Home Profil Sosok ‘Indung Kuring’ yang Diam-Diam Menginspirasi

Sosok ‘Indung Kuring’ yang Diam-Diam Menginspirasi

Share
Share

KUNINGAN – Momentum Hari Kartini tahun ini menghadirkan sosok yang tak biasa di Kuningan.
Bukan sekadar aktivis perempuan, bukan pula tokoh seremonial.

Ia adalah Hj. Elit Nurlitasari, perempuan yang diam-diam menembus ruang-ruang yang selama ini didominasi laki-laki dan kini dikenal luas dengan satu panggilan penuh makna: “Indung Kuring.” Sapaan itu bukan gelar, lahir dari kepercayaan.

Di saat isu emansipasi sering ramai diperbincangkan, Hj. Elit justru memilih cara berbeda, langsung membuktikan.

Ia adalah seorang pengacara, profesi yang masih identik dengan laki-laki. Namun ia tidak berhenti di situ. Ia berdiri di garis depan sebagai Ketua Umum lembaga bantuan hukum yang ia dirikan sendiri.

Belum cukup, ia kembali membuat publik menoleh saat dipercaya sebagai Dewan Pengawas LPPL Kabupaten Kuningan periode 2025–2030, posisi strategis yang selama ini lebih banyak diisi laki-laki.

Dan yang paling mengejutkan, ia juga menjadi pembina Ikatan Wartawan Online Kota Bekasi, di tengah dominasi anggota laki-laki.

Dalam wawancara khusus, Hj. Elit menyampaikan pandangan yang justru menohok.

“Emansipasi bukan soal melawan laki-laki.
Tapi tentang membuktikan bahwa perempuan mampu berdiri sejajar,” ujarnya.

Baginya, yang terpenting bukan label, tetapi kesiapan untuk memikul tanggung jawab.

Meski kini mengemban jabatan strategis, publik justru lebih mengenalnya lewat sapaan sederhana: “Indung Kuring.”

Dalam budaya Sunda, panggilan itu bukan sembarang sebutan. Ia adalah simbol kedekatan, kepercayaan, dan peran keibuan yang melampaui hubungan keluarga.

Hj. Elit pun menyadari, sapaan itu bukan kehormatan semata melainkan tanggung jawab besar.

“Itu bukan sesuatu yang saya minta. Tapi lahir dari masyarakat. Artinya saya harus benar-benar hadir untuk mereka,” katanya.

Di posisi barunya sebagai Dewan Pengawas LPPL, Hj. Elit membawa visi yang tidak ringan. Ia ingin media publik lokal tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga ruang edukasi dan dialog masyarakat.

Di tengah derasnya arus digital, ia menekankan pentingnya media yang tetap berakar pada budaya lokal namun mampu beradaptasi dengan zaman.

Di peringatan Hari Kartini yang sering diwarnai seremoni, sosok Hj. Elit hadir dengan cara berbeda.
Tanpa banyak deklarasi, ia menunjukkan bahwa emansipasi itu nyata, hidup, bekerja, dan dirasakan masyarakat.

Dan mungkin, di situlah makna Kartini masa kini menemukan bentuknya. Bukan sekadar dikenang, tetapi dijalankan. (Bengpri)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Tak Semua Perjuangan Terlihat, Ini Pesan Menyentuh Wabup Tuti untuk Perempuan Kuningan

KUNINGAN – Tidak semua perjuangan terlihat. Namun bagi banyak perempuan, hidup adalah...

Stunting Masih Jadi Alarm Serius, Wabup Tuti Andriani Kumpulkan Semua Kekuatan di Kuningan

KUNINGAN – Isu stunting kembali menjadi sorotan serius di Kuningan. Wakil Bupati...

67 Pejabat Berebut Kursi Strategis, Bupati Dian Rachmat Yanuar Tegaskan: Tak Ada Pengkondisian!

KUNINGAN — Sebanyak 67 pejabat Eselon III bersaing dalam uji kompetensi teknis...

Di Balik ‘Jejak Hati’, Ada Perempuan yang Selalu Menguatkan

KUNINGAN — Peringatan Hari Kartini ke-147 di Kabupaten Kuningan menyimpan satu momen...