Home Ekonomi Ironi Daerah Penghasil Sayur: Warga Justru Beli ke Luar Daerah, Perumda AU Dorong Perubahan Sistem

Ironi Daerah Penghasil Sayur: Warga Justru Beli ke Luar Daerah, Perumda AU Dorong Perubahan Sistem

Share
Share

KUNINGAN — Di tengah statusnya sebagai daerah penghasil sayuran, Kabupaten Kuningan masih menghadapi ironi klasik: warga kerap membeli sayur dengan harga lebih wajar di luar daerah. Kondisi ini dinilai sebagai dampak panjang dari rantai distribusi yang belum berpihak pada petani maupun konsumen lokal.

Direktur Perumda Aneka Usaha (AU) Kabupaten Kuningan, Adang Kurniawan, SE, mengungkapkan bahwa persoalan tersebut bukan hal baru dan telah berlangsung selama puluhan tahun.

“Petani kita menanam di Kuningan, tapi ketika hasil panen keluar dari kebun, kendali harga dan distribusi berpindah. Rantai pasok ini sudah lama dikuasai oleh pihak-pihak tertentu, bahkan tidak sedikit yang berasal dari luar daerah,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat petani berada pada posisi yang lemah. Mereka kerap dihadapkan pada pilihan sulit antara menjual hasil panen dengan harga rendah kepada tengkulak atau menanggung kerugian akibat hasil yang tidak terserap pasar.

“Akibatnya, nilai tambah dari produk pertanian tidak tinggal di Kuningan. Di sisi lain, masyarakat justru membeli dengan harga yang sudah meningkat,” tambahnya.

Dalam konteks itu, Adang menjelaskan bahwa terbitnya Surat Edaran Bupati terkait penggunaan bahan pangan lokal serta peran Perumda AU merupakan bagian dari upaya memperbaiki sistem yang telah lama berjalan.

“Perlu dipahami, surat edaran ini bukan bentuk pemaksaan. Ini adalah imbauan yang memberi arah, agar kita mulai memperkuat ekonomi lokal dan lebih berpihak pada petani serta pelaku usaha di daerah sendiri,” jelasnya.

Ia menuturkan, Perumda AU didorong untuk berperan sebagai penghubung antara petani dan pasar, sekaligus memperpendek rantai distribusi yang selama ini terlalu panjang. Pemerintah daerah juga mendorong berbagai sektor seperti SPPG, rumah sakit, puskesmas, hotel, restoran, dan katering untuk memprioritaskan penggunaan bahan pangan lokal.

“Perumda AU hadir sebagai penyedia dan distributor. Tapi pola kerja samanya tetap fleksibel, bisa langsung atau melalui kemitraan, dengan tetap mempertimbangkan kualitas, harga, dan ketersediaan,” katanya.

Meski demikian, Adang mengakui bahwa upaya tersebut masih dalam tahap awal dan belum sepenuhnya berjalan sempurna.

“Kami tidak menutup mata. Stok belum selalu stabil, harga belum selalu bisa bersaing, dan dalam kondisi tertentu kami masih membutuhkan pasokan dari luar daerah untuk menjaga keseimbangan,” ungkapnya.

Namun ia menegaskan, langkah ini bukan untuk menciptakan monopoli, melainkan membangun sistem distribusi yang lebih sehat dan berkeadilan.

“Kami ingin membangun koneksi yang lebih kuat antara petani dan pasar. Tujuannya jelas, agar petani mendapatkan harga yang layak, masyarakat memperoleh harga yang wajar, dan nilai ekonomi bisa kembali ke daerah,” tegasnya.

Ke depan, Perumda AU akan terus membuka ruang dialog dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pelaku usaha lama, pemasok, dan petani.

“Mereka bukan pesaing, tapi bagian dari ekosistem yang harus kita jaga bersama,” ucapnya. (Bengpri).

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Gerak Cepat Tangani Pergeseran Tanah, Tim PUTR Turun Sondir Tanah di Ciwiru–Padamatang

KUNINGAN – Ancaman pergeseran tanah di jalur Ciwiru–Padamatang membuat Pemerintah Kabupaten Kuningan...

Apresiasi Atlet Kuningan, Bupati Soroti Minimnya Anggaran hingga Ancaman Atlet Hijrah

KUNINGAN — Pemerintah Kabupaten Kuningan memberikan apresiasi kepada para atlet berprestasi dalam...

Diserbu Warga! Wahana Baru di PUSPA Bikin Omzet Pedagang Naik Tajam

KUNINGAN — Suasana tak biasa terlihat di kawasan PUSPA Langlangbuana, Sabtu (18/04/2026)...

Situs Pemda, Website Resmi atau Portal Debat?

Duamata.id - Dulu, kita tahu fungsi website pemerintah daerah itu sederhana: menyampaikan...