Home Cerpen Wajah-Wajah Memelas Menjelang Lebaran

Wajah-Wajah Memelas Menjelang Lebaran

Share
Share

Duamata.id – Ada satu fenomena sosial yang selalu muncul setiap menjelang Lebaran. Bukan kemacetan, bukan diskon besar-besaran, tapi wajah para suami yang berubah, tampak lesu dengan muka memelas.

Mereka bisa ditemukan di mana saja, di depan rak sepatu, di dekat troli penuh belanjaan, atau duduk di bangku supermarket sambil menatap kosong seperti sedang mempertanyakan keputusan hidup yang pernah mereka ambil.

Hari itu, di sebuah pusat perbelanjaan, Budi termasuk salah satunya.

Ia berdiri memegang dua kotak sepatu.
“Menurut kamu yang mana bagus?” tanya istrinya.

Budi menatap sepatu itu lama. Bukan karena ia sedang menilai estetika, tapi karena ia tahu pertanyaan ini jebakan.
“Yang… ini,” jawabnya hati-hati.

Istrinya langsung menggeleng.
“Ah kamu tuh gak ngerti. Yang ini lebih elegan.”

Budi mengangguk. Dalam hati ia berkata, kalau sudah tahu elegan kenapa tadi nanya?

Namun dalam pernikahan, ada pertanyaan yang sebenarnya bukan untuk dijawab.
Itu hanya formalitas agar suami merasa dilibatkan dalam proses demokrasi yang hasilnya sudah diputuskan.

Belanja Lebaran sebenarnya adalah olahraga ekstrem bagi para suami.

Pertama, uji fisik.

Budi sejak tadi sudah membawa enam kantong plastik, dua dus sirup, dan satu anak yang mulai rewel. Tangannya mulai pegal, tapi perjalanan masih panjang.

Karena istrinya tiba-tiba berkata,
“Eh di supermarket sebelah lebih murah seribu.”

Seribu.

Sebuah angka kecil bagi ekonomi negara, tapi sangat berarti bagi harga diri diskon ibu-ibu.

Akhirnya mereka pindah supermarket.
Parkir di tempat baru: Rp2.000.

Budi mencoba menghitung dalam hati.
Hemat seribu, keluar dua ribu.

Tapi Budi sudah menikah cukup lama untuk tahu: logika ekonomi tidak berlaku saat berburu diskon.

Di dalam supermarket kedua, istrinya berhenti mendadak.
“Eh ini minyak diskon!”

Budi melihat labelnya.
Potongan Rp1.000.

Istrinya langsung mengambil tiga.
“Kenapa tiga?” tanya Budi.
“Kan diskon.”

Penjelasan yang begitu sederhana, namun sangat kuat secara ideologis.

Di sudut lain supermarket, terlihat kumpulan suami duduk di bangku seperti posko pengungsian korban belanja Lebaran.

Salah satunya berkata pelan,
“Mas, sudah berapa toko?”
“Empat.”
“Masih lanjut?”
“Katanya mau cek yang di ujung jalan. Diskonnya beda lima ratus.”

Mereka terdiam.
Bukan karena lelah saja, tapi karena mereka sadar satu hal, perjalanan ini tidak akan selesai sampai semua diskon di kota diperiksa.

Yang paling berat sebenarnya bukan mengangkat belanjaan Tapi menjawab pertanyaan yang jawabannya selalu salah.

“Bagus yang merah atau marun?”
“Motif ini terlalu ramai gak?”
“Kalau dipakai Lebaran cocok gak?”

Jika suami menjawab jujur, biasanya akan dianggap tidak peka.
Jika suami menjawab asal, akan dianggap tidak perhatian.

Jadi sebagian besar suami akhirnya memilih jawaban paling aman dalam sejarah pernikahan:
“Yang kamu pilih aja bagus.”

Kalimat ini sudah menyelamatkan jutaan rumah tangga.

Di kasir, struk belanja mulai keluar seperti kertas ujian nasional.
Panjang.
Sangat panjang.

Istri Budi tersenyum puas.
“Alhamdulillah, tahun ini hemat banget.”

Budi melihat total belanja yang bisa membiayai liburan kecil ke pantai.
Tapi ia tetap tersenyum.

Karena ia sadar, menjelang Lebaran ada satu hal yang tidak pernah berubah:
Para istri akan berburu diskon seolah sedang menyelamatkan ekonomi keluarga.
Dan para suami akan berdiri di sampingnya dengan wajah memelas…
seperti staf magang yang ikut rapat penting tapi tidak tahu sebenarnya sedang membahas apa.

Namun anehnya, setiap tahun mereka tetap ikut lagi.
Mungkin karena cinta.
Atau mungkin…..entahlah.

Hanya cerpen by Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Dari Lereng Darma ke Dunia, Kopi Kuningan Siap Go Internasional

KUNINGAN – Aroma kopi segar dari lereng Darma tak lagi sekadar dinikmati...

Bukan Sekadar Halal Bihalal, Wabup Tuti Tegaskan Peran Perempuan Kunci Peradaban di Milad ke-21 Salimah

KUNINGAN – Suasana hangat dan penuh makna terasa dalam peringatan Halal Bihalal...

Gerak Cepat Tangani Pergeseran Tanah, Tim PUTR Turun Sondir Tanah di Ciwiru–Padamatang

KUNINGAN – Ancaman pergeseran tanah di jalur Ciwiru–Padamatang membuat Pemerintah Kabupaten Kuningan...

Apresiasi Atlet Kuningan, Bupati Soroti Minimnya Anggaran hingga Ancaman Atlet Hijrah

KUNINGAN — Pemerintah Kabupaten Kuningan memberikan apresiasi kepada para atlet berprestasi dalam...