Duamata.id – Tidak semua hasil pembangunan lahir dari suara alat berat. Tidak semua perubahan dimulai dari peletakan batu pertama. Ada kalanya pembangunan berawal dari sebuah pertemuan, dari keberanian menyampaikan aspirasi, dan dari kegigihan memperjuangkan kepentingan masyarakat di meja pengambilan keputusan.
Itulah yang terlihat ketika Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, memimpin rombongan KUNCI BERSAMA bertemu dengan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, Agus Harimurti Yudhoyono, di Jakarta.
Bagi sebagian orang, pertemuan tersebut mungkin hanya dianggap agenda formal pemerintahan. Namun jika dicermati lebih dalam, ada makna yang jauh lebih besar.
Di tengah keterbatasan fiskal daerah, Bupati Dian memilih tidak berdiam diri menunggu bantuan datang. Ia justru aktif menjemput peluang, mengetuk pintu pemerintah pusat, dan membawa langsung berbagai kebutuhan masyarakat Kuningan ke tingkat pengambil kebijakan nasional.

Persoalan sedimentasi Waduk Darma, optimalisasi Waduk Kuningan, pembangunan jalan lingkar, hingga kebutuhan peningkatan sejumlah ruas jalan bukanlah persoalan kecil.
Semua itu berkaitan langsung dengan pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan, investasi, hingga kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
Yang patut diapresiasi, Dian tidak hanya berbicara untuk Kabupaten Kuningan. Sebagai Ketua Sekretariat KUNCI BERSAMA, ia juga mampu membangun komunikasi dan kolaborasi lintas daerah.
Sebuah langkah yang menunjukkan bahwa pembangunan masa depan tidak lagi bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui kerja sama kawasan yang saling menguatkan.
Kemampuan membangun jejaring dan komunikasi dengan pemerintah pusat menjadi salah satu modal penting bagi seorang kepala daerah.
Sebab dalam realitas pembangunan saat ini, daerah yang mampu memperjuangkan programnya dengan baik akan memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan perhatian dan dukungan dari pemerintah pusat.
Pertemuan dengan AHY menunjukkan bahwa Kuningan tidak sedang berjalan sendiri. Di bawah kepemimpinan Dian Rachmat Yanuar, daerah ini berusaha menempatkan dirinya sebagai bagian dari kawasan strategis yang memiliki potensi besar untuk tumbuh dan berkembang.
Kesediaan AHY menjadi Dewan Penasehat KUNCI BERSAMA juga menjadi sinyal positif bahwa aspirasi yang disampaikan mendapat perhatian serius.
Tentu masyarakat berharap perhatian tersebut dapat berlanjut dalam bentuk dukungan nyata terhadap berbagai program pembangunan yang telah diperjuangkan.
Pembangunan memang membutuhkan anggaran. Tetapi sebelum anggaran turun, dibutuhkan terlebih dahulu pemimpin yang mau bergerak, membangun komunikasi, dan memperjuangkan kepentingan rakyatnya tanpa lelah.
Apa yang dilakukan Dian Rachmat Yanuar di Jakarta mungkin belum langsung menghadirkan jalan baru atau menyelesaikan sedimentasi waduk dalam sekejap.
Namun setidaknya, langkah itu menunjukkan satu hal penting: Kuningan memiliki pemimpin yang tidak hanya bekerja di balik meja, tetapi juga hadir di pusat-pusat pengambilan keputusan untuk memastikan suara daerah didengar.
Karena pada akhirnya, kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar potensi yang dimiliki, tetapi juga oleh seberapa kuat ikhtiar pemimpinnya dalam memperjuangkan masa depan masyarakatnya.
Dan dalam konteks itulah, langkah Dian Rachmat Yanuar bersama KUNCI BERSAMA layak mendapat apresiasi sebagai bagian dari upaya membuka jalan yang lebih baik bagi Kabupaten Kuningan dan kawasan sekitarnya.
Catatan Mang Duta


Leave a comment