Duamata.id – Di bawah kepemimpinan , pelantikan pejabat di Kabupaten Kuningan tidak hanya menjadi agenda administratif, tetapi juga perlahan menjelma sebagai cara memperkenalkan wajah daerah itu sendiri, alamnya, wisatanya, sekaligus jiwanya.
Kuningan memang bukan daerah yang kekurangan ruang indah. Dari kaki hingga lereng , hamparan hijau dan udara sejuk seperti sudah menjadi identitas.
Maka ketika pelantikan digelar di tempat seperti Cadas Poleng, suasana yang hadir bukan sekadar seremoni, tetapi pengalaman yang lebih utuh, resmi, tapi tetap terasa hidup.
Prosesi tetap berjalan sebagaimana mestinya. Rapi, tertib, dan penuh khidmat. Namun di balik itu, ada lanskap yang berbicara tanpa perlu banyak kata.
Gunung di kejauhan, angin yang berembus pelan, dan langit yang terbuka, semuanya seperti mengingatkan bahwa tugas seorang pejabat tidak hanya berkutat pada meja kerja, tetapi juga bersentuhan dengan ruang-ruang kehidupan yang lebih luas.
Hal serupa terasa saat pelantikan digelar di Desa Cibuntu. Desa wisata yang dikenal dengan kearifan lokal dan keasriannya itu memberikan nuansa berbeda.
Bukan sekadar tempat yang indah, tetapi juga representasi kehidupan masyarakat yang sesungguhnya.
Di sana, pejabat tidak hanya dilantik, tetapi seolah diajak “melihat” langsung denyut desa yang menjadi bagian dari tanggung jawab mereka.
Kemudian di Kebun Raya Kuningan, pesan yang muncul terasa lebih tenang namun dalam. Ruang hijau yang tertata menghadirkan kesadaran tentang pentingnya keseimbangan, antara pembangunan dan pelestarian, antara kebijakan dan keberlanjutan.
Jika ditarik lebih jauh, pilihan lokasi-lokasi ini seperti menyiratkan satu hal: bahwa Kuningan tidak hanya ingin membangun birokrasi yang kuat, tetapi juga menjaga identitasnya sebagai daerah yang bertumpu pada alam dan pariwisata.
Pelantikan yang biasanya identik dengan gedung pemerintahan, kini menjadi bagian dari narasi wisata itu sendiri.
Bukan untuk mengurangi kesakralan, tetapi justru memperkaya makna. Alam Kuningan seakan dilibatkan sebagai saksi, bahwa setiap jabatan yang diemban harus sejalan dengan karakter daerahnya.
Ada semacam pesan halus yang dibawa, bahwa pejabat Kuningan bukan hanya bekerja untuk masyarakat, tetapi juga untuk menjaga ruang hidupnya.
Gunung, hutan, desa, dan lingkungan bukan sekadar latar belakang, melainkan bagian dari tanggung jawab itu sendiri.
Pendekatan ini terasa sederhana, tapi kuat. Tanpa perlu banyak slogan, Kuningan menunjukkan dirinya, bahwa birokrasi bisa berjalan berdampingan dengan alam, bahwa formalitas tidak harus kaku, dan bahwa keindahan daerah bisa menjadi bagian dari cara membangun kesadaran.
Pada akhirnya, pelantikan di ruang-ruang wisata ini bukan sekadar variasi tempat. Ia menjadi pengingat bahwa setiap kebijakan yang lahir nantinya akan kembali ke tempat-tempat itu, ke desa, ke alam, ke masyarakat. Dan di sanalah, makna pengabdian benar-benar diuji.
Mang Duta
Leave a comment