Perjalanan hidup kembali berubah arah ketika Bunda mendampingi suami dalam amanah sebagai pemimpin daerah. Ini bukan sekadar perubahan peran, tetapi perluasan makna kehidupan.
Bunda memasuki ruang yang lebih luas, ruang di mana kehidupan masyarakat menjadi bagian dari kesehariannya. Namun ia tidak memilih untuk menjadi sosok yang berjarak.
Bunda memilih untuk hadir. Hadir dalam kegiatan, hadir dalam pertemuan, hadir dalam kehidupan masyarakat yang sesungguhnya.
Bunda melihat langsung, wajah-wajah penuh harap, cerita kehidupan yang sederhana, dan perjuangan yang sering kali tidak terlihat. Dari situlah empati dalam dirinya tumbuh semakin dalam.
Bunda memahami bahwa pengabdian bukan tentang berada di posisi tertentu, tetapi tentang bagaimana kita memaknai kehadiran.
Sebagai pendamping, Bunda tidak ingin hanya berjalan di belakang. Ia ingin berjalan sejajar, memberi dukungan, memberi kekuatan, dan menghadirkan ketenangan.
Ada banyak hal yang tidak terlihat oleh orang lain. Ada dinamika, ada tekanan, ada tanggung jawab yang tidak ringan. Namun ia menjalaninya dengan satu prinsip: ketulusan.
Karena baginya, tanpa ketulusan, semua akan terasa berat.
Namun dengan ketulusan, semua akan terasa ringan—meskipun dalam keterbatasan.
Perjalanan ini membawanya lebih dekat dengan masyarakat. Dan dari sanalah, langkahnya semakin jelas.
Seiring waktu berjalan, peran suamiku dalam pemerintahan terus berkembang. Aku menyaksikan bagaimana ia memulai perjalanan kariernya dari bawah, dengan penuh dedikasi dan kesetiaan pada tanggung jawabnya sebagai abdi negara.
Suami Bunda, Dian Rachmat Yanuar, pernah menjabat sebagai Kasubag Tata Laksana Bagian Organisasi Setda Kabupaten Kuningan pada tahun 2002.
Tak lama kemudian, antara tahun 2002–2005, beliau diamanahi menjadi Kasubag Pengadaan Setda Kuningan, dan naik jabatan menjadi Kabag Humas Setda Kuningan pada tahun 2005–2006.
Tahun 2008, beliau dipercaya sebagai Kabag Perlengkapan Setda Kuningan, lalu pada 2009–2010 menjabat sebagai Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kabupaten Kuningan.
Langkahnya terus berlanjut hingga menjadi Kepala Bappeda (2011–2013), Kepala Dinas Pendapatan Daerah (2013–2016), dan kemudian Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (2016–2018).
Hingga akhirnya, pada 1 November 2018, beliau dilantik sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Kuningan, jabatan tertinggi di lingkungan ASN.
Dan kini, dengan izin Allah dan dukungan masyarakat, beliau diberi amanah besar sebagai Bupati Kuningan periode 2025–2030.
Bunda selalu merasa bersyukur bisa mendampinginya di setiap tahap perjalanan itu. Sebagai istri, tugasku bukan sekadar menemani di acara resmi, tapi menjaga keseimbangan di rumah, menjadi penenang ketika lelah datang, dan memastikan keluarga tetap utuh dalam doa.
Kadang Bunda tersenyum ketika orang berkata, “Berat ya jadi istri pejabat?” Bagiku, jawabannya sederhana: tidak berat jika dijalani dengan cinta dan niat yang tulus untuk melayani.
Bunda belajar bahwa mendampingi seorang pemimpin bukan hanya tentang berdiri di sampingnya, tapi juga berdiri bersamanya, di setiap suka dan duka, dalam diam dan doa.
Menjadi istri seorang pemimpin daerah bukanlah tentang berdiri di belakang, tapi tentang berjalan bersama. Mendampingi, bukan sekadar menemani, membantu bukan hanya menyaksikan.
Ketika suami Bunda, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si, menerima amanah sebagai Bupati Kuningan, Bunda tahu hidup kami akan berubah arah.
Namun Bunda percaya, setiap perubahan adalah kesempatan untuk memberi arti.
Bunda tidak ingin hanya menjadi penonton di perjalanan panjang pengabdian beliau. Bunda ingin ikut mengambil peran sekecil apa pun, selama itu membawa manfaat bagi orang lain.
Bunda memandang tugas ini bukan sebagai beban, melainkan amanah kehidupan.
Di samping seorang pemimpin, Bunda belajar menjadi penyemangat, pendengar, sekaligus tangan yang siap membantu mewujudkan cita-cita Bersama, Kuningan Melesat, Kuningan yang lebih maju, sejahtera, dan berbudaya.
Peran Bunda kemudian tumbuh melalui berbagai organisasi yang melekat, sebagai Ketua TP-PKK, Ketua LKKS, Ketua Dekranasda, Ketua TP Posyandu, Bunda Literasi, Bunda PAUD Kabupaten Kuningan, dan Amanah-amanah yang lainnya.
Masing-masing membawa tanggung jawab dan dinamika tersendiri, tapi semuanya berpangkal pada satu hal, cinta kepada masyarakat.
Bunda menyadari, setiap jabatan hanyalah alat, yang terpenting adalah niat dan langkah nyata.
Maka Bunda berusaha menjalankan semuanya dengan prinsip sederhana, melayani dengan hati, bekerja dengan tulus, dan berkolaborasi tanpa batas.
Ada kalanya tubuh lelah berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain dari rapat di kabupaten, kunjungan ke desa, hingga acara sosial di pelosok.
Tapi setiap senyum warga, setiap ucapan terima kasih yang sederhana, menjadi energi yang membuat Bunda tidak ingin berhenti.
Bunda merasa, inilah cara Bunda bersyukur atas setiap karunia yang Allah titipkan.
Bunda sering merenung dalam diam: “Apa arti mendampingi?”
Dan Bunda menemukan jawabannya bukan di gedung besar atau acara seremonial, melainkan di tengah masyarakat.
Mendampingi berarti menyentuh kehidupan banyak orang dengan ketulusan. Menjadi jembatan antara kebijakan dan kebutuhan, antara rencana dan kenyataan.
Dari perjalanan inilah, Bunda belajar bahwa seorang perempuan bisa menjalankan banyak peran sebagai istri, ibu, dan penggerak masyarakat selama hatinya berpijak pada kasih dan pengabdian.
Bunda tidak selalu sempurna, tapi Bunda berusaha menjadikan setiap langkah sebagai wujud rasa syukur.
“Pengabdian bukan tentang seberapa besar jabatan yang kita miliki, tapi seberapa banyak kebaikan yang bisa kita sebarkan dari peran itu.”
Ada masa dalam hidup ketika seseorang merasa terpanggil untuk berbuat lebih.
Bukan karena ingin dikenal, bukan pula karena dorongan jabatan, tetapi karena ada suara lembut di dalam hati yang berkata: “Lakukan sesuatu. Sebab jika kau bisa memberi manfaat, maka hidupmu akan lebih berarti.”
Suara itu semakin jelas Bunda dengar seiring perjalanan waktu. Setelah melewati tahun-tahun penuh pembelajaran di dunia kerja dan keluarga, Bunda mulai merasakan dorongan kuat untuk hadir lebih luas di tengah masyarakat.
Bunda ingin melihat dari dekat wajah-wajah kehidupan para ibu, anak-anak, remaja, dan lansia yang mungkin diam-diam sedang membutuhkan uluran tangan, bukan hanya berupa materi, tetapi juga perhatian dan kepedulian.
Awalnya, langkah itu terasa kecil. Bunda mulai terlibat dalam kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggal, seperti pengajian, arisan, dan kegiatan gotong royong.
Dari sana, Bunda semakin mengenal berbagai lapisan masyarakat dengan beragam kisah dan tantangannya. Bunda menyadari bahwa setiap rumah memiliki cerita, ada tawa, ada air mata, ada perjuangan yang tidak selalu tampak di permukaan.
Dan di sanalah Bunda merasa, inilah jalan Bunda. Bunda belajar mendengarkan dengan sabar, karena setiap orang membawa sudut pandangnya sendiri.
Bunda belajar berbicara dengan hati, agar pesan kebaikan bisa diterima tanpa menyinggung. Dan yang terpenting, Bunda belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang memerintah, tetapi tentang memberi contoh.
Setiap kali Bunda berdiri di depan forum, Bunda selalu berkata pada diri sendiri:
“Berbicaralah dengan hati, karena hati akan sampai kepada hati.”
Bunda berusaha menjaga keseimbangan antara peran pribadi dan publik. Bunda sadar, langkah Bunda akan selalu dilihat, bukan hanya sebagai pribadi, tapi juga sebagai representasi keluarga.
Karena itu, Bunda berpegang teguh pada prinsip, apa pun yang Bunda lakukan di luar, tidak boleh mengurangi peran Bunda di dalam rumah. Keluarga tetap menjadi pusat, masyarakat menjadi perluasan kasih sayang.