Duamata.id – Pagi itu matahari Linggarjati naik perlahan dari balik Gunung Ciremai. Udara masih segar, jalanan belum ramai. Di halaman Museum Gedung Perundingan Linggarjati, seorang penjaga menyapu daun kering yang jatuh semalaman.
Sapu lidi itu bergerak pelan, seperti sudah hafal ritme sepi.
“Sudah jam sembilan, Pak?” tanya seorang penjual minuman yang baru membuka payung kecil di depan museum.
“Sudah,” jawab penjaga itu sambil melihat halaman yang luas dan rapi.
“Rombongan sekolah?”
Penjaga itu menggeleng.
“Belum ada.”
Padahal, di gedung itulah dulu sejarah besar bangsa ditulis. Tempat berlangsungnya Perundingan Linggarjati, perundingan yang menjadi bagian penting perjalanan Republik.
Nama Linggarjati bahkan lebih dikenal di buku sejarah daripada di percakapan warung kopi di Kuningan sendiri.
Kadang ada bus pariwisata. Tapi lebih sering lewat begitu saja.
Sementara itu, beberapa kilometer dari sana, di Taman Purbakala Cipari, batu-batu besar dari zaman megalitikum berdiri diam seperti sedang menunggu cerita.
Batu menhir, dolmen, dan peninggalan purbakala lain tersusun rapi. Konon usianya ribuan tahun. Jauh lebih tua daripada gedung pemerintahan mana pun di Kuningan hari ini.Tapi pengunjungnya?
Kadang lebih sedikit dari jumlah batu yang ada.
Seorang petugas pernah bercanda, “Kalau batu-batu ini bisa bicara, mungkin mereka sudah protes dari dulu. ‘Kami menunggu manusia datang belajar sejarah, tapi manusia malah sibuk cari tempat selfie.’”
Di sebuah warung kopi di pusat kota Kuningan, obrolan lain berlangsung.
“Rumah Sjahrir itu di mana sih?” tanya seorang pemuda.
“Rumah siapa?”
“Sjahrir.”
“Perumahan baru ya?”
Padahal yang dimaksud adalah Gedung Sjahrir Linggarjati, rumah tempat Sutan Sjahrir pernah tinggal ketika masa diplomasi kemerdekaan. Tempat yang sebenarnya bisa menjadi bagian penting wisata sejarah.
Tapi bahkan banyak orang Kuningan sendiri belum pernah melihatnya.
Bukan karena jauh.
Bukan juga karena sulit.
Hanya… tidak pernah terpikir untuk ke sana.
Padahal pemerintah daerah sering berbicara tentang potensi wisata budaya. Tentang sejarah. Tentang warisan leluhur. Tentang kebanggaan daerah.
Spanduk seminar dipasang.
Diskusi digelar.
Presentasi dibuat.
Namun kadang yang sederhana justru terlupakan.
Misalnya satu pertanyaan kecil: sudahkah anak-anak sekolah di Kuningan benar-benar diajak mengenal sejarah daerahnya sendiri?
Di kalender kegiatan sekolah, ada banyak kewajiban. Renang misalnya. Study tour ke luar kota. Kunjungan ke tempat rekreasi.
Tapi kunjungan ke Museum Gedung Perundingan Linggarjati?
Atau ke Taman Purbakala Cipari?
Atau sekadar mencari tahu di mana Gedung Sjahrir Linggarjati berada?
Belum tentu.
Padahal jika setiap sekolah di Kuningan saja datang sekali setahun, halaman museum mungkin akan ramai oleh suara anak-anak.
Batu-batu purbakala mungkin akan kembali menjadi bahan cerita, bukan sekadar objek yang dipotret lalu dilupakan.
Sejarah sebenarnya tidak membutuhkan gedung megah.
Ia hanya butuh orang yang mau datang.
Pagi di Linggarjati semakin siang. Penjaga museum selesai menyapu halaman. Ia duduk sebentar di bangku kayu di depan gedung.
Dari kejauhan terdengar suara bus lewat di jalan raya.
Ia sempat menoleh.
Lalu tersenyum kecil.
Bus itu lewat begitu saja.
Hanya cerpen by Mang Duta
Leave a comment