Home Opini Kebudayaan Itu Nafas, dan Kita Sedang Menjaganya Bersama

Kebudayaan Itu Nafas, dan Kita Sedang Menjaganya Bersama

Share
Share

Duamata.id – Minggu ini, orang-orang yang ‘dianggap’ peduli akan budaya yang ada di Kabupaten Kuningan  akan berdiri di sebuah ruangan.

Ada pelantikan.
Ada sumpah.
Ada tepuk tangan.

Dewan Kebudayaan Kuningan resmi “dilahirkan kembali” dengan wajah baru, harapan baru, dan tentu saja… beban lama yang belum tentu ringan.

Saya tidak ingin ikut larut dalam euforia seremoni. Karena kebudayaan tidak pernah lahir dari mikrofon, tapi dari kehidupan sehari-hari.

Dari dapur yang masih menanak nasi liwet, dari anak-anak yang masih mau belajar kecapi, dari obrolan warung kopi yang kadang lebih jujur daripada forum resmi.

Pertanyaannya sederhana, apakah Dewan Kebudayaan ini akan hidup di tengah masyarakat, atau hanya hidup di atas kertas dan agenda?

Kebudayaan Kuningan bukan benda mati yang butuh dipajang, tapi makhluk hidup yang harus dirawat. Ia tumbuh dari akar, bukan dari baliho. Ia berkembang dari kebiasaan, bukan dari proposal.

Kita sering keliru memahami kebudayaan. Kita mengira ia hanya tentang tari, musik, atau festival tahunan.

Padahal kebudayaan adalah cara kita memperlakukan orang tua, cara kita menyapa tetangga, cara kita menjaga gunung dan mata air.

Bahkan cara kita berbeda pendapat tanpa saling menjatuhkan, itu juga budaya.

Dewan Kebudayaan seharusnya tidak sibuk menjadi “penonton kehormatan” di setiap acara.

Mereka harus turun, mendengar, bahkan kalau perlu… duduk lebih lama di saung daripada di ruang rapat.

Harapan saya sederhana, tapi mungkin terdengar keras:

Jangan jadikan kebudayaan sebagai proyek.
Jangan ukur keberhasilan dari jumlah acara.
Jangan bangga hanya karena panggung megah, sementara pelaku seninya masih berjuang sendiri.

Rawat budaya itu seperti merawat keluarga. Tidak selalu harus ramai, tapi harus konsisten. Tidak selalu harus besar, tapi harus tulus.

Kuningan punya segalanya, tradisi, nilai, cerita, dan orang-orang yang masih percaya bahwa budaya bukan sekadar masa lalu, tapi masa depan yang sedang kita jaga bersama.

Dewan Kebudayaan Kuningan, jika ingin benar-benar berarti, jangan hanya hadir saat dilantik. Hadirlah saat budaya hampir dilupakan.
Jangan hanya bersuara di forum, tapi juga di tengah masyarakat.

Karena pada akhirnya, kebudayaan tidak akan bertanya siapa yang dilantik.
Ia hanya akan bertahan… pada mereka yang mau merawatnya.

Minggu ini, sebuah momentum lahir di Kuningan. Bukan sekadar pelantikan Dewan Kebudayaan, tapi penegasan bahwa kita belum menyerah pada identitas kita sendiri.

Di tengah arus zaman yang serba cepat, keputusan untuk tetap merawat budaya adalah tanda bahwa kita masih percaya pada akar.

Saya memilih untuk optimis.

Karena setiap zaman selalu melahirkan orang-orang yang bersedia menjaga, meski tidak selalu terlihat. Dan hari ini, harapan itu disematkan pada Dewan Kebudayaan Kuningan.

Kebudayaan kita tidak rapuh. Ia hanya butuh disentuh dengan kesungguhan. Ia tidak hilang, hanya kadang terabaikan. Dan kabar baiknya, selalu ada cara untuk menghidupkannya kembali.

Bayangkan jika Dewan Kebudayaan tidak hanya hadir di panggung, tapi juga di kampung-kampung.

Bayangkan jika anak-anak muda kembali merasa bangga memainkan alat musik tradisional, bukan karena kewajiban, tapi karena kecintaan.

Bayangkan jika setiap kegiatan budaya bukan sekadar acara, tapi menjadi gerakan yang mengakar.

Itu bukan mimpi. Itu sangat mungkin.

Kuningan punya kekuatan yang sering kita lupakan: kebersamaan dan rasa memiliki. Jika Dewan Kebudayaan mampu merangkul, bukan hanya mengatur, maka budaya akan tumbuh tanpa harus dipaksa.

Harapan saya bukan sekadar besar, tapi jelas:

Semoga Dewan Kebudayaan menjadi rumah bagi semua pelaku budaya, bukan menara yang jauh dari jangkauan.

Menjadi penggerak, bukan sekadar pengamat.
Menjadi penyambung, bukan pembatas.

Optimisme itu bukan tanpa alasan. Kita sudah melihat banyak komunitas yang bergerak dengan caranya sendiri.

Tinggal bagaimana Dewan Kebudayaan hadir untuk memperkuat, menyatukan, dan memberi arah tanpa mematikan kreativitas.

Kita tidak kekurangan budaya. Kita hanya perlu lebih serius merawatnya.

Dan saya percaya, pelantikan minggu ini bukan garis akhir, tapi titik awal dari kerja besar yang akan memberi warna baru bagi Kuningan.

Akan ada tantangan, tentu. Akan ada perbedaan pandangan, pasti. Tapi selama niatnya sama menjaga dan memajukan kebudayaan maka jalan akan selalu terbuka.

Mari kita rawat bersama.
Bukan dengan keraguan, tapi dengan keyakinan.

Karena kebudayaan bukan hanya warisan yang harus dijaga, tapi masa depan yang sedang kita bangun hari ini.

Oleh : Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Disdikbud Kabupaten Kuningan, Surya, S.Pd., M.M.,

Sumber : https://kangsurya.com/kebudayaan-itu-nafas-dan-kita-sedang-menjaganya-bersama/

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Panggung yang Terlalu Cepat Didirikan

Duamata.id - Malam sudah lewat pukul sebelas ketika lampu di ruang kerja itu masih menyala. Di atas meja, tumpukan map berwarna-warni tersusun rapi,...

Related Articles

Panggung yang Terlalu Cepat Didirikan

Duamata.id - Malam sudah lewat pukul sebelas ketika lampu di ruang kerja...

Pada Mereka yang Mengingatkanku Jalan Pulang

DUamata.id - Namanya pernah dikenal. Tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membuat...

Langkah yang Tidak Dipilihkan

Duamata.id - Di sebuah meja warung kopi, papan catur itu terhampar seperti...

Bupati Dian Buka Turnamen Catur, Siapkan Jalan Menuju Grand Master

KUNINGAN — Suasana GOR Ewangga mendadak dipenuhi “perang sunyi” penuh strategi. Ratusan...