Duamata.id – Dulu, kita tahu fungsi website pemerintah daerah itu sederhana: menyampaikan program, kegiatan, capaian, dan informasi resmi kepada publik. Bahasa yang dipakai pun biasanya satu nada formal, kaku, dan aman. Tidak banyak kejutan.
Tapi belakangan, ada yang berubah.
Website Pemda Kuningan mulai terasa seperti portal media online. Bukan karena tampilannya, tapi karena isinya. Bukan lagi sekadar laporan kegiatan atau pengumuman program, melainkan sudah masuk ke wilayah yang lebih “hangat”: memuat dinamika opini, tanggapan, bahkan nuansa perdebatan yang biasanya kita temui di media umum.
Sekilas, ini tampak progresif. Pemerintah terlihat responsif, hadir dalam percakapan publik, dan tidak alergi terhadap isu yang berkembang. Tapi di titik tertentu, muncul pertanyaan sederhana: ini masih kanal resmi pemerintah, atau sudah menjelma ruang editorial?
Website pemerintah seharusnya menjadi rujukan informasi yang jernih, bukan ruang tafsir yang berlapis. Ketika kontennya mulai menyerupai gaya pemberitaan media, lengkap dengan sudut pandang, respons terhadap opini, bahkan nuansa “klarifikasi”—maka batas antara informasi resmi dan narasi menjadi kabur.
Yang lebih menarik, jika memang ingin menyampaikan pandangan atau sikap, bukankah akan lebih tepat jika itu datang dari suara resmi? Misalnya dari staf ahli, asisten daerah, kepala dinas, atau kepala bagian figur yang memang secara struktural memiliki otoritas untuk berbicara atas nama pemerintah.
Dengan begitu, publik tidak hanya membaca “isi”, tapi juga memahami “siapa yang bertanggung jawab atas isi tersebut”.
Karena pada akhirnya, website pemerintah bukan sekadar soal konten, tapi soal legitimasi.
Jika ingin menjadi media, ya sekalian saja jadi media lengkap dengan redaksi dan rubrik opini. Tapi kalau tetap ingin menjadi website resmi pemerintah, maka konsistensi peran menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Di antara dua pilihan itu, yang paling berbahaya justru berada di tengah: tampak resmi, tapi bernapas seperti opini.
Dan publik, seperti biasa, hanya bisa menebak ini informasi, atau interpretasi?
Opini by Mang Duta
Leave a comment