Home Cerpen THR untuk UMKM Lokal… Tapi Mall Kota Sebelah yang Ramai, ada yang Berani Survei?

THR untuk UMKM Lokal… Tapi Mall Kota Sebelah yang Ramai, ada yang Berani Survei?

Share
Share

Duamata.id – Pagi itu, grup WhatsApp kantor ASN di Kabupaten Kuningan tiba-tiba ramai. Bukan karena rapat, bukan karena surat edaran baru, tapi karena satu kabar yang selalu berhasil membuat jempol semua orang lebih rajin mengetik.

THR cair minggu ini.

Di meja kerjanya, Pak Ardi, seorang ASN yang sudah cukup lama bekerja, membaca berita itu sambil tersenyum kecil. Ia menyeruput kopi, lalu membuka catatan kecil di ponselnya.

Judul catatan itu sederhana: “Rencana Belanja THR.”
Di dalamnya sudah tersusun rapi.

Baju lebaran anak — Mall Cirebon
Sepatu baru — Mall Cirebon
Tas istri — Mall Cirebon
Makan keluarga — restoran di Cirebon
Sisanya: lihat promo online

Pak Ardi mengangguk puas melihat daftar itu. Rapi. Terencana. Modern.

Di layar ponselnya, sebuah berita juga sedang terbuka. Isinya imbauan pemerintah agar ASN membelanjakan THR di UMKM lokal Kuningan supaya ekonomi daerah bergerak menjelang lebaran.

Pak Ardi membaca kalimat itu dengan penuh perhatian. Sangat penuh perhatian, bahkan.
Saking penuhnya, ia langsung menutup berita itu dan membuka aplikasi toko online.

“Diskon 70%,” gumamnya pelan.
“Sayang kalau dilewatkan.”

Di pojok pasar kota, Bu Sari sedang menata baju-baju lebaran di kios kecilnya. Ia pedagang lama. Sudah puluhan tahun berjualan di pasar yang sama.

Beberapa hari terakhir ia sering mendengar kabar yang sama.
“THR ASN mau cair.”

Biasanya itu kabar baik. Biasanya pasar jadi ramai. Biasanya.
Ia menata baju anak-anak di gantungan sambil berharap.
“Kalau THR cair, mungkin pasar ramai,” katanya pada pedagang sebelah.

Pedagang sebelah tertawa kecil.
“Ramai iya… tapi di mall.”
Mereka berdua tertawa. Tawa yang tipis, seperti suara plastik kresek.

Sementara itu di kantor, Pak Ardi masih serius merancang belanja. Ia bahkan membuka peta digital.
“Kalau berangkat pagi, parkir mall masih kosong,” pikirnya.

Di grup WhatsApp kantor, percakapan mulai seru.
“Belanja ke mana?”
“Cirebon.”
“Ada diskon di sana.”
“Mall baru juga bagus.”

Tidak ada yang menyebut pasar kota.
Tidak ada yang menyebut kios kecil.
Tidak ada yang menyebut Bu Sari.

Siang hari, seorang pejabat daerah memberikan pernyataan di media.
“THR ASN diharapkan bisa menggerakkan ekonomi lokal dan membantu UMKM.”

Kalimatnya bagus. Sangat bagus. Seperti kalimat yang memang dibuat untuk terdengar bagus.

Di kiosnya, Bu Sari sedang menunggu pembeli sambil memandangi jalan pasar yang tidak terlalu ramai.
Ia tidak tahu berapa besar THR ASN tahun ini.

Ia juga tidak tahu berapa persen dampaknya ke UMKM.
Yang ia tahu cuma satu.
Setiap tahun kabarnya selalu sama.
THR cair. Ekonomi bergerak. UMKM bergairah.

Tapi yang bergerak paling cepat biasanya justru kendaraan menuju kota sebelah.

Sore hari, Pak Ardi akhirnya menutup catatan belanjanya. Semua sudah siap.
Mall.
Restoran.
Toko online.

Ia lalu membaca lagi imbauan pemerintah di berita tadi.
“ASN diharapkan membelanjakan THR di UMKM lokal.”
Pak Ardi tersenyum.
“Ya… nanti juga,” katanya pelan.
Mungkin setelah pulang dari mall.
Mungkin setelah paket dari toko online datang.
Atau mungkin… tahun depan.

Di kios kecilnya, Bu Sari masih menunggu.
Seperti biasa.
Menunggu THR yang katanya akan menggerakkan ekonomi.

Meski sampai sekarang, ia masih bertanya dalam hati.
THR itu sebenarnya datang ke Kuningan… atau hanya lewat saja?

Menjelang malam, pasar mulai menutup satu per satu kiosnya. Lampu-lampu redup menyala seperti biasa, tidak terlalu ramai, tidak juga terlalu sepi. Sama saja seperti hari-hari sebelumnya.

Di rumahnya, Pak Ardi sedang membuka paket pertama dari toko online. Anak-anaknya senang, istrinya tersenyum melihat baju baru yang diskonnya hampir setengah harga.

“Lumayan, lebih murah,” katanya.

Di berita online, seorang pejabat daerah sedang diwawancarai.
“THR ASN diharapkan mampu menggerakkan ekonomi UMKM lokal,” ucapnya dengan nada optimis.

Pak Ardi mengangguk kecil sambil membuka plastik kemasan.
“Betul juga,” gumamnya.

Sementara itu di pasar, Bu Sari menutup tokonya. Ia menghitung uang hasil penjualan hari itu. Tidak buruk, tapi juga tidak seperti cerita yang sering ia dengar setiap kali THR cair.

Ia menatap jalan pasar yang mulai lengang.
Di suatu tempat, angka besar terus disebut-sebut

Rp74 miliar THR.

Angka yang terdengar megah. Angka yang katanya akan menggerakkan ekonomi daerah.
Tapi entah kenapa, tidak pernah ada yang benar-benar menghitung dengan jujur.

Berapa persen uang itu benar-benar berputar di kios kecil pasar?
Berapa persen yang mampir ke warung-warung kampung?
Berapa persen yang benar-benar sampai ke tangan UMKM lokal?

Atau justru lebih banyak yang mengalir ke mall kota sebelah, ke keranjang toko online, atau ke restoran yang alamatnya bahkan bukan di kabupaten ini?

Belum pernah ada survei yang benar-benar serius menjawabnya.
Mungkin karena hasilnya bisa membuat banyak orang tidak nyaman.

Apalagi kalau suatu hari nanti ada yang menemukan fakta yang agak lucu.
Bahwa orang yang paling sering mengimbau agar ASN berbelanja di UMKM lokal…
ternyata sedang duduk di sebuah kafe di kota sebelah,
memesan kopi dari jaringan waralaba nasional,
sambil membawa pulang tas belanja dari mall besar.

Kalau begitu, mungkin yang benar bukan THR yang menggerakkan ekonomi lokal.
Mungkin THR hanya menggerakkan kendaraan keluar daerah.

Dan seperti biasa, Bu Sari di pasar tetap menunggu.
Menunggu ekonomi yang katanya bergerak.
Walau kadang ia merasa, ekonomi itu memang bergerak…
hanya saja arahnya bukan ke kiosnya.

Hanya cerpen by Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Banjir Bekasi Disorot! Dedi Mulyadi: Tak Perlu Lagi Tunggu Pusat

Bekasi - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghadiri rapat paripurna Hari Ulang...

Rumah Sjahrir di Linggarjati: Orang Luar Tertarik, Orang Kuningan Masih Googling

Duamata.id - Pagi itu matahari Linggarjati naik perlahan dari balik Gunung Ciremai....

Fadli Zon Tertarik ke Kuningan! Museum Linggarjati Siap Didongkrak Jadi Magnet Wisata Dunia

JAKARTA – Upaya memperkenalkan kekayaan budaya Kabupaten Kuningan ke panggung internasional terus...

UMKM Kuningan Capai 42 Ribu, Sekda: Literasi Keuangan Jadi Kunci Agar Usaha Tak Jalan di Tempat

KUNINGAN — Pemerintah Kabupaten Kuningan menegaskan bahwa sektor usaha mikro, kecil, dan...