“Jabatan itu amanah. Jangan pernah meminta jabatan.”
Kalimat itu meluncur tenang dari bibir seorang ASN, dengan nada yang cukup teduh untuk membuat orang lain mengangguk. Ia mengucapkannya di sela-sela kesibukan mengikuti manajemen talenta, sebuah proses yang katanya, bukan untuk meminta, melainkan untuk… “menyiapkan diri.”
Saya menatapnya sebentar. Lalu menatap map tebal di tangannya. Lalu menatap lagi wajahnya yang tampak yakin, seperti seseorang yang sudah berdamai dengan takdir yang kebetulan arahnya ke kursi yang lebih empuk.
“Betul sekali, Pak,” jawab saya pelan. “Tidak boleh meminta.”
Ia tersenyum, merasa menemukan kawan sejalan.
Beberapa menit kemudian, ia mulai bercerita.
Tentang pengalaman.
Tentang capaian.
Tentang betapa ia sudah lama mengabdi.
Tentang bagaimana ia merasa… siap.
“Kalau amanah itu datang, ya harus diterima,” katanya mantap.
Saya mengangguk lagi.
Memang, tidak ada kata “meminta” di sana.
Yang ada hanya rangkaian kalimat yang secara kebetulan mengarah ke satu kesimpulan: kalau bukan dia, sayang sekali.
Di ruang itu, banyak orang seperti dia.
Orang-orang yang tidak meminta jabatan.
Mereka hanya:
- Mendaftarkan diri,
- Menyusun makalah,
- Mempresentasikan gagasan,
- Meyakinkan penilai,
- dan berharap… tanpa pernah menyebut kata berharap.
Semuanya dilakukan dengan satu prinsip:
jangan terlihat meminta.
“Ini kan sistem merit,” lanjutnya lagi, kali ini lebih semangat.
“Yang terbaik yang akan dipilih.”
Saya menahan senyum.
“Berarti Bapak yakin termasuk yang terbaik?”
Ia tidak menjawab langsung.
Hanya tersenyum tipis, lalu berkata,
“Saya hanya berusaha menunjukkan kapasitas.”
Ah, kapasitas.
Kata yang lebih sopan dari ambisi.
Lebih halus dari keinginan.
Dan jauh lebih bisa diterima daripada kejujuran.
Saya mulai paham.
Di dunia ini, meminta jabatan memang tidak pantas.
Maka orang-orang tidak lagi meminta.
Mereka hanya memastikan bahwa semua orang tahu, bahwa mereka pantas diminta.
“Intinya,” katanya menutup pembicaraan,
“kita tidak boleh mengejar jabatan. Biarkan jabatan yang mencari kita.”
Saya mengangguk lagi, kali ini lebih dalam.
Sambil diam-diam mencatat satu hal penting:
Bahwa sekarang, cara paling elegan untuk mengejar jabatan adalah dengan berlari sangat kencang… lalu berpura-pura sedang berdiri diam.
Ia pun kembali ke ruang seleksi, dengan langkah mantap.
Bukan untuk meminta jabatan, tentu saja.
Hanya untuk memastikan, ketika amanah itu dibagikan, namanya sudah berdiri paling depan, dengan sikap yang sangat tidak terlihat seperti sedang meminta.
Hanya Cerpen by Mang Duta
Leave a comment