Home Cerpen Pa, Ada Petunjuk…

Pa, Ada Petunjuk…

Share
Share

Duamata.id – Menjelang Lebaran, suasana di kantor-kantor pemerintahan berubah drastis. Bukan karena semangat pelayanan publik meningkat, melainkan karena satu hal yang jauh lebih sakral dari rapat koordinasi, notifikasi WhatsApp.

Pak Rahmat, seorang pejabat eselon yang sudah kenyang pengalaman, mulai gelisah sejak memasuki minggu terakhir Ramadan. Bukan karena puasa, tapi karena HP-nya mulai sering bergetar dengan pesan yang dia hafal betul polanya.

“Pa, ada petunjuk…”

Kalimat itu pendek. Sopan. Tidak mengancam. Tapi cukup membuat denyut nadi naik dua kali lipat.
Awalnya, Pak Rahmat mencoba santai. Ia berpikir, mungkin hanya pesan biasa.

Tapi setelah membuka chat, ternyata di bawahnya ada kalimat lanjutan:

“Mohon arahan terkait THR untuk teman-teman 🙏”
Pak Rahmat menarik napas panjang. Ia tahu, “petunjuk” di sini bukan soal arah jalan pulang kampung.

Hari berikutnya, pesan serupa datang lagi. Dari nomor yang berbeda.

“Pa, ada petunjuk…” “Pa, mohon bimbingannya…” “Pa, kira-kira bagaimana sikap kita…”

Semua pesan itu sopan. Sangat sopan. Terlalu sopan, malah. Seolah-olah mereka sedang meminta wejangan hidup, padahal yang dimaksud cuma satu, THR.

Pak Rahmat mulai menyusun strategi bertahan hidup.
Ia mengganti nada dering menjadi mode senyap. Ia juga mengubah foto profil menjadi gambar ketupat dengan caption: “Sedang fokus ibadah.”

Tapi sayangnya, para pengirim pesan tidak mudah menyerah. Mereka tahu jam aktif, tahu kapan beliau online, bahkan tahu kapan beliau sekadar membaca tanpa membalas.

Suatu malam, saat sedang menikmati kolak pisang, notifikasi itu muncul lagi.

“Pa, ada petunjuk…”

Pak Rahmat menatap layar cukup lama. Lalu ia membalas, dengan hati-hati:
“Petunjuk terbaik adalah keikhlasan.”

Centang dua. Biru.
Lima menit kemudian, balasan datang:
“Siap, Pa. Jadi nominalnya ikhlas ya, Pa?”
Pak Rahmat hampir tersedak.

Di kantor, suasana tak kalah menarik. Para staf mulai saling bertukar kode.
“Sudah kirim petunjuk ke atas?” “Sudah. Tinggal menunggu wahyu turun.”

Ada juga yang lebih kreatif.
“Jangan langsung minta, pakai kata ‘petunjuk’. Biar terdengar religius.”

Seolah-olah THR adalah bagian dari ritual spiritual, bukan sekadar tradisi tahunan yang penuh makna terselubung.

Pak Rahmat akhirnya menyerah. Ia mengumpulkan beberapa orang kepercayaannya.

“Kita ini pejabat,” katanya serius. “Harus memberi contoh.”

Semua mengangguk khidmat.
“Contohnya, Pak?” tanya salah satu.

Pak Rahmat diam sejenak. Lalu berkata pelan, “Memberi… tapi jangan sampai memberi contoh buruk.”

Ruangan hening. Semua paham, tapi pura-pura tidak.
Malam takbiran tiba. HP Pak Rahmat kembali berbunyi.

“Pa, ada petunjuk terakhir…”

Kali ini, ia tidak membalas. Ia hanya tersenyum tipis, lalu mematikan layar.

Di luar, gema takbir berkumandang. Di dalam, gema “petunjuk” masih terngiang.

Dan Pak Rahmat akhirnya paham, bahwa di kalangan pejabat, Lebaran bukan hanya tentang saling memaafkan.

Tapi juga tentang seni memahami kalimat sederhana:
“Pa, ada petunjuk…”
Yang artinya bisa panjang sekali.

Hanya Cerpen by Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Dari Lereng Darma ke Dunia, Kopi Kuningan Siap Go Internasional

KUNINGAN – Aroma kopi segar dari lereng Darma tak lagi sekadar dinikmati...

Bukan Sekadar Halal Bihalal, Wabup Tuti Tegaskan Peran Perempuan Kunci Peradaban di Milad ke-21 Salimah

KUNINGAN – Suasana hangat dan penuh makna terasa dalam peringatan Halal Bihalal...

Gerak Cepat Tangani Pergeseran Tanah, Tim PUTR Turun Sondir Tanah di Ciwiru–Padamatang

KUNINGAN – Ancaman pergeseran tanah di jalur Ciwiru–Padamatang membuat Pemerintah Kabupaten Kuningan...

Apresiasi Atlet Kuningan, Bupati Soroti Minimnya Anggaran hingga Ancaman Atlet Hijrah

KUNINGAN — Pemerintah Kabupaten Kuningan memberikan apresiasi kepada para atlet berprestasi dalam...