Duamata.id – Malam sudah lewat pukul sebelas ketika lampu di ruang kerja itu masih menyala. Di atas meja, tumpukan map berwarna-warni tersusun rapi, terlalu rapi untuk sesuatu yang seharusnya hidup.
Ia membuka satu per satu.
“Launching Program A.”
“Grand Opening Inovasi B.”
“Deklarasi Gerakan C.”
Semua terdengar besar. Semua tampak meyakinkan.
Tapi hanya sampai halaman kedua.
Setelah itu, kosong.
Tidak ada laporan lanjutan. Tidak ada evaluasi. Tidak ada cerita tentang siapa yang benar-benar berubah karena program itu. Hanya foto-foto: pita dipotong, tepuk tangan, spanduk besar, wajah-wajah tersenyum.
Ia menghela napas panjang.
Sebagai pemimpin, ia pernah bangga melihat anak buahnya penuh inisiatif. Ide-ide bermunculan, kegiatan terus berjalan, agenda tak pernah kosong. Setiap minggu selalu ada sesuatu yang “diluncurkan”.
Ia pikir itu tanda hidup.
Sampai ia mulai menyadari: yang hidup hanya panggungnya, bukan programnya.
Ia berdiri, berjalan mendekati jendela. Di luar, kota sudah hampir tertidur. Hanya lampu-lampu jalan yang setia, tanpa seremoni, tanpa spanduk, tapi terus bekerja tanpa henti.
“Kenapa harus selalu launching…” gumamnya pelan.
Ia tahu jawabannya.
Karena launching itu mudah terlihat.
Karena launching itu cepat mendapat tepuk tangan.
Karena launching itu membuat seseorang tampak bekerja, tanpa harus benar-benar bekerja lama.
Dan yang paling mengganggu pikirannya, apakah selama ini mereka melakukan itu… untuknya?
Untuk membuatnya terkesan.
Untuk membuatnya percaya bahwa semuanya berjalan baik-baik saja.
Padahal yang dibangun hanyalah panggung-panggung rapuh.
Ia kembali duduk, membuka satu map lagi. Kali ini berbeda. Tidak banyak foto. Tidak ada spanduk besar. Tapi ada catatan kecil, laporan sederhana, bahkan coretan tangan tentang kendala di lapangan.
Di halaman terakhir, ada satu kalimat:
“Program ini belum berhasil, tapi kami masih mencoba memperbaikinya.”
Ia terdiam lebih lama dari biasanya.
Kalimat itu jujur. Dan entah kenapa, terasa lebih “hidup” dibanding semua laporan yang penuh kata-kata megah.
Ia mulai mengerti, masalahnya bukan pada kurangnya kerja.
Masalahnya pada arah.
Anak buahnya terlalu sibuk membangun panggung, sampai lupa membangun fondasi.
Dan ia… mungkin tanpa sadar pernah memberi tepuk tangan pada hal yang salah.
Ia pernah memuji seremoni, bukan keberlanjutan.
Ia pernah mengapresiasi kemeriahan, bukan dampak.
Dan dari situlah semuanya tumbuh, budaya yang lebih menghargai awal daripada proses.
Ia menatap lagi tumpukan map itu.
Seketika terasa seperti bom waktu.
Karena ia tahu, panggung yang rapuh tidak hanya runtuh diam-diam. Kadang ia jatuh dengan suara keras dan yang berdiri di atasnya ikut terseret.
Termasuk dirinya.
Pagi harinya, ia mengumpulkan semua.
Tidak ada marah. Tidak ada suara tinggi.
Ia hanya berkata pelan, tapi jelas:
“Kalau hanya untuk terlihat hebat di depan saya, hentikan.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
“Saya tidak butuh launching,” lanjutnya. “Saya butuh kelanjutan.”
Beberapa orang saling pandang. Ada yang menunduk.
“Kalian boleh bikin panggung,” katanya lagi, “tapi pastikan itu panggung yang bisa dipakai lama. Bukan panggung sekali pakai yang nanti runtuh… dan kita semua ikut jatuh.”
Ia berhenti sejenak.
“Kalau harus memilih, saya lebih bangga pada program kecil yang jalan terus… daripada program besar yang hanya hidup sehari.”
Tak ada tepuk tangan.
Tak ada foto.
Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa sedang membangun sesuatu yang nyata.
Dan di dalam dirinya, kegundahan itu perlahan berubah menjadi keputusan:
Lebih baik panggung sepi tapi kokoh, daripada gemerlap yang hanya menunggu waktu untuk roboh.
Cerpen oleh Mang Duta
Leave a comment