Home Cerpen Kartini yang Terlalu Sibuk

Kartini yang Terlalu Sibuk

Share
Share

Duamata.id – Di gang sempit itu, setiap pagi selalu dimulai dengan suara yang sama, suara grup WhatsApp “Perempuan Hebat RW 05” yang tak pernah tidur.

“Reminder ya ibu-ibu, jam 08.00 rapat PKK.” “Jangan lupa bawa snack sehat (no gorengan ).” “Dresscode kebaya krem.”

Bu Rani sudah bangun sejak subuh. Bukan untuk memasak, bukan pula menyiapkan sarapan anak-anaknya.

Ia sibuk memilih kebaya mana yang paling “mewakili semangat emansipasi hari ini.” Setelah itu, ia membuka lemari, bukan untuk mencari beras, tapi mencari pin organisasi mana yang cocok dipakai di dada.

“Bu, sarapan?” tanya Dika, anak sulungnya, sambil mengintip dapur yang kosong seperti janji politik.

“Ambil saja mie instan, Nak. Ibu lagi ada agenda penting,” jawab Bu Rani sambil bercermin, memastikan lipstiknya setara dengan semangat Kartini.

Dika mengangguk pelan. Ia sudah hafal. Agenda penting ibunya lebih sering ada di luar rumah daripada di dalam.

Sementara itu, di ruang tamu, suami Bu Rani sedang duduk dengan kemeja kusut yang belum disetrika.

Ia menatap papan tulis kecil yang dulu dipakai anaknya belajar, kini penuh coretan jadwal ibunya:
Senin: Arisan RT
Selasa: Rapat PKK
Rabu: Komunitas Senam Ceria
Kamis: Workshop “Perempuan Berdaya”
Jumat: Rapat Persiapan Seminar Perempuan Inspiratif
Sabtu: Outing Komunitas
Minggu: “Me Time”

Tak ada satu pun tertulis: “Waktu untuk keluarga.”

“Ibu pulang jam berapa?” tanya suaminya pelan.

“Lihat nanti ya, tergantung hasil rapat. Ini kan demi kemajuan perempuan,” jawab Bu Rani mantap.

Kalimat itu selalu terdengar besar. Terlalu besar, sampai-sampai rumah kecil itu terasa makin mengecil.
Di balai desa, suasana meriah.

Spanduk besar bertuliskan: “Semangat Kartini: Perempuan Mandiri, Keluarga Harmoni.”

Bu Rani berdiri di depan, memegang mikrofon.
“Ibu-ibu, kita harus menjadi perempuan hebat! Perempuan yang aktif, produktif, dan berkontribusi bagi masyarakat!”

Tepuk tangan bergemuruh.

“Dan jangan lupa,” lanjutnya, “keluarga adalah prioritas utama kita.”

Tepuk tangan makin keras.

Di barisan belakang, Bu Sari yang jarang ikut kegiata hanya tersenyum tipis. Ia datang bukan untuk tampil, hanya untuk memenuhi undangan.

Pikirannya melayang ke rumah, ke anaknya yang sedang belajar membaca, ke suaminya yang menunggu makan siang hangat.

Ia tak pandai bicara soal emansipasi. Tapi ia tahu kapan anaknya butuh ditemani, dan kapan suaminya butuh didengar.

Sore hari, Bu Rani pulang dengan wajah lelah tapi bangga.

“Alhamdulillah, acaranya sukses besar!” katanya sambil melepas sepatu.

Rumah sunyi.

Di meja makan, ada piring-piring kotor. Di dapur, mie instan bekas sarapan masih tersisa. Di kamar, Dika tertidur dengan buku terbuka di dadanya.

Bu Rani mendekat, perlahan.
Ia membaca tulisan di buku itu: “Tugas: Ceritakan tentang pahlawanmu.”

Di bawahnya, Dika menulis dengan huruf yang belum rapi:
“Pahlawanku adalah ibuku. Tapi sekarang ibu sering sibuk. Jadi aku belajar sendiri.”

Bu Rani terdiam.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa kalah oleh sesuatu yang tak pernah ia jadwalkan.

Malamnya, grup WhatsApp kembali ramai.
“Terima kasih atas partisipasinya ibu-ibu, kita luar biasa hari ini!” “Kita memang Kartini masa kini “

Bu Rani mengetik sesuatu, lalu menghapusnya.
Mengetik lagi, lalu menghapus lagi.
Akhirnya ia hanya membaca.

Di sampingnya, Dika terbangun dan memeluknya.
“Ibu besok di rumah?” tanyanya polos.

Bu Rani menatap anaknya lama.
Ia tersenyum, kali ini tanpa lipstik, tanpa pin organisasi, tanpa panggung.

“Iya, besok ibu di rumah.”
Grup WhatsApp masih ramai.

Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, Bu Rani memilih diam.

Mungkin, ia baru saja mengerti: Menjadi Kartini bukan hanya tentang keluar rumah dan bersuara lantang,
tapi juga tentang hadir… di tempat yang paling membutuhkan.

Dan kadang, tempat itu bukan panggung.
Melainkan rumah.

Hanya Cerpen by Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Dari Lereng Darma ke Dunia, Kopi Kuningan Siap Go Internasional

KUNINGAN – Aroma kopi segar dari lereng Darma tak lagi sekadar dinikmati...

Bukan Sekadar Halal Bihalal, Wabup Tuti Tegaskan Peran Perempuan Kunci Peradaban di Milad ke-21 Salimah

KUNINGAN – Suasana hangat dan penuh makna terasa dalam peringatan Halal Bihalal...

Gerak Cepat Tangani Pergeseran Tanah, Tim PUTR Turun Sondir Tanah di Ciwiru–Padamatang

KUNINGAN – Ancaman pergeseran tanah di jalur Ciwiru–Padamatang membuat Pemerintah Kabupaten Kuningan...

Apresiasi Atlet Kuningan, Bupati Soroti Minimnya Anggaran hingga Ancaman Atlet Hijrah

KUNINGAN — Pemerintah Kabupaten Kuningan memberikan apresiasi kepada para atlet berprestasi dalam...