KUNINGAN – Semangat literasi, kepedulian lingkungan, dan persahabatan lintas negara berpadu hangat dalam kegiatan GAYA SEMESTA (Gelar Karya, Seremonial Ending of Peace Corps Volunteer Program, serta Menanam Sastra dan Alam) yang digelar di SMP Negeri 2 Kuningan, Selasa (5/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung meriah ini dihadiri langsung oleh Dian Rachmat Yanuar dan menjadi bagian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional serta Hari Bumi Tahun 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Kuningan meluncurkan buku karya kolektif siswa berjudul In Another Life yang lahir dari program Literasi Sakura (Satu Karya Kolektif Buku Karangan Siswa). Tak hanya itu, Bupati juga meresmikan gerakan Gema Samapta (Gerakan Menanam Seribu Tanaman Pot Bunga) sebagai bentuk nyata kepedulian sekolah terhadap pelestarian lingkungan.
Suasana haru juga terasa saat sekolah melepas relawan Peace Corps, Cassandra atau yang akrab disapa Miss Case, setelah kurang lebih dua setengah tahun mengabdi mendampingi siswa dan guru dalam penguatan kemampuan bahasa Inggris.
Dalam sambutannya, Bupati Dian menyampaikan apresiasi atas dedikasi yang telah diberikan selama bertugas di Kabupaten Kuningan.
“Kontribusi Miss Cassandra tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai inspirasi bagi siswa untuk berani tampil di tingkat global,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi lahirnya buku karya siswa yang dinilai menjadi bukti bahwa budaya literasi di sekolah terus tumbuh dan berkembang.
“Semangat menulis dan berkarya seperti ini harus terus dijaga agar menjadi budaya positif di lingkungan pendidikan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala SMP Negeri 2 Kuningan, Ariyanto menjelaskan bahwa gerakan Gema Samapta merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam mendukung program Adiwiyata dan pendidikan berwawasan lingkungan.
“Kami menanam seribu tanaman dalam pot sebagai upaya menghadirkan lingkungan sekolah yang hijau dan asri, sekaligus menanamkan nilai kepedulian terhadap alam kepada para siswa,” jelasnya.
Melalui GAYA SEMESTA, SMP Negeri 2 Kuningan tidak hanya menghadirkan panggung karya dan seremoni perpisahan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pendidikan dapat tumbuh dari perpaduan literasi, budaya, dan kecintaan terhadap lingkungan. (Bengpri).
Leave a comment