Home Cerpen Hujan di Gerobak Kelapa

Hujan di Gerobak Kelapa

Share
Share

Duamata.id – Menjelang pukul empat sore, langit sudah seperti wajah orang yang sedang menahan tangis. Kelabu, berat, dan menggantung rendah.

Di pinggir jalan kecil dekat perempatan kampung, Pak Rafi mendorong gerobak kayunya pelan-pelan. Di atas gerobak itu ada tumpukan kelapa muda, termos besar berisi gula cair, dan kantong plastik berisi es batu yang mulai berembun.

Setiap Ramadan, tempat itu selalu jadi titik ramai. Orang-orang biasanya berhenti sebentar, membeli es kelapa muda untuk berbuka. Ada yang sekadar satu gelas, ada juga yang dibungkus tiga atau empat untuk dibawa pulang.

Tapi Ramadan tahun ini berbeda.

Hampir setiap sore hujan turun.

Bukan hujan biasa. Hujan besar yang membuat orang lebih memilih bertahan di rumah daripada keluar mencari takjil.

Pak Rafi sudah tahu tanda-tandanya.
Angin mulai berembus dingin. Daun-daun trembesi di pinggir jalan berisik saling bersentuhan.

“Ah… lagi-lagi hujan kayaknya,” gumamnya pelan.

Benar saja.
Tak lama kemudian, langit seperti membuka ember raksasa.

Hujan turun deras.

Jalan yang tadi mulai ramai tiba-tiba kosong. Motor-motor yang lewat berkurang, orang-orang yang biasanya berjalan sambil melihat gerobaknya pun tak ada.

Pak Rafi menarik napas panjang.

Ia menurunkan plastik besar dari bawah gerobak lalu menutup sebagian kelapa agar tidak basah. Air hujan tetap memercik dari segala arah.

Di kejauhan terdengar suara petir.

Ia duduk di bangku kecil di belakang gerobaknya.

Jam menunjukkan pukul 16.30.

Biasanya, di jam segini sudah ada tiga atau empat pembeli.

Hari ini belum ada satu pun.

Pak Rafi menatap hujan yang memantul di aspal. Air mengalir seperti sungai kecil di pinggir jalan.

Ia tidak marah pada hujan.

Tidak juga mengeluh.

Hanya saja, pikirannya melayang ke rumah.

Di sana ada istrinya yang sedang menyiapkan buka puasa sederhana. Ada dua anaknya yang mungkin sedang menunggu.

Bukan menunggu makanan.

Tapi menunggu kabar apakah dagangan ayahnya hari ini laku atau tidak.

Pak Rafi tersenyum kecil sendiri.

“Dagang itu ya begini,” katanya lirih, seperti sedang bicara dengan hujan.

Kadang ramai sampai tak sempat duduk.
Kadang sepi sampai suara sendiri terasa keras.

Waktu terus berjalan.

Pukul lima lewat.

Hujan belum juga berhenti.

Tiba-tiba sebuah motor berhenti di dekat gerobaknya. Seorang anak muda turun sambil berlari kecil menghindari hujan.

“Pak, es kelapa satu!”

Wajah Pak Rafi langsung cerah.

“Siap.”

Tangannya cekatan membelah kelapa. Bunyi tak! dari parang kecilnya terasa seperti musik di sore yang sepi itu.

Ia menuangkan air kelapa, menambahkan gula cair, lalu segenggam es batu.

“Gelas atau bungkus?”

“Bungkus aja, Pak.”

Anak muda itu menerima es kelapa dengan cepat.

“Kelihatannya seger banget, Pak.”

Pak Rafi tertawa kecil.

“Kalau lagi hujan, kelapa juga ikut senang diminum.”

Anak muda itu membayar lalu pergi.

Hanya satu bungkus.

Tapi entah kenapa hati Pak Rafi terasa lebih ringan.

Tak lama kemudian, hujan mulai mengecil. Jalan perlahan kembali hidup. Beberapa motor berhenti membeli.

Ada yang dua gelas.
Ada yang tiga bungkus.

Tidak seramai hari-hari tanpa hujan, tapi cukup membuat gerobaknya tidak pulang dengan terlalu banyak sisa.

Menjelang azan magrib, Pak Rafi menutup termosnya.

Kelapa masih tersisa beberapa.

Ia tidak kecewa.

Sambil mendorong gerobak pulang, ia melihat langit yang mulai cerah di barat.

“Rezeki itu memang seperti hujan,” katanya dalam hati.

Kadang turun deras sampai kita kewalahan menampungnya.
Kadang seperti sore tadi, lama ditunggu baru datang setetes.

Tapi satu hal yang ia pelajari selama bertahun-tahun mendorong gerobak kelapa:

Hujan mungkin bisa menahan orang keluar rumah.

Tapi tidak pernah benar-benar menahan rezeki sampai tidak datang sama sekali.

Yang penting, tetap mendorong gerobak.
Tetap datang ke tempat yang sama.

Karena sering kali, rezeki datang bukan pada orang yang paling beruntung.

Tapi pada orang yang tetap setia menunggu di tempatnya.

Hanya Cerpen by Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

UMKM Kuningan Capai 42 Ribu, Sekda: Literasi Keuangan Jadi Kunci Agar Usaha Tak Jalan di Tempat

KUNINGAN — Pemerintah Kabupaten Kuningan menegaskan bahwa sektor usaha mikro, kecil, dan...

Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Membludak, Dishub Kuningan Siapkan 7 Posko dan Jalur Alternatif

KUNINGAN — Arus mudik dan arus balik Lebaran 2026 diperkirakan akan meningkat...

Video MBG Viral di Pamekasan, BGN: Menu Sebenarnya Lengkap, Tapi Tidak Dikeluarkan dari Mobil

Jakarta — Video yang memperlihatkan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di...

Hati-Hati! Ini Titik Macet Parah Mudik Lebaran 2026 di Jawa Barat, Dishub Siapkan Rekayasa Lalu Lintas

BANDUNG – Sejumlah jalur utama nontol di Jawa Barat diprediksi mengalami kemacetan...