“Akar yang kuat membuat pohon mampu menantang badai, dan cinta keluarga adalah akar yang paling dalam dalam hidup Bunda.”
Bunda lahir pada tanggal 23 April 1971, di sebuah keluarga sederhana di Kabupaten Kuningan.
Rumah kami tidak besar, tapi di sanalah Bunda pertama kali belajar tentang arti kebersamaan, kerja keras, dan cinta yang tidak bersyarat.
Keluarga kami hidup sederhana. Ayah bekerja dengan tekun, sementara Ibu adalah sosok penuh kelembutan dan keteguhan hati.
Ayah tidak banyak bicara, tapi setiap tindakannya mengandung pesan.
Bunda masih ingat bagaimana beliau selalu bangun paling pagi, menyiapkan segala sesuatu dengan teratur, dan tak pernah lupa menunaikan salat subuh berjamaah bersama kami.
Dari Ayah, Bunda belajar tentang disiplin, tentang bagaimana menghargai waktu, dan tentang pentingnya menepati janji.
Sementara dari Ibu, Bunda belajar tentang kesabaran dan keikhlasan. Ibu adalah perempuan yang tidak mudah menyerah.
Dengan tangan yang lembut, ia membesarkan kami dengan penuh kasih, tanpa keluhan meskipun keadaan sering tidak mudah.
Ia mengajarkan Bunda untuk selalu bersyukur, bahkan dalam keterbatasan.
“Yang penting hati kita kaya,” kata Ibu suatu pagi, sambil tersenyum menata meja makan sederhana kami.
Kalimat itu tertanam kuat di hati Bunda hingga kini bahwa kekayaan sejati tidak diukur dari apa yang tampak, melainkan dari seberapa tulus kita memberi.
Ayah dan ibu bukan orang yang banyak bicara tentang nasihat, mereka menunjukkan arti kehidupan lewat teladan sehari-hari.
Dari ayah, Bunda belajar tentang tanggung jawab dan kejujuran. Dari ibu, Bunda belajar tentang cinta dan kesabaran.
Keduanya menanamkan keyakinan bahwa apa pun yang kita lakukan, lakukan dengan hati yang bersih.
Masa kecil Bunda dipenuhi kenangan tentang suasana desa yang damai, aroma tanah basah setelah hujan, dan tawa anak-anak yang berlari di pematang sawah.
Bunda belajar arti sederhana dari kebahagiaan, bukan tentang memiliki segalanya, tapi tentang bersyukur atas yang kita miliki.
Setiap pagi, Bunda membantu ibu untuk menyiapkan sarapan sambil bersiap untuk pergi ke Sekolah.
“Kalau mau jadi orang berguna, harus rajin belajar, Nak,” Kalimat itu tertanam dalam-dalam di hati Bunda, sebuah pesan sederhana yang kelak menjadi cahaya di setiap langkah perjalanan Bunda.
Bunda tumbuh sebagai gadis yang pemalu, tapi tekun. Sekolah bagi Bunda bukan hanya tempat belajar, tapi tempat menumbuhkan mimpi.
Bunda percaya, perempuan juga bisa berdiri tegak dan memberi manfaat tanpa kehilangan kelembutannya.
Kedua orang tua bunda mengajarkan nilai-nilai ketulusan dan kerja keras sejak dini. Dari rumah yang penuh kasih bunda tumbuh menjadi gadis yang lembut namun berani, pendiam namun penuh tekad.
Masa kecil Bunda di Kuningan adalah masa yang hangat dan penuh kenangan. Kami tinggal di lingkungan yang akrab, di mana setiap tetangga seperti keluarga sendiri.
Anak-anak bermain di halaman, berlari di antara pohon mangga dan jambu, dan berbagi tawa tanpa beban. Bunda bukan anak yang banyak bicara. Bunda lebih senang mengamati, mendengarkan, dan belajar dari sekitar.
Namun dalam diam itu, Bunda selalu menyimpan rasa ingin tahu yang besar dan tekad untuk menjadi manusia yang berguna.
Bunda sering membantu Ibu di rumah, menyapu, mencuci, atau sekadar menemani beliau berbelanja ke pasar. Dari hal-hal kecil itu, Bunda belajar bahwa bekerja adalah bentuk cinta.
Bahwa membantu orang lain, sekecil apa pun, bisa membawa bahagia tersendiri. Ketika melihat Ibu tersenyum karena pekerjaan rumah beres, Bunda merasa bangga. Mungkin sederhana, tapi di situlah Bunda mulai mengerti arti dari pengabdian, melakukan sesuatu bukan karena harus, tapi karena ingin membuat orang lain merasa ringan.
Dari Kesederhanaan, Tumbuh Ketulusan
Ada kehidupan yang dimulai dengan segala kemudahan, namun ada pula yang tumbuh perlahan dari kesederhanaan. Perjalanan Bunda Ela Helayati berakar dari yang kedua, dari sebuah rumah yang mungkin tidak luas, tetapi kaya akan nilai dan cinta yang tulus.
Bunda lahir sebagai anak kedua dari lima bersaudara, dalam keluarga yang menjadikan kebersamaan sebagai fondasi kehidupan. Tidak ada kemewahan yang berlebih, namun di sanalah ia pertama kali mengenal arti cukup. Cukup dalam kebersamaan, cukup dalam kasih sayang, dan cukup dalam harapan yang sederhana namun kuat.
Ayah dan ibunya bukan hanya orang tua, tetapi guru pertama dalam hidupnya. Dari merekalah Bunda belajar bahwa hidup tidak selalu harus mudah, tetapi harus dijalani dengan jujur dan penuh tanggung jawab.
Pagi-pagi di rumah itu selalu dimulai dengan kesederhanaan: aktivitas yang teratur, nasihat yang tidak banyak namun bermakna, serta doa yang menjadi penguat sebelum melangkah keluar.
Tidak ada kata-kata besar, tetapi nilai-nilai itu tertanam dalam diam, dan justru karena itulah Bunda bisa menjadi begitu kuat.
Sebagai anak, Bunda tidak tumbuh dengan ambisi untuk menjadi yang paling menonjol. Bunda tumbuh sebagai pribadi yang lebih banyak mengamati. Bunda belajar dari apa yang dilihat, dari bagaimana orang tuanya menghadapi kehidupan, dan dari bagaimana keluarga itu tetap utuh dalam keterbatasan.
Ada hari-hari ketika keinginan tidak selalu bisa terpenuhi. Namun dari situlah Bunda belajar menahan diri, menghargai apa yang ada, dan tidak membandingkan hidupnya dengan orang lain.
Kesederhanaan itu tidak melemahkannya. Justru sebaliknya, ia membentuk ketahanan.
Di usia yang masih belia saat itu, Bunda mulai memahami bahwa kehidupan tidak akan selalu memberikan kemudahan. Namun ia juga percaya bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menemukan jalannya.
Nilai-nilai yang tumbuh dalam dirinya tidak datang dari teori, tetapi dari kehidupan nyata: kejujuran yang tidak bisa ditawar, kerja keras yang harus dijalani, kesabaran yang harus dijaga dan rasa syukur yang harus terus hidup.
Semua itu menjadi akar. Akar yang tidak terlihat, tetapi menopang seluruh perjalanan hidupnya di kemudian hari.
Bunda tidak pernah menyangka bahwa dari rumah sederhana itu, langkahnya akan membawa dirinya ke ruang-ruang pengabdian yang lebih luas.
Namun satu hal yang pasti, apa yang Bunda miliki hari ini tidak pernah lepas dari apa yang ia pelajari di masa kecilnya. Dan dari sanalah semuanya bermula.
Belajar, Bertumbuh, dan Menguatkan Diri
Jika masa kecil adalah tempat nilai ditanam, maka masa pendidikan adalah saat nilai itu diuji dan dibentuk menjadi karakter.
Perjalanan pendidikan Bunda Ela tidak selalu mudah, namun justru dari situlah ia menemukan makna belajar yang sesungguhnya.
Baginya, sekolah bukan sekadar tempat untuk memperoleh nilai, tetapi ruang untuk mengenal diri sendiri. Di sanalah ia belajar memahami bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda, dan setiap proses memiliki waktunya masing-masing.
Bunda menempuh pendidikan dasar di SD Negeri 7 Kuningan, lalu melanjutkan ke SMP Negeri 1 Kuningan, dan kemudian SMA Negeri 1 Kuningan.
Masa sekolah bagi Bunda bukan sekadar tentang nilai atau prestasi, tapi tentang proses mengenali diri. Bunda terbiasa datang lebih awal ke sekolah, duduk di barisan depan, dan mencatat setiap pelajaran dengan rapi.
Bunda tidak pernah merasa perlu menonjol, tapi Bunda percaya bahwa ketekunan akan berbicara lewat hasil. Guru-guru Bunda sering berkata, “Ela itu anaknya tenang, tapi selalu siap kalau diminta tolong.”
Ucapan itu sederhana, tapi bagi Bunda sangat bermakna. Bunda belajar bahwa kebaikan tidak harus terlihat mencolok, ia cukup di lakukan dengan tulus.
Bunda menikmati setiap pelajaran, terutama yang berkaitan dengan komunikasi dan organisasi.
Bunda senang ketika bisa membantu teman-teman memahami pelajaran, atau ikut dalam kegiatan sosial sekolah.
Mungkin di sanalah benih empati itu mulai tumbuh. Bunda merasakan kebahagiaan tersendiri ketika bisa meringankan beban orang lain, meskipun hanya lewat senyum atau mendengarkan cerita mereka.
Bunda tidak tumbuh dalam lingkungan yang serba mudah. Namun justru dari keterbatasan itulah Bunda belajar untuk mandiri. Bunda tahu, jika ingin maju, Bunda harus berusaha sendiri.
Ibu selalu berpesan, “Sekolah yang sungguh-sungguh, Nak. Ilmu itu bekal seumur hidup.”
Kalimat itu menjadi nyala kecil dalam hati Bunda, cahaya yang menuntun langkah-langkah Bunda ke depan.
Saat remaja, Bunda mulai mengenal lebih banyak hal tentang dunia di luar rumah. Bunda belajar bersosialisasi, berorganisasi, dan memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang diri sendiri.
Kadang Bunda ikut membantu kegiatan kampung, seperti gotong royong, acara keagamaan, atau sekadar membantu anak-anak kecil belajar mengaji. Setiap interaksi kecil itu memperluas cara pandang Bunda terhadap kehidupan.
Ada masa ketika Bunda merasa minder, melihat teman-teman yang berasal dari keluarga yang lebih berada. Namun setiap kali rasa itu muncul, Bunda selalu teringat wajah Ayah dan Ibu.
Mereka tidak pernah menuntut Bunda untuk menjadi yang terbaik, hanya meminta agar Bunda menjadi orang yang berguna.
Dari situlah Bunda mulai mengubah cara pandang: bahwa ukuran kesuksesan bukanlah seberapa tinggi posisi kita, tapi seberapa bermanfaat kita bagi sekitar.
Setelah lulus SMA, Bunda melanjutkan kuliah di Universitas 17 Agustus Cirebon, jurusan Administrasi Niaga.
Keputusan ini Bunda ambil dengan penuh semangat dan rasa ingin tahu. Dunia perkuliahan mempertemukan Bunda dengan banyak hal baru, cara berpikir, cara bersikap, dan cara melihat hidup dari berbagai sisi.
Bunda belajar bahwa komunikasi dan pelayanan adalah dua hal penting yang bisa membuka jalan bagi kebaikan.
Di masa kuliah, Bunda mulai semakin percaya diri berbicara di depan umum.Bunda juga sering terlibat dalam kegiatan kampus, seperti organisasi mahasiswa dan kegiatan sosial.
Bunda tidak mengejar popularitas, tapi ingin belajar bagaimana menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Bunda belajar mendengarkan orang lain dengan hati, belajar memahami bahwa setiap orang punya cerita dan perjuangannya sendiri.
Masa kuliah juga mengajarkan Bunda tentang tanggung jawab dan disiplin. Ada saat-saat sulit, ketika tugas menumpuk, biaya kuliah terbatas, atau rasa rindu rumah datang tiba-tiba.
Namun di setiap kesulitan itu, Bunda selalu menemukan alasan untuk bertahan: doa Ibu, semangat Ayah, dan keyakinan bahwa semua usaha tidak akan sia-sia.
Ia bukan sosok yang selalu menjadi pusat perhatian di kelas. Namun ia adalah pribadi yang tekun. Ia percaya bahwa keberhasilan bukan ditentukan oleh siapa yang paling cepat, tetapi oleh siapa yang tidak berhenti berusaha.
Ada masa ketika pelajaran terasa sulit, ketika rasa percaya diri sempat goyah, dan ketika kelelahan menjadi teman sehari-hari. Namun ia tidak pernah memilih untuk menyerah. Pesan sederhana dari orang tuanya selalu ia pegang, bahwa setiap usaha tidak akan pernah sia-sia.
Di sekolah, Bunda bertemu dengan guru-guru yang tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing. Dari mereka, ia belajar bahwa ilmu tidak cukup hanya dipahami, tetapi harus disertai dengan sikap yang baik.
Bunda belajar bagaimana menghargai waktu, bagaimana bersikap disiplin, bagaimana menghormati orang lain, dan bagaimana membangun hubungan yang baik dengan sesama.
Persahabatan juga menjadi bagian penting dalam perjalanan ini. Dari teman-teman, ia belajar tentang kebersamaan, tentang saling mendukung, dan tentang arti hadir untuk satu sama lain.
Perjalanan pendidikan ini tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga membentuk hati.
Ia mulai memahami bahwa pendidikan adalah jalan untuk membuka peluang, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk memberi manfaat bagi orang lain.
Setiap langkah menuju sekolah adalah langkah menuju masa depan. Dan perlahan, ia mulai melihat bahwa apa yang ia pelajari hari ini akan menjadi bekal untuk peran-peran besar di masa yang akan datang. Di fase inilah terbentuk keyakinan dalam dirinya, bahwa belajar tidak akan pernah berhenti. Bahwa ilmu adalah investasi jangka panjang. Dan bahwa karakter adalah hasil dari proses yang terus dijalani.