Hidup sering kali mengajarkan bahwa yang paling berharga bukanlah apa yang kita miliki, tetapi apa yang kita berikan. Dan setiap langkah yang tulus, sekecil apa pun, akan meninggalkan jejak kebaikan bagi orang lain.
Bunda sering merenung, betapa waktu berjalan begitu cepat. Seolah baru kemarin Bunda menjadi seorang gadis kecil di Kuningan, belajar mengenal arti kerja keras dari ayah dan kelembutan hati dari ibu.
Kini, di usia yang semakin matang, Bunda berdiri di titik di mana perjalanan hidup terasa seperti mozaik indah, tersusun dari pengalaman, cinta, pengorbanan, dan pengabdian.
Menulis catatan ini, Bunda tidak ingin bercerita tentang keberhasilan, tetapi tentang proses menjadi manusia yang belajar untuk terus bermanfaat.
Karena bagi Bunda, perempuan itu bukan hanya sosok yang kuat, tetapi juga yang mampu memeluk, mengasihi, dan menggerakkan.
Ketika Bunda menoleh ke belakang dan melihat perjalanan hidup ini, Bunda hanya bisa tersenyum haru. Betapa banyak nikmat Allah SWT yang seringkali tak Bunda sadari.
Betapa banyak tangan baik yang membantu, dan betapa banyak pelajaran berharga yang menguatkan langkah Bunda hingga hari ini.
Bunda lahir dari keluarga sederhana, tumbuh dengan nilai-nilai kerja keras, kejujuran, dan kasih. Bunda belajar bahwa hidup bukan tentang seberapa tinggi kita naik, tapi seberapa banyak kita bisa menunduk untuk membantu orang lain.
Dan pelajaran itu yang selalu Bunda bawa ke mana pun Bunda melangkah, baik saat berkarier, menjadi istri, ibu, maupun saat dipercaya memegang berbagai amanah di tengah masyarakat.
Menjadi “bunda” bagi banyak orang adalah panggilan hati. Bunda tidak ingin hanya dikenal karena jabatan, tapi karena kehadiran Bunda bisa menghadirkan rasa hangat, seperti pelukan seorang ibu bagi yang membutuhkan.
Dalam setiap kegiatan sosial, Bunda selalu berpesan kepada diri sendiri: “Datanglah dengan hati, pulanglah dengan cinta.”
Karena sejatinya, pengabdian tanpa cinta hanya akan menjadi rutinitas. Namun pengabdian dengan cinta sekecil apa pun, akan menjadi cahaya bagi banyak jiwa.
Bunda sering ditanya, apa yang menjadi sumber kekuatan dalam menjalani semua ini ?
Jawaban Bunda sederhana: doa, keluarga, dan keyakinan.
Doa yang tak pernah putus dari orang tua dan masyarakat.
Keluarga yang selalu menjadi sandaran dan penyemangat. Serta keyakinan bahwa setiap langkah yang dilakukan dengan tulus, pasti akan menemukan jalannya menuju kebaikan.
Kini, ketika amanah datang silih berganti, sebagai Ketua TP PKK, Ketua Dekranasda, Bunda Literasi, Ketua LKKS, Bunda Posyandu, Bunda Ketapang, Bunda Toleransi, Bunda PAUD dan lainnya, Bunda tak pernah menganggapnya sebagai beban.
Semua itu adalah kesempatan untuk membaktikan cinta. Karena Bunda percaya, di balik setiap jabatan ada tanggung jawab moral untuk mendengarkan, memahami, dan melayani. Bunda ingin terus menjadi Bunda untuk semua. Bunda yang hadir bukan karena kewajiban, tapi karena cinta.
Bunda yang mampu merangkul perbedaan, mendengarkan keluh kesah, dan menyalakan semangat bagi mereka yang mulai lelah. Bunda yang tidak hanya memimpin dengan kata-kata, tapi dengan keteladanan dan kasih.
Di akhir perjalanan menulis kisah ini, Bunda hanya ingin meninggalkan satu pesan sederhana bagi siapa pun yang membaca:
“Jadilah cahaya, sekecil apa pun. Karena di tengah gelapnya dunia, satu lilin yang menyala bisa menjadi harapan bagi banyak orang.”
Dan jika suatu saat langkah Bunda berhenti, Bunda berharap bukan nama Bunda yang diingat, tapi jejak cinta dan kebaikan yang pernah Bunda tanamkan di hati banyak orang.
Sebab bagi Bunda, hidup yang berarti bukan tentang berapa lama kita hidup, tapi seberapa dalam kita meninggalkan kebaikan.
Terima kasih kepada semua yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini, keluarga, sahabat, masyarakat, dan setiap jiwa yang pernah bersentuhan dengan langkah Bunda.
Kalian semua adalah bagian dari doa Bunda setiap hari. “Semoga langkah kecil ini, menjadi amal besar di sisi-Nya.”
Hj. Ela Helayati