Home BAB 5 – Bunda Untuk Semua

BAB 5 – Bunda Untuk Semua

Dari kedekatan dengan masyarakat, lahirlah peran yang tidak pernah direncanakan sebelumnya yaitu menjadi “Bunda” bagi banyak orang. Sebutan itu tidak datang dari jabatan, tetapi dari rasa.

Dari cara Bunda hadir. mendengar, dan memahami. Melalui berbagai kegiatan, Bunda menemukan ruang yang sangat luas untuk berbuat.

Bunda tidak datang sebagai pemimpin yang memberi arahan dari jauh. Bunda datang sebagai bagian dari mereka. Duduk bersama para ibu, berbincang tanpa jarak, mendengar tanpa menghakimi.

Di posyandu, Bunda melihat bagaimana perhatian kecil bisa berdampak besar. Seorang ibu yang didampingi dengan baik akan melahirkan generasi yang lebih sehat.

Di kegiatan perempuan, Bunda melihat kekuatan yang luar biasa. Perempuan-perempuan yang mungkin tidak banyak bicara, tetapi memiliki keteguhan yang luar biasa dalam menjalani kehidupan.

Bunda belajar bahwa kekuatan tidak selalu harus terlihat, tetapi selalu terasa. Bunda mulai menguatkan peran Perempuan, bukan dengan kata-kata besar, tetapi dengan pendekatan sederhana yaitu memberi ruang, memberi semangat, dan memberi kepercayaan.

Perlahan, kehadiran Bunda menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Bunda tidak ingin hanya sekadar hadir dalam acara, tetapi Bunda ingin selalu hadir dalam hati.

Dan dari situlah Bunda memahami bahwa pengabdian yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa menyentuh kehidupan orang lain.

Ketulusan bagi Bunda tidak berhenti di lingkup rumah.
Ketika suami tercinta dipercaya mengemban amanah sebagai Bupati Kuningan, Bunda tahu tanggung jawab kami berdua ikut bertambah. Bukan hanya terhadap keluarga, tapi juga terhadap masyarakat yang telah menitipkan harapan.

Bunda melangkah bukan untuk menjadi bayangan di belakangnya, tetapi untuk menjadi penerang yang berjalan sejajar.

Bunda percaya, perempuan memiliki kekuatan yang lembut namun nyata, kekuatan yang bisa mengubah suasana, menyembuhkan luka, dan menumbuhkan semangat di sekitar.

Dalam perjalanan ini, Bunda dipercaya memegang beberapa amanah penting, di antaranya sebagai:

  • Ketua TP PKK Kabupaten Kuningan
  • Ketua Dekranasda Kabupaten Kuningan
  • Ketua Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS)
  • Pembina Posyandu Kabupaten Kuningan
  • Bunda Literasi Kabupaten Kuningan
  • Bunda Ketahanan Pangan
  • Bunda Toleransi
  • Bunda PAUD
  • Dan amanah-amanah lainnya

Bagi Bunda, setiap jabatan itu tidak pernah dipandang sebagai gelar, tetapi sebagai ladang amal. Bagi Bunda, jabatan hanyalah sarana untuk menebar kebaikan. Yang membuatnya bermakna adalah sejauh mana kita bisa hadir dan memberi manfaat.

Bunda berusaha untuk selalu turun langsung ke lapangan menemui kader PKK, para pengrajin, para ibu di Posyandu, anak-anak sekolah, hingga masyarakat di pelosok desa.

Bunda ingin mendengar langsung apa yang mereka rasakan, apa yang mereka butuhkan, dan bagaimana kami bisa hadir dengan solusi yang nyata.

“Jabatan itu amanah. Yang penting bukan seberapa tinggi posisi kita, tapi seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan.”

Kalimat itu bukan sekadar nasihat, tapi prinsip yang Bunda tanam dalam setiap langkah. Bunda tidak ingin hanya hadir dalam acara seremonial, tetapi ingin memastikan setiap program yang dijalankan benar-benar menyentuh hati dan kebutuhan rakyat.

Sebagai Ketua TP PKK, Bunda fokus pada penguatan keluarga, peningkatan kesejahteraan ibu dan anak, serta pembentukan karakter melalui pola asuh yang berlandaskan cinta dan nilai moral.


Sebagai Ketua Dekranasda, Bunda ingin membuka ruang bagi para pengrajin lokal untuk naik kelas, agar karya mereka tak hanya indah dipandang, tetapi juga bernilai ekonomi tinggi.

Melalui LKKS, Bunda belajar bahwa kepedulian sosial bukan tentang memberi dalam jumlah besar, tetapi tentang hadir dengan hati yang tulus.

Menjadi Pembina Posyandu membuat Bunda semakin paham betapa pentingnya peran ibu-ibu kader yang bekerja dengan penuh cinta tanpa pamrih, memastikan generasi masa depan tumbuh sehat dan kuat.


Sebagai Bunda Literasi, Bunda berusaha menanamkan semangat membaca, menulis, dan berpikir kritis bagi anak-anak dan remaja, karena Bunda yakin, literasi adalah jembatan menuju masa depan yang lebih baik.

Dan di setiap langkah pengabdian apapun, Bunda tak pernah merasa bekerja sendirian. Bunda dikelilingi oleh orang-orang hebat, para kader, pengrajin, guru, tenaga kesehatan, relawan sosial, dan masyarakat yang tak pernah berhenti bergerak demi kebaikan bersama.

Kadang, ketika lelah mulai terasa, Bunda menenangkan diri dengan satu keyakinan, bahwa setiap kebaikan, sekecil apa pun, akan menemukan jalannya untuk kembali.


Dan selama kita melangkah dengan niat yang tulus, Tuhan akan menuntun setiap langkah itu ke arah yang penuh berkah.

Kiprah Sebagai Ketua TP-PKK Kabupaten Kuningan

Hari itu, Selasa, 11 Maret 2025, menjadi salah satu momen yang tak akan pernah Bunda lupakan. Di Gedung Dibaleka, Kota Depok, di hadapan Ibu Ketua TP PKK Provinsi Jawa Barat, Ibu Siska Gerfianti, Bunda resmi dilantik sebagai Ketua Tim Penggerak PKK, Pembina Posyandu, dan Ketua Dekranasda Kabupaten Kuningan masa bakti 2025–2030.

Pelantikan ini dilaksanakan serentak se-Provinsi Jawa Barat dan dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat, Bapak Dedi Mulyadi, para kepala daerah, serta para Ketua TP PKK kabupaten/kota. 

Di antara keramaian itu, Bunda melihat sosok yang paling berarti dalam perjalanan Bunda, suami tercinta, Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si.

Tatapannya tenang, seolah memberi pesan: “Lakukan dengan hati, seperti yang selalu kamu ajarkan pada keluarga kita.”

Pelantikan itu bukan sekadar seremonial. Di sana, Bunda merasakan getar tanggung jawab yang besar.

PKK bukan hanya tentang program, melainkan tentang kehidupan sehari-hari masyarakat tentang ibu yang ingin anaknya sehat, tentang kader yang rela berjalan jauh dari rumah ke rumah, tentang posyandu yang menjadi jantung pelayanan dasar desa.

Ketika Ibu Siska dalam sambutannya menegaskan bahwa

“PKK dan Posyandu adalah ujung tombak pelayanan masyarakat,” hati Bunda tersentuh.

Bunda teringat wajah-wajah para kader yang Bunda temui di pelosok desa, mereka yang bekerja dengan cinta tanpa pamrih.

Bunda tahu, tugas Bunda adalah mendengar, menemani, dan memperkuat mereka. Pelantikan itu Bunda anggap sebagai amanah kehidupan, bukan sekadar jabatan.

 “PKK bukan sekadar organisasi perempuan. PKK adalah gerakan hati yang lahir dari kasih, tumbuh dari kepedulian, dan berbuah dalam perubahan nyata bagi keluarga dan masyarakat.”

Ketika Bunda dipercaya menjadi Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kuningan, Bunda tidak menganggapnya sebagai jabatan, tetapi sebagai amanah.

Amanah untuk melayani, mendengar, dan hadir di tengah masyarakat, khususnya kaum perempuan dan keluarga di seluruh pelosok Kuningan. Sejak awal, Bunda selalu percaya bahwa kekuatan sejati pembangunan dimulai dari keluarga.

Keluarga adalah madrasah pertama bagi anak-anak, tempat cinta diajarkan, nilai-nilai ditanamkan, dan karakter dibentuk.

Dan di sanalah peran seorang ibu begitu besar, bukan hanya sebagai pengasuh, tapi juga sebagai pendidik, motivator, bahkan penggerak perubahan.

Bunda melihat PKK sebagai ruang pengabdian yang indah. Di sana, para perempuan saling menguatkan, saling belajar, dan tumbuh bersama untuk menciptakan keluarga yang sejahtera dan mandiri.

Bunda sering berkata kepada para kader,

“Kita mungkin tidak bisa membantu semua orang, tapi setiap langkah kecil kita, jika dilakukan dengan hati, pasti berarti bagi seseorang.”

Sebagai Ketua PKK, Bunda berusaha membawa semangat baru. PKK yang bergerak dengan hati, bekerja dengan cinta, dan berorientasi pada kebermanfaatan.

Bersama para kader di tingkat desa hingga kabupaten, kami menghidupkan berbagai program seperti Posyandu, Dasawisma, Gerakan Tanam Pangan, dan PKK Peduli

Stunting.

Bagi Bunda, setiap kegiatan bukan hanya angka dalam laporan, tapi kisah nyata tentang kerja keras dan kepedulian.

“PKK bukan tentang siapa yang paling berperan, tapi tentang seberapa banyak cinta yang kita bagi untuk sesama.”

Bunda bangga dengan para kader PKK di seluruh Kuningan. Mereka adalah perempuan tangguh yang bekerja tanpa pamrih, tanpa banyak sorotan, tapi berdampak besar.

Mereka adalah pelita yang menerangi jalan perubahan di desanya masing-masing. Bunda belajar dari mereka tentang ketulusan dan semangat gotong royong yang masih hidup di tengah modernitas zaman.

Dalam setiap langkah, Bunda selalu mengingat pesan sederhana: “Gerakan PKK harus hidup dalam keseharian masyarakat, bukan di atas kertas, tetapi di hati mereka.”

Itulah sebabnya Bunda mendorong agar kegiatan PKK lebih adaptif, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Mulai dari peningkatan ekonomi keluarga melalui UMKM perempuan, edukasi kesehatan, hingga program literasi digital bagi ibu rumah tangga.

Menjadi Ketua PKK mengajarkan Bunda satu hal penting bahwa setiap perubahan besar selalu dimulai dari hal-hal kecil, dan dari hati yang tulus.

Bunda percaya, perempuan yang berdaya bukan hanya mengubah keluarganya, tapi juga mengubah wajah bangsanya.

Bagi Bunda, PKK bukan sekadar tanggung jawab, melainkan perjalanan cinta, cinta kepada keluarga, cinta kepada sesama, dan cinta kepada tanah kelahiran, Kuningan tercinta.

Selama masih ada kesempatan, Bunda ingin terus berjalan bersama para kader PKK, menyemai kebaikan, dan membangun kebahagiaan dari rumah ke rumah, dari hati ke hati.

Kita mungkin tidak bisa membuat dunia sempurna, tapi bersama PKK, kita bisa membuat kehidupan sedikit lebih hangat dan lebih berarti.

“Menjadi pemimpin itu bukan tentang memberi perintah, tapi tentang hadir, mendengarkan, merangkul, dan menyentuh hati orang lain.”

Sejak awal menerima amanah sebagai Ketua TP PKK Kabupaten Kuningan, Bunda berjanji pada diri sendiri, Bunda ingin hadir bukan hanya sebagai ketua, tetapi juga sebagai sahabat bagi para kader dan masyarakat. 

Bunda ingin memastikan bahwa setiap langkah PKK benar-benar dirasakan manfaatnya oleh mereka yang paling membutuhkan.

Bunda masih ingat dengan jelas sebuah kunjungan di Desa Pajambon, Kecamatan Kramatmulya. Hari itu, matahari belum terlalu tinggi ketika Bunda tiba di Posyandu desa.  Suasana begitu hidup, tawa anak-anak berpadu dengan suara ramah para kader yang sibuk melayani warga. 

Bunda melihat betapa tulusnya mereka bekerja, menjaga ibu hamil, menimbang balita, memberi penyuluhan gizi, dan menyapa satu per satu dengan senyum yang tidak pernah pudar.

Bunda menghampiri seorang ibu muda yang sedang menimang anaknya. Dengan lembut, Bunda bertanya tentang kesehatan bayinya, lalu Bunda gendong si kecil itu sebentar, tubuh mungilnya terasa hangat di pelukan Bunda. 

Saat itulah Bunda kembali tersadar bahwa pengabdian sejati sering kali berwujud sederhana, sebuah pelukan, sebuah sapaan, sebuah perhatian kecil yang datang dari hati.

“Posyandu bukan sekadar tempat pelayanan kesehatan,” Bunda katakan kepada para kader hari itu, “tapi juga rumah kasih Bundang. 

Di sini, kita menanam nilai-nilai kepedulian, membangun keluarga yang sehat dan bahagia, serta menumbuhkan generasi yang kuat.

Bunda selalu percaya bahwa keberhasilan PKK tidak diukur dari seberapa banyak rapat yang kita gelar atau laporan yang kita susun, melainkan dari seberapa dalam kita mampu menyentuh kehidupan masyarakat. 

Setiap kunjungan ke desa-desa adalah pengingat bagi Bunda bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hal-hal kecil. Dari senyum kader di posyandu, dari pelukan seorang ibu pada anaknya, dari semangat gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat Kuningan.

 “Jika keluarga sehat dan cerdas, maka masyarakat akan kuat dan sejahtera.”

Kalimat itu bukan sekadar slogan bagi Bunda, tetapi napas perjuangan yang terus Bunda bawa dalam setiap langkah pengabdian.

LKKS : Cinta yang Menggerakkan, Menebar Kasih dan Menguatkan Kepedulian

Ada satu hal yang selalu Bunda yakini sejak dulu, bahwa kebahagiaan sejati tidak akan pernah bisa diraih hanya dengan memiliki, tetapi dengan memberi.

Dan setiap kali Bunda berada di tengah masyarakat mendengar keluh kesah, melihat perjuangan mereka bertahan dalam kesederhanaan hati ini seakan diingatkan kembali untuk tidak pernah berhenti peduli.

Ketika amanah baru datang untuk memimpin Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Kabupaten Kuningan masa bakti 2025–2030, Bunda tidak menganggapnya sebagai jabatan, melainkan panggilan hati. 

Sebuah ladang pengabdian yang mempertemukan niat tulus dengan kenyataan bahwa masih banyak saudarasaudara kita yang membutuhkan uluran tangan.

Bunda teringat hari itu, Rabu, 12 Maret 2025, di Pendopo Kuningan saat Bapak Bupati Kuningan, Dr. Dian Rachmat Yanuar, M.Si, melantik Bunda bersama seluruh pengurus LKKS. 

Di hadapan tamu undangan, Bunda mengucap janji dalam hati: “Amanah ini harus menjadi jembatan kasih, bukan sekadar seremonial.”

Bunda menyampaikan kepada para pengurus, mari kita bergandeng tangan, bulatkan tekad untuk mengabdi dan berbakti melalui kegiatan sosial yang nyata.

Bagi Bunda, kerja sosial bukan sekadar kegiatan bagi-bagi bantuan. Ia adalah proses menumbuhkan empati, menyentuh hati, dan menyalakan semangat di tengah masyarakat yang mungkin hampir padam.

Ketika Bapak Bupati berpesan agar LKKS menjadi pembeda di tengah hiruk-pikuk, menciptakan program yang membumi dan dirasakan langsung oleh masyarakat, pesan itu menjadi pegangan yang meneguhkan langkah Bunda. Sebab, kebermanfaatan yang nyata tidak pernah lahir dari kemewahan, melainkan dari ketulusan.

Bunda tahu, jalan pengabdian ini panjang dan penuh tantangan. Namun selama masih ada hati yang ingin berbagi, tangan yang mau bekerja, dan cinta yang tak lelah tumbuh.

Bunda yakin, Kuningan akan terus melesat dalam kesejahteraan dan kasih sayang.

Di setiap langkah sosial yang Bunda ambil, Bunda selalu mengingat satu doa sederhana:

“Ya Allah, jadikan Bunda perantara kebaikan-Mu untuk sesama.”

“Setiap langkah kecil dalam membantu sesama adalah doa yang berjalan. Kadang kita tak tahu siapa yang lebih, yang menolong atau yang ditolong.”

Bunda selalu percaya, kesejahteraan sosial bukan hanya tentang bantuan, tetapi tentang membangun jembatan empati.

Tentang memastikan tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang merasa sendiri dalam menjalani hidup yang kadang berat.

Bunda ingin datang, menatap, menyapa, dan merasakan langsung denyut kehidupan mereka. Bagi Bunda, tangan yang mengulurkan bantuan harus juga membawa kehangatan hati.

 “Mari kita bergandeng tangan, bulatkan niat untuk berbakti kepada masyarakat”

Itulah kalimat yang selalu Bunda sampaikan kepada para pengurus LKKS.

Karena Bunda percaya, ketika cinta menjadi dasar kerja sosial, maka setiap program akan hidup dan setiap langkah akan bermakna.

LKKS bagi Bunda adalah wadah untuk menghadirkan harapan. Kami berusaha menyentuh banyak lapisan, mulai dari anak yatim, kaum dhuafa, lansia, hingga penyandang disabilitas.

Bunda selalu menekankan kepada tim bahwa setiap program sosial harus berjalan dengan empati, bukan sekadar formalitas.

Bunda juga mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, pemerintah, lembaga sosial, dunia usaha, dan masyarakat.

Karena kesejahteraan adalah tanggung jawab bersama, dan cinta sosial hanya akan tumbuh jika kita bergerak bersama.

Bunda masih ingat hari itu, di sebuah pagi yang teduh di Desa Cimara, Kecamatan Cibeureum.

Tujuan Bunda sederhana: menjenguk dua warga yang tengah berjuang melawan sakit, agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian.

Rumah pertama yang Bunda datangi adalah milik Ibu Carsutin, seorang perempuan luar biasa yang sejak tahun 2019 berjuang melawan kanker payudara.

Dari rumah itu, langkah Bunda berlanjut ke kediaman Ibu Wiwi, yang tengah menjalani perawatan gagal ginjal. Bunda membawa kursi roda, hadiah kecil yang semoga bisa sedikit meringankan perjuangan mereka.

“Semoga ini bisa membantu Ibu agar lebih nyaman, dan keluarga bisa lebih mudah merawat,” ucap Bunda sambil tersenyum.

Bunda melihat senyum lembut di wajah Bu Wiwi, meski lemah, ada cahaya harapan di sana.

Bagi Bunda, bantuan bukan hanya tentang barang yang diberikan, tetapi tentang kehadiran dan kepedulian.

Tentang waktu yang kita sisihkan untuk mendengarkan kisah mereka, dan tentang empati yang kita tanam agar tumbuh menjadi semangat baru.

Bunda masih teringat jelas suatu pagi di Desa Sampora, Kecamatan Cilimus.

Hari itu, matahari baru naik ketika Bunda tiba di rumah sederhana milik Ibu Titi Kurniati. Ada tujuh orang tinggal di sana, termasuk seorang anak berusia enam tahun dengan kelainan saraf sejak lahir, dan seorang nenek berusia 77 tahun, Ema Enah, yang sudah lama tidak mampu berjalan.

Bunda melangkah pelan masuk ke rumah itu. Begitu melihat sang anak, hati Bunda langsung tersentuh. Wajahnya polos, matanya jernih, tapi di balik senyumnya tersimpan kisah panjang perjuangan. Bunda mendekat, mengelus kepalanya perlahan, lalu berucap pelan,

“Anak ini adalah anugerah. Meski jalannya berbeda dengan anak-anak lain, kasih sayang orang tua akan selalu menjadi kekuatan.”

Air mata hampir jatuh ketika Bunda menatap Ibu Titi. Ia tersenyum sambil berkata lirih, “Kami hanya berusaha sekuatnya, Bu, semoga anak kami bisa tetap bahagia.”

Di momen itu, Bunda merasa bukan sebagai pejabat atau ketua lembaga, tetapi sebagai seorang ibu yang memahami betul artinya cinta tanpa batas.

Tak lama kemudian, Bunda menyerahkan kursi roda untuk Ema Enah. Saat itu, sang nenek menatap Bunda dengan mata berkaca-kaca, lalu berbisik dengan suara bergetar,

“Makasih, Ibu Bupati… mugi panjang umur, Ema tiasa jalan-jalan deui.”

Bunda genggam tangannya erat, dan dengan lirih Bunda balas,

“Ema sing sehat, panjang umur, sareng tiasa langkung nyaman. InsyaAllah ieu kanggo Ema.”

Bagi Bunda, bantuan kecil seperti kursi roda bukan hanya alat bantu fisik, tapi jembatan untuk menghadirkan martabat dan kebahagiaan kembali dalam hidup seseorang.

Bunda juga berpesan kepada bidan desa dan pihak Puskesmas agar memantau terus kondisi keluarga ini.

Karena Bunda percaya, perhatian sejati tidak berhenti di satu kunjungan, tetapi terus berlanjut dalam pendampingan dan doa.

Hari itu Bunda pulang dengan hati penuh syukur. Dalam hati Bunda berucap pelan,

“Mereka mungkin tak meminta banyak, tapi satu hal yang selalu mereka butuhkan: rasa peduli.”

Bunda Literasi dan Cinta pada Pengetahuan

Sejak dulu, Bunda percaya bahwa pengetahuan adalah cahaya, dan literasi adalah lentera yang membawanya menembus gelapnya ketidaktahuan.

Hidup tanpa membaca, tanpa belajar, ibarat berjalan tanpa arah di tengah kabut, mungkin kita tetap melangkah, tapi tak tahu ke mana tujuan sebenarnya.

Ketika Bunda dipercaya menjadi Bunda Literasi Kabupaten Kuningan, hati Bunda tergetar. Jabatan ini mungkin terdengar sederhana, tapi maknanya begitu dalam. 

Bunda melihat bagaimana kebiasaan membaca, menulis, dan berdiskusi bisa mengubah cara seseorang berpikir bahkan bisa mengubah hidupnya.

Bunda teringat masa-masa bekerja di dunia perbankan. Setiap hari Bunda berhadapan dengan angka, laporan, dan analisis. Tapi di sela-sela kesibukan itu, Bunda selalu menyempatkan diri membaca, apa saja. 

Buku, artikel, bahkan tulisan kecil di majalah dinding. Dari sana Bunda belajar bahwa membaca bukan hanya memperluas wawasan, tapi juga melembutkan cara pandang terhadap hidup.

Kini, sebagai Bunda Literasi, Bunda ingin menularkan semangat itu kepada masyarakat, terutama kepada anakanak dan perempuan.

Bunda ingin mereka tahu bahwa membaca bukan kewajiban, tetapi kebutuhan jiwa. Bahwa buku bukan benda asing yang tersimpan di rak, tetapi sahabat yang menemani dalam perjalanan hidup.

Bunda bermimpi melihat taman-taman bacaan tumbuh di setiap sudut desa. Bunda ingin setiap posyandu, setiap PKK, setiap sekolah kecil di pelosok memiliki sudut literasi, tempat anak-anak tersenyum sambil membuka halaman buku baru.

Bunda ingin menjadikan literasi sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat Kuningan, bukan hal mewah, tapi kebiasaan yang alami dan membahagiakan.

Dalam banyak kegiatan, Bunda selalu membawa pesan sederhana:

“Literasi bukan hanya tentang membaca huruf, tetapi juga membaca hati, membaca keadaan, dan membaca masa depan.”

Maka setiap langkah Bunda di kegiatan literasi selalu Bunda niatkan sebagai ibadah kecil. Saat membacakan buku untuk anak-anak, saat berbincang dengan ibu-ibu tentang pentingnya mendampingi anak belajar, atau saat menghadiri peluncuran karya local.

Bunda merasa seolah sedang menyiram benih harapan yang suatu hari akan tumbuh menjadi pohon perubahan. Bunda percaya, perempuan adalah guru pertama dalam kehidupan anak-anaknya. 

Jika seorang ibu mencintai pengetahuan, maka cinta itu akan diwariskan tanpa disadari. 

Karena itulah, Bunda ingin para ibu di Kuningan menjadi perempuan yang cerdas, lembut, dan berdaya, bukan hanya di dapur, tapi juga dalam berpikir dan berkarya.

Bagi Bunda, literasi adalah bentuk lain dari kasih Bundang.Ketika kita menulis, kita berbagi hati. Ketika kita membaca, kita membuka pikiran.

Dan ketika kita mengajarkan keduanya kepada anak-anak kita, kita sedang menanam cahaya untuk masa depan Kuningan yang lebih terang.

“Membaca adalah perjalanan jiwa, menulis adalah doa yang diam-diam terucap di antara baris kata.”

Bunda selalu percaya bahwa ilmu adalah cahaya, dan membaca adalah cara paling indah untuk menyalakannya. Tugas ini bukan sekadar simbol, bukan pula penghargaan.

Bagi Bunda, menjadi Bunda Literasi adalah amanah untuk menjaga nyala pengetahuan di hati masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda yang akan meneruskan masa depan Kuningan.

Banyak orang berpikir literasi hanya tentang membaca dan menulis. Padahal, bagi Bunda, literasi adalah tentang membuka mata dan hati. Tentang bagaimana seseorang mampu memahami dirinya, lingkungannya, dan kehidupan dengan lebih bijak.

Sebagai Bunda Literasi, Bunda berusaha menanamkan semangat membaca dan menulis dari ruang yang paling kecil, keluarga.

Karena rumah adalah sekolah pertama, dan orang tua adalah guru pertama. Bunda sering mengatakan kepada para ibu:

“Bacakan satu cerita setiap malam, bukan hanya untuk menidurkan anak, tapi untuk membangunkan mimpinya.”

Bunda juga percaya bahwa literasi digital adalah tantangan baru bagi generasi kita.Karena anak-anak hari ini tidak hanya hidup di dunia nyata, tapi juga di dunia maya.

Mereka membaca layar lebih sering daripada kertas, dan karena itu, tugas kita bukan melarang, tetapi membimbing.

“Di era banjir informasi, literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi kemampuan untuk memilih yang benar dan mengabaikan yang salah.”

Bagi saya, literasi juga sarana untuk menanamkan nilainilai moral dan spiritual.

Buku dan cerita adalah jembatan untuk berbicara kepada hati anak-anak tentang kejujuran, empati, dan cinta tanah air.

Kadang Bunda duduk di tengah kegiatan anak-anak dan berkata pelan:

“Tidak semua orang bisa punya kekuatan besar, tapi semua orang bisa punya hati yang baik.”

Dan dari situ, Bunda melihat betapa sederhana tapi dalamnya kekuatan kata. Ia bisa menumbuhkan karakter, mengubah cara pandang, bahkan menyembuhkan luka batin.

Menjadi Bunda Literasi bukan sekadar masa jabatan, tapi perjalanan hati.

Bunda sadar, membaca dan menulis mungkin tampak sederhana, namun di sanalah masa depan bangsa disemai.

Kadang Bunda membayangkan, mungkin ada satu anak kecil yang membaca buku di pojok perpustakaan desa hari ini, dan kelak ia tumbuh menjadi guru, dokter, pemimpin, atau penulis hebat.

Dan jika gerakan ini turut menyalakan nyalanya, maka tugas ini tidak sia-sia.

“Satu buku bisa mengubah pikiran. Satu pikiran bisa mengubah sikap. Dan satu sikap bisa mengubah dunia.”

Itulah keyakinanku. Bahwa setiap halaman yang terbuka adalah harapan yang tumbuh, dan setiap orang yang mau membaca adalah penyalur cahaya.

Ketika orang memanggilku “Bunda Literasi”, Bunda tidak melihat gelar di situ. Yang kulihat adalah panggilan hati untuk terus belajar, membaca, dan berbagi.

Bunda ingin anak-anak Kuningan tumbuh mencintai buku, karena lewat buku mereka akan mencintai kehidupan. Bunda percaya, selama masih ada satu buku yang dibaca dengan hati, selama masih ada satu anak yang bermimpi lewat cerita, maka nyala literasi tidak akan pernah padam.

Dan di sanalah Bunda ingin selalu berada di antara hurufhuruf, cerita, dan doa yang menumbuhkan harapan.

Dekranasda: Menenun Cinta dan Ekonomi Kreatif

Ketika Bunda dipercaya menjadi Ketua Dekranasda Kabupaten Kuningan, Bunda menyadari bahwa tugas ini bukan hanya tentang menggerakkan industri kreatif, tapi juga menumbuhkan kepercayaan diri perempuan.

Karena di balik setiap karya, ada mimpi kecil yang ingin dihidupkan, dan tugas kami adalah membantu agar mimpi itu tumbuh menjadi nyata.

Sebagai Ketua Dekranasda, Bunda berupaya agar Dekranasda Kuningan tidak hanya menjadi lembaga, tetapi rumah bagi para pengrajin lokal.

Bunda percaya, ekonomi kreatif adalah ekonomi hati.

Ia tumbuh dari cinta terhadap budaya, dari rasa syukur atas kearifan lokal, dan dari semangat gotong royong yang menjadi jiwa masyarakat Kuningan.

Itulah sebabnya setiap pameran kerajinan, setiap bazar UMKM, setiap kunjungan lapangan, selalu Bunda niatkan bukan hanya untuk memajukan ekonomi, tetapi juga menyulam kembali jalinan kasih antarperempuan desa dan kota.

Bunda ingin perempuan Kuningan berdiri tegak, bukan karena mereka kuat menahan beban, tapi karena mereka bangga atas karya mereka sendiri.

Bunda ingin setiap kerajinan tangan, setiap produk lokal, menjadi simbol kemandirian dan cinta terhadap daerah.

Bagi Bunda, Dekranasda bukan sekadar organisasi, melainkan pergerakan cinta.

Saat pertama kali dipercaya menjadi Ketua Dekranasda Kabupaten Kuningan, saya menyadari bahwa tanggung jawab ini bukan sekadar tentang produk atau pameran.

Ini adalah tentang jiwa dan kehidupan banyak keluarga yang menggantungkan harapan mereka pada hasil karya tangan yang sederhana, anyaman bambu, batik, tenun, kerajinan kayu, hingga kuliner tradisional.

Bunda selalu percaya bahwa karya adalah wujud cinta, dan para perajin kita adalah penjaga warisan budaya yang luar biasa.

Setiap ukiran, setiap helai benang yang disulam, dan setiap pola batik yang ditorehkan, semuanya menyimpan cerita panjang tentang Kuningan, tentang tanah yang subur dan masyarakat yang penuh ketulusan.

Ketika Bunda berjalan di antara meja-meja pameran UMKM dan stand kerajinan, saya sering berhenti sejenak, mengamati tangan-tangan yang bekerja dengan penuh semangat.

Di mata mereka, Bunda melihat harapan. Di senyum mereka, Bunda merasakan keyakinan bahwa produk lokal Kuningan bisa bersaing, bahkan bersinar di panggung nasional.

Dekranasda bagi Bunda bukan hanya wadah promosi, tetapi rumah besar bagi para pelaku ekonomi kreatif.

Kami berupaya menghadirkan pelatihan, membuka jejaring digital, dan memperkuat kolaborasi lintas sektor agar produk Kuningan dapat dikenal luas.

Saya ingin setiap perajin memiliki akses yang sama untuk berkembang baik di desa terpencil maupun di pusat kota.

Saya juga selalu mengingat pesan Gubernur dan Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Barat saat pelantikan, bahwa era digital menuntut perubahan pola pikir.

Karenanya, kami dorong perajin untuk beradaptasi dengan teknologi, dari pemasaran online, kemasan modern, hingga storytelling digital.

Karena di balik setiap produk, ada cerita, dan cerita itulah yang membuat orang jatuh cinta.  Namun, ada satu hal yang selalu saya tekankan dalam setiap pertemuan dengan para perajin:

Kemajuan boleh datang, inovasi harus berjalan, tapi jati diri Kuningan sebagai tanah yang kaya budaya harus tetap menjadi nafas dalam setiap karya.

Bahwa tugas di Dekranasda bukan hanya mengelola program, tapi menjaga asa, memuliakan kerja keras, dan menghidupkan warisan budaya melalui sentuhan tangan para perajin.

Saya ingin Dekranasda Kuningan menjadi rumah yang hangat, tempat di mana kreativitas tumbuh, ekonomi berputar, dan budaya terpelihara.

Sebab saya percaya, dari tenunan kasih dan karya yang tulus, kita sedang membangun masa depan Kuningan yang berdaya dan berbudaya.

Kreativitas adalah bentuk ibadah, karena melalui karya, kita mensyukuri nikmat Tuhan dengan cara yang paling indah.

Dari tangan para perajin, saya melihat jiwa yang bekerja dengan cinta.”

Dekranasda hadir untuk memberi ruang, dorongan, dan harapan. Kami tidak hanya ingin memperkenalkan produk, tetapi ingin menumbuhkan kebanggaan dan kemandirian.

Kami ingin setiap perajin tahu bahwa hasil karyanya berharga, dihargai, dan bisa menjadi penggerak ekonomi bagi keluarga dan daerah.

Bunda masih ingat satu momen yang sangat berkesan, Hari Batik Nasional. Hari itu, Bunda mengenakan batik Kuningan dengan motif Kuda Lumping dan Gunung Ciremai.

Bunda katakan dengan tulus,

“Batik bukan sekadar kain bermotif indah, tetapi napas kebudayaan yang mengikat jati diri bangsa. Saat kita mengenakan batik, ada cinta tanah air yang kita bawa di setiap helai kainnya.”

Bunda mengajak seluruh masyarakat Kuningan untuk mencintai batik daerah sendiri.

Motif-motif batik Kuningan menyimpan cerita panjang: tentang kegagahan Kuda Lumping, keteguhan Kujang, dan kemegahan Ciremai yang selalu menjadi saksi ketulusan warganya.

“Kita punya batik dengan corak yang tidak dimiliki daerah lain. Inilah kebanggaan kita. Batik Kuningan harus kita cintai, kita kenakan, dan kita wariskan.”

Bunda pun sering berpesan pada generasi muda, “Batik bukan hanya pakaian formal. Biarkan batik menjadi bagian dari keseharian kita, karena di setiap motifnya tersimpan cerita tentang kita sendiri.”

Bunda ingin anak-anak muda Kuningan mengenakan batik dengan bangga, bukan karena aturan, tapi karena cinta.

Dan setiap kali Bunda melihat ibu-ibu perajin tersenyum di balik kain batik mereka, saya tahu, perjuangan ini berarti.

Hari Batik Nasional bukan sekadar peringatan, tapi pengingat bahwa budaya harus terus dihidupkan lewat hati.

“Kalau bukan kita yang bangga, siapa lagi? Mari kita kenakan batik dengan penuh cinta, karena dari batiklah identitas bangsa ini hidup.”

Posyandu : Menjaga Generasi, Menyemai Harapan Sehat

Setiap kali Bunda mengunjungi Posyandu, selalu ada pemandangan yang membuat hati Bunda bergetar, para ibu dengan wajah lelah namun bahagia, menggendong anaknya dengan penuh kasih, para kader yang tersenyum sambil mencatat berat badan bayi, mengukur tinggi badan, dan memberi penyuluhan sederhana tentang gizi dan kesehatan.

Dari tempat-tempat sederhana itulah sesungguhnya masa depan bangsa sedang disiapkan.

Sebagai Pembina Posyandu Kabupaten Kuningan, Bunda sering merenung betapa mulianya peran para kader di desa. Mereka bukan sekadar sukarelawan, mereka adalah pilar kehidupan masyarakat.

Tanpa pamrih, mereka menjaga kesehatan ibu hamil, balita, hingga lansia.

Mereka memastikan setiap bayi tumbuh sehat, setiap ibu mendapatkan dukungan, dan setiap keluarga merasakan kehadiran negara melalui pelayanan dasar yang penuh kasih.

Bunda belajar banyak dari para kader itu, tentang ketulusan, tentang kesabaran, tentang arti mengabdi tanpa mengharap pujian.

Mereka bekerja di bawah panas, di ruang sempit, kadang tanpa peralatan lengkap, tapi selalu dengan senyum yang tulus.

Dan Bunda tahu, di balik setiap senyum mereka, ada doa yang begitu kuat untuk negeri ini.

Ketika dipercaya menjadi Pembina Posyandu, Bunda ingin memberikan sesuatu yang nyata bagi mereka.

Bunda ingin memastikan bahwa Posyandu bukan hanya menjadi tempat penimbangan bayi, tapi juga pusat pemberdayaan keluarga.

Tempat ibu-ibu belajar tentang gizi, tumbuh kembang anak, literasi keuangan keluarga, bahkan penguatan peran perempuan di masyarakat.

Bunda ingin Posyandu menjadi ruang kehidupan yang hangat dan bermakna, tempat di mana ilmu dan kasih Bundang bertemu.

Karena Bunda percaya, kesehatan bukan hanya urusan tubuh, tapi juga urusan hati. Kader yang bahagia akan melayani dengan cinta.

Ibu yang bahagia akan melahirkan generasi yang kuat. Dan masyarakat yang saling peduli akan melahirkan daerah yang sehat dan sejahtera.

Bunda selalu teringat pesan ibu Bunda:

“Kalau ingin anakmu tumbuh kuat, cintai setiap tahap tumbuhnya.”

Itulah semangat yang Bunda bawa dalam setiap kunjungan ke Posyandu. Bunda ingin menguatkan para ibu agar mereka tahu, mereka tidak sendiri. 

Ada banyak tangan yang siap membantu, banyak hati yang ikut berdoa. Melalui Posyandu, Bunda melihat bagaimana cinta seorang ibu bisa menjadi obat paling mujarab.

Bukan hanya untuk anaknya, tapi juga untuk desanya, kabupatennya, dan bangsanya.

Dan di situlah Bunda merasa bersyukur bisa menjadi bagian dari perjalanan mereka. Karena di balik setiap bayi yang tumbuh sehat, setiap ibu yang tersenyum lega, dan setiap kader yang pulang dengan hati tenang, di sanalah Bunda melihat makna sejati dari pengabdian.

 “Membangun bangsa dimulai dari pangkuan seorang ibu. Dan Posyandu adalah rumah kecil tempat cinta itu dirawat setiap hari.” 

Saya selalu percaya, sehat adalah rezeki yang harus dijaga bersama.

Tidak ada satu pun upaya besar yang mampu berdiri tanpa peran kecil yang dikerjakan dengan hati.

Dan di antara peran kecil yang paling besar maknanya itu ada yang bernama Posyandu.

Setiap kali Bunda datang ke Posyandu di desa-desa, Bunda selalu menemukan pemandangan yang sama dan menenangkan, suara tawa anak-anak, ibu-ibu yang sabar mengantre dengan kain gendongan, dan para kader yang dengan senyum tulus mencatat hasil penimbangan di buku kecil.

Bagi sebagian orang, itu mungkin rutinitas. Namun bagi Bunda, itu adalah cermin kasih sayang dan gotong royong yang sesungguhnya.

Bunda masih ingat, di awal masa mendampingi kepemimpinan di Kabupaten Kuningan, banyak Posyandu yang berjalan seadanya.

Kadernya bekerja dengan keterbatasan fasilitas, namun dengan semangat luar biasa. Bunda sering terharu melihat mereka datang pagi-pagi, menyiapkan meja timbang, mensterilkan alat, dan tetap tersenyum meski cuaca panas atau hujan.

Dari mereka Bunda belajar arti kerja tanpa pamrih. Mereka bukan sekadar sukarelawan, tapi pahlawan kehidupan.

Mereka bukan hanya menimbang berat badan anak-anak, tapi juga menimbang harapan orang tua akan masa depan yang lebih baik.

Bunda tahu, untuk menjaga semangat itu, mereka tidak cukup hanya dengan motivasi.

Mereka perlu pengetahuan, dukungan, dan penghargaan. Maka kami mulai melangkah, memperkuat peran kader melalui pelatihan, pembinaan, dan perhatian.

Kami bentuk forum belajar antar kader, agar mereka bisa berbagi pengalaman dan inovasi.

Bunda ingin setiap Posyandu menjadi tempat yang hidup, bukan sekadar ruang pelayanan, tapi ruang pemberdayaan.

Kami kemudian mendorong Revitalisasi Posyandu. Bukan semata mengganti spanduk atau cat temboknya, tapi mengubah cara pandang masyarakat terhadap kesehatan.

Bunda sering berkata kepada para ibu dan kader:

“Posyandu bukan tempat orang sakit datang, tapi tempat orang sehat belajar agar tidak sakit.”

Bunda melihat bagaimana kader Posyandu menjadi sahabat bagi para ibu muda, menjadi pendengar bagi mereka yang cemas, dan menjadi penyemangat ketika seorang anak akhirnya naik berat badannya setelah berbulan-bulan berjuang.

Dari situ Bunda memahami, bahwa kesehatan bukan hanya urusan tubuh, tapi juga hati.

Ketika masyarakat merasa didengar dan diperhatikan, mereka akan lebih semangat menjaga dirinya sendiri. Dan di situlah Bunda merasa, Posyandu bukan hanya tentang angka gizi, tapi tentang ikatan kemanusiaan yang menyembuhkan.

Kini, setiap kali Bunda menyapa para kader, saya selalu teringat kalimat yang dulu sering saya ucapkan di berbagai kesempatan:

“Kita bukan sedang menimbang anak hari ini, kita sedang menimbang masa depan bangsa.”

Bunda ingin generasi kita tumbuh dalam lingkungan yang sehat, bukan hanya tubuhnya, tapi juga pikirannya, jiwanya, dan kepekaannya terhadap sesama.

Karena sejatinya, bangsa yang kuat dimulai dari anakanak yang sehat, dan anak-anak yang sehat lahir dari ibu-ibu yang bahagia, serta kader yang bekerja dengan cinta.

Kini setiap kali Bunda melewati papan nama Posyandu di pinggir jalan desa, saya tersenyum pelan dan berbisik dalam hati:

“Di sana, harapan sedang tumbuh.”

Bunda Ketapang : Ketahanan Pangan Dan Cinta Untuk Petani

Tidak semua pengabdian lahir dari ruang rapat. Sebagian justru tumbuh dari tanah dari sawah, dari ladang, dari tangan-tangan petani yang bekerja dalam diam.

Di sanalah, Bunda Ela Helayati menemukan panggilan lain dalam hidupnya.

Bukan sekadar sebagai pendamping, bukan hanya sebagai penggerak organisasi, tetapi sebagai bagian dari denyut kehidupan petani.

Perjalanan itu bermula dari kehadirannya di tengah masyarakat desa. Ia tidak datang sebagai tamu, tetapi sebagai pendengar.

Bunda melihat langsung bagaimana petani bekerja dari pagi hingga petang. Bagaimana harapan mereka sering kali bergantung pada cuaca, pada harga pasar, dan pada hal-hal yang tidak selalu bisa mereka kendalikan.

Bunda juga melihat kenyataan yang tidak selalu mudah:
hasil panen yang tidak sebanding dengan kerja keras, harga jual yang tidak stabil, dan keterbatasan akses terhadap teknologi serta pasar.

Namun alih-alih melihat itu sebagai keterbatasan, Bunda Ela melihatnya sebagai ruang untuk bergerak.

Bunda percaya, petani tidak membutuhkan belas kasihan.
Mereka membutuhkan kesempatan.

Melalui perannya di BAKTI TASKIN, kepedulian itu perlahan berubah menjadi langkah nyata.

Bunda mendorong lahirnya program-program yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan petani.

Salah satunya adalah program demplot budidaya, yang menjadi titik awal perubahan.

Di Desa Bojong, Kecamatan Cilimus, langkah itu membuahkan hasil yang mengejutkan banyak pihak.

Dari lahan yang tidak terlalu luas, panen ubi jalar mencapai angka yang luar biasa. Namun bagi Bunda Ela, yang lebih penting bukanlah jumlahnya.

Melainkan pesan yang dibawa, bahwa dengan pola yang tepat, pendampingan yang konsisten, dan sinergi yang kuat, petani bisa menghasilkan lebih baik.

Bunda turun langsung ke lapangan. Tidak hanya melihat, tetapi ikut merasakan. Tangannya menyentuh tanah.
Langkahnya menyatu dengan para petani.

Karena baginya, kehadiran bukan sekadar simbol, tetapi komitmen.

Salah satu persoalan utama petani bukan hanya produksi, tetapi pemasaran.

Bunda Ela memahami bahwa hasil panen yang melimpah tidak akan berarti jika harga jatuh.

Dari situlah Bunda mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pasar dan eksportir.

Bunda ingin memastikan bahwa petani tidak hanya mampu menanam, tetapi juga mampu menjual dengan harga yang layak.

Langkah ini menjadi penting, karena kesejahteraan petani tidak hanya ditentukan oleh hasil panen, tetapi oleh nilai dari hasil tersebut.

Bunda ingin petani Kuningan tidak lagi sekadar bertahan. Bunda ingin mereka naik kelas.

Langkah Bunda Ela tidak berhenti pada satu program.

Di Desa Luragung Tonggoh, Bunda kembali hadir dalam tanam perdana padi sekaligus pembangunan saluran irigasi.

Bagi sebagian orang, irigasi mungkin hanya infrastruktur.

Namun bagi petani, itu adalah kehidupan.

Air yang mengalir berarti harapan yang terjaga.

Bunda berdiri di tengah sawah, bersama para ibu petani, menanam padi dengan tangan sendiri.

Di sana tidak ada perbedaan peran. Yang ada hanyalah kebersamaan.

“Ketahanan pangan bukan hanya urusan pertanian, tetapi urusan kita bersama,” ujarnya.

Bunda percaya bahwa desa adalah kunci. Jika desa kuat, maka pangan akan kuat. Jika pangan kuat, maka bangsa akan kuat.

Dalam setiap langkahnya, Bunda Ela tidak pernah melupakan peran perempuan.

Bunda melihat bahwa perempuan, khususnya ibu rumah tangga, adalah garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan keluarga.

Di berbagai kesempatan, Bunda mengajak para ibu untuk lebih bijak dalam mengelola pangan, tidak mudah panik terhadap kenaikan harga, dan mulai memanfaatkan potensi rumah tangga, seperti menanam kebutuhan dapur.

Baginya, dapur adalah pusat ketahanan pangan. Dari dapur, lahir generasi sehat. Dari dapur, tumbuh kesadaran untuk tidak menyia-nyiakan makanan.

Bunda menggerakkan ini dengan pendekatan yang sederhana, tetapi menyentuh. Bukan dengan instruksi, tetapi dengan contoh.

Atas kiprah dan dedikasinya, Bunda Ela Helayati dianugerahi gelar sebagai Bunda Ketahanan Pangan (Bunda Ketapang).

Namun bagi dirinya, gelar itu bukanlah tujuan. Itu adalah tanggung jawab. Tanggung jawab untuk terus hadir di tengah masyarakat.


Tanggung jawab untuk terus menggerakkan semangat gotong royong.


Dan tanggung jawab untuk memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal dalam upaya membangun kemandirian pangan.

Bunda menerima amanah itu dengan rendah hati. Karena dirinya tahu, penghargaan sejati bukan pada gelar, tetapi pada manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.

Perjalanan ini belum selesai. Masih banyak desa yang harus disentuh Masih banyak petani yang harus didampingi.
Dan masih banyak harapan yang harus dijaga.

Namun satu hal yang pasti, langkah ini sudah dimulai. Dari tanah yang digarap dengan ketulusan, dari tangan-tangan yang bekerja dengan harapan, dan dari hati yang percaya bahwa perubahan itu mungkin.

Bunda Ela tidak hanya menanam di ladang, tetapi menanam keyakinan. Bahwa petani bisa sejahtera. Bahwa desa bisa mandiri, dan bahwa pangan bisa menjadi kekuatan bangsa.

 

Bunda Toleransi: Merawat Perbedaan Dengan Ketulusan

 

Tidak semua peran lahir dari rencana. Sebagian hadir sebagai panggilan, panggilan untuk menjaga, merawat, dan menguatkan nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan bersama.

Dalam perjalanan pengabdiannya, Bunda Ela Helayati menemukan satu panggilan yang begitu halus, namun kuat, menjaga harmoni di tengah perbedaan.

Bunda tidak memulai dari panggung besar. Bunda memulai dari hal yang paling dekat, keluarga.

Kabupaten Kuningan adalah ruang hidup yang kaya akan keberagaman. Beragam latar belakang, keyakinan, dan budaya hidup berdampingan dalam satu wilayah yang sama.

Di tengah keberagaman itu, harmoni bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Ia harus dirawat.

Pada peringatan Hari Toleransi Internasional ke-30, sebuah momen penting hadir dalam perjalanan Bunda Ela. Bunda dianugerahi gelar sebagai Bunda Toleransi Kabupaten Kuningan.

Gelar itu bukan sekadar simbol. Ia adalah amanah. Amanah untuk menjaga keseimbangan. Amanah untuk merawat kebersamaan.

Dan amanah untuk memastikan bahwa perbedaan tetap menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan. Namun sebagaimana dirinya yang selalu sederhana, Bunda Ela tidak menjadikan momen itu sebagai puncak. Ia menjadikannya sebagai awal.

Dalam sambutannya, Bunda menyampaikan sesuatu yang sederhana, namun menyentuh banyak hati, bahwa toleransi tidak dimulai dari forum besar, melainkan dari rumah.

Dari cara orang tua mendidik anak-anaknya. Dari cara keluarga memandang perbedaan. Dan dari bagaimana nilai-nilai itu ditanam sejak dini.

Bunda percaya bahwa anak-anak tidak lahir dengan prasangka. Mereka belajar. Belajar dari apa yang mereka lihat, dari apa yang mereka dengar, dan dari apa yang mereka rasakan di lingkungan terdekatnya.

Karena itu, rumah menjadi titik awal yang paling penting.

Jika di rumah diajarkan untuk menghargai, maka anak akan tumbuh dengan penghormatan.

Jika di rumah ditanamkan kasih, maka anak akan tumbuh dengan empati. Dan dari sanalah toleransi akan hidup.

Bagi Bunda Ela, toleransi bukanlah jargon. Ia adalah tindakan. Ia hadir dalam sikap sederhana, menghormati orang lain saat beribadah, tidak merendahkan keyakinan yang berbeda, dan menjaga ucapan agar tidak melukai.

Bunda memahami bahwa perbedaan tidak bisa dihindari. Namun perbedaan tidak harus memisahkan. Justru dari perbedaan, manusia belajar untuk saling mengenal. Belajar untuk saling memahami.


Dan belajar untuk saling menghargai. Bunda sering mengibaratkan toleransi seperti mengajarkan anak berbagi. Hal yang sederhana, tetapi membutuhkan kebiasaan. Karena toleransi tidak tumbuh dari teori, tetapi dari praktik sehari-hari.

Di era yang semakin terbuka, arus informasi datang tanpa batas. Tidak semua membawa kebaikan. Tidak semua membawa kesejukan.

Ada kalanya perbedaan dipertajam. Ada kalanya kesalahpahaman diperbesar. Dalam situasi seperti itu, peran menjaga harmoni menjadi semakin penting.

Bunda Ela menyadari bahwa masyarakat membutuhkan figur yang tidak hanya berbicara, tetapi juga menenangkan.

Bunda hadir dengan pendekatan yang lembut. Tidak menghakimi. Tidak menyudutkan. Tetapi mengajak.

Bunda percaya bahwa pendekatan yang penuh empati akan lebih mampu menyentuh hati. Karena pada dasarnya, setiap manusia ingin dipahami.

Dalam berbagai kesempatan, Bunda terus mengajak masyarakat untuk memperkuat silaturahmi. Karena Bunda percaya bahwa kedekatan akan mengurangi prasangka.

Semakin sering orang bertemu, semakin mudah mereka memahami satu sama lain. Semakin kuat hubungan, semakin kecil ruang bagi perpecahan.

Bunda mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi. Untuk tidak cepat menilai. Dan untuk selalu mengedepankan kebersamaan.

“Kalau kita kuat bersama, tidak akan ada yang merasa sendiri,” adalah semangat yang Bunda bawa.

Sebagai Bunda Toleransi, Bunda tidak ingin hanya dikenal melalui gelar. Bunda ingin dikenal melalui sikap. Melalui cara dirinya berbicara. Melalui cara dirinya bersikap, dan melalui cara dirinya hadir dalam kehidupan masyarakat.

Bunda tidak selalu berada di depan, namun akan mencoba selalu ada. Kadang dalam percakapan sederhana, kadang dalam senyuman yang menenangkan.


Dan kadang dalam kehadiran yang memberi rasa aman, Bunda percaya bahwa keteladanan tidak harus besar, cukup konsisten.

Bagi Bunda Ela, toleransi bukan hanya untuk hari ini. Ia adalah investasi untuk masa depan.

Bunda ingin anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang damai. Lingkungan yang menghargai perbedaan. Lingkungan yang menjadikan keberagaman sebagai kekuatan.

Karena dari sanalah lahir generasi yang matang, generasi yang tidak mudah terpecah, dan generasi yang mampu menjaga bangsa.

Harmoni yang Tumbuh dari Ketulusan Perjalanan ini bukan tentang menjadi sempurna. Ini adalah tentang terus berusaha, berusaha memahami, berusaha menerima, dan berusaha menjaga.

Bunda Ela percaya bahwa harmoni tidak bisa dipaksakan. Ia harus ditumbuhkan, dan hanya bisa tumbuh jika dirawat dengan ketulusan.