirnya Tunduk pada Aturan RI, 23 Juta Anak Jadi Alasan Utama

Duamata.id - Indonesia kembali bikin gebrakan di dunia digital. Lewat Peraturan Pemerintah...

Dedi Mulyadi Rekomendasikan Susi Pudjiastuti Jadi Komisaris Bank BJB, Publik Menanti Gebrakan

Bandung - Nama Susi Pudjiastuti kembali menjadi sorotan. Kali ini, bukan karena...