Di sebuah kecamatan kecil yang selalu riuh setiap tanggal 25 November, hiduplah seorang guru honorer bernama Pak Sumarna.
Usianya 41 tahun, tapi semangatnya masih seperti mahasiswa yang baru lulus, lulus idealisme, bukan lulus uji kompetensi, karena yang itu belum tentu lulus.
Setiap pagi Pak Sumarna berangkat ke sekolah dengan motor tua yang lebih sering batuk daripada murid kelas 1 ketika musim hujan.
Gajinya… ah, jangan tanya. “Seikhlasnya pemerintah,” begitu kata para pejabat setiap rapat koordinasi. Tapi keikhlasan pemerintah, entah kenapa, selalu saja kurang dari harga bensin.
Kadang Pak Sumarna berpikir: Sayangnya namanya guru. Andai saja namanya “buruh,” mungkin hidupnya bisa lain.
Bayangkan, kalau suatu hari ia bangun bukan sebagai guru honorer, tapi sebagai “buruh harian pendidikan”—pasti bisa ikut organisasi buruh yang tiap hari buruh selalu kompak menuntut kenaikan upah.
Organisasi buruh itu punya suara lantang. Mereka protes. “Menaikkan upah adalah harga mati!”
Sementara organisasi guru… ah, guru. Mereka sibuk menyiapkan spanduk dan panggung megah untuk peringatan Hari Guru.
Lalu menunjukkan betapa banyak massa yang hadir, bukan untuk menuntut gaji, tapi untuk menunjukkan kepada para penguasa bahwa guru masih bisa dikumpulkan tanpa harus dibayar lembur.
“Lihat, Pak. Massa guru kami banyak sekali,” kata seorang petinggi organisasi guru dengan bangga.
“Luar biasa,” jawab pejabat sambil tersenyum. “Ini bukti guru itu solid.”
Solid apa?
Solid menahan diri untuk tidak menuntut.
Sementara itu, Pak Sumarna berada di barisan belakang, menahan lapar karena uang sakunya dipakai untuk beli kertas fotokopi.
Suatu hari, di ruang guru, teman sejawatnya, Bu Ratri, berkeluh kesah sambil merapikan tumpukan RPP dan modul:
“Marna… kalau guru bisa nuntut naik gaji kayak buruh, mungkin hidup kita bisa naik kelas.”
Pak Sumarna hanya tersenyum getir.
“Masalahnya kita dikasih panggung, bukan hak. Dikasih tepuk tangan, bukan kesejahteraan.”
Bu Ratri tertawa, walau matanya sedikit berkaca-kaca.
“Besok Hari Guru, Marna. Katanya akan ada upacara besar lagi. Pak Bupati datang.”
“Kasih sambutan lagi?”
“Katanya begitu.”
“Isinya pasti sama: Guru adalah pilar bangsa.”
Mereka tertawa bersama. Tawa yang terdengar seperti tangis yang pakai masker.
Keesokan harinya, upacara berlangsung megah. Panggung tinggi, kursi VIP berderet, spanduk besar bertuliskan:
SELAMAT HARI GURU: PAHLAWAN TANPA TANDA… TANDA-TANDA NAIK GAJI
Para pejabat memberi pidato panjang. Kata-katanya manis, lebarnya melebihi janji kampanye.
“Guru adalah pelita.”
“Guru adalah pahlawan.”
“Guru adalah fondasi bangsa.”
Pak Sumarna mendengar semuanya dengan khidmat. Karena itu saja yang bisa didengarkan, bukannya pengumuman kenaikan gaji, tentu saja.
Ketika acara hampir selesai, ia tiba-tiba terbayang lagi:
Andaikan saja namanya bukan guru…
Ia membayangkan berdiri bersama ribuan buruh yang bersuara bulat:
“Kami menuntut upah layak!”
Dan tuntutan itu benar-benar dibahas, dinegosiasikan, bukan diminta untuk dipahami lalu dilupakan.
Tapi ia sadar, guru sudah terlalu lama dibentuk untuk bersabar. Terlalu sering diberi gelar mulia agar tidak meminta imbalan duniawi.
Pada akhir acara, semua guru diberi bingkisan. Sebuah mug bertuliskan:
TERIMA KASIH GURUKU
Padahal guru yang memberi, guru pula yang menerima.
Pak Sumarna tersenyum. Bukan karena senang, tapi karena satir hidupnya semakin rapi.
Malam harinya, ia menulis di buku catatannya:
“Sayangnya namanya guru. Profesi yang harus suci, tapi kenyataan hidupnya tak pernah diberkahi cukup.
Buruh bisa menuntut karena mereka dianggap pekerja.
Guru tak bisa menuntut karena mereka dianggap malaikat.
Padahal kami manusia, yang butuh makan, bukan hanya penghargaan.”
Ia menutup buku itu dengan hati hangat, bukan dendam. Karena meski satir, ia tetap mencintai murid-muridnya.
Di dunia yang penuh ironi, ia tetap memilih menjadi cahaya.
Meski cahayanya redup, meski pelitanya sering kehabisan minyak.
Dan begitulah nasib guru seperti Pak Sumarna.
Pahlawan tanpa tanda jasa,
tapi selalu diberi upacara.
Kalau saja…
kalau saja namanya bukan guru.
Hanya Fiksi by Bengpri
Leave a comment