Duamata.id – Sejak program Makan Bergizi Gratis dimulai, sebuah dapur besar berdiri gagah di pinggir kota. Bangunannya baru, catnya masih wangi, dan papan namanya mengkilap seperti baru keluar dari katalog proyek pemerintah.
Di depan pintu terpampang struktur organisasi yang membuat siapa pun yakin bahwa di dalam sana pasti terjadi sesuatu yang sangat profesional.
Ada Kepala Dapur.
Ada Chef .
Ada Ahli Gizi.
Lengkap sekali.
Kalau dilihat dari daftar itu, orang mungkin membayangkan di dalamnya sedang ada orang menumis sayur, merebus sup, atau setidaknya memotong bawang dengan wajah serius seperti di acara lomba masak televisi.
Sayangnya, yang paling sering terdengar dari dapur itu bukan suara tumisan.
Tapi suara plastik kemasan dibuka.
Chef utama di dapur itu bernama Pak Arman. Ia lulusan sekolah kuliner. Dulu ia belajar bagaimana mengolah ayam agar tetap juicy, bagaimana menyeimbangkan rasa, bahkan bagaimana memotong wortel dengan sudut presisi.
Hari pertama bekerja, ia sangat bersemangat.
Ia mengelilingi dapur.
Ada kompor besar seperti di hotel.
Ada oven industri.
Ada wajan lebar seperti perisai prajurit.
Ada rak bumbu yang panjangnya hampir satu dinding.
Pak Arman berdiri di tengah dapur sambil tersenyum bangga.
“Wah,” katanya pelan,
“ini dapur serius.”
Tak lama kemudian petugas gudang datang membawa kiriman menu hari itu.
Beberapa kardus.
Pak Arman membuka satu.
Isinya roti kemasan.
Ia membuka kardus kedua.
Sosis siap makan.
Kardus ketiga.
Biskuit.
Kardus terakhir.
Susu kotak.
Pak Arman memandangi isi meja itu cukup lama.
Lalu ia berkata dengan nada profesional,
“Baik. Kita… susun yang rapi.”
Sejak hari itu, keahlian paling sering dipakai oleh Chef Utama adalah kemampuan membuka kardus dengan elegan.
Di ruangan sebelah bekerja Bu Rina, seorang ahli gizi yang teliti. Ia punya buku tebal tentang nutrisi anak, grafik kalori, dan tabel vitamin.
Setiap hari ia menghitung dengan cermat.
“Roti ini 120 kalori.”
“Sosis 80 kalori.”
“Susu 90 kalori.”
Ia mengetik angka-angka itu dengan penuh tanggung jawab.
Suatu hari Pak Arman mampir ke mejanya.
“Bu Rina,” katanya pelan, “kalau misalnya kita masak sayur sop, telur rebus, atau ayam tumis… bagaimana hitungan gizinya?”
Bu Rina menatap dapur besar di balik kaca.
“Wah,” katanya sambil tersenyum kecil,
“kalau kita masak betulan, pekerjaan saya jadi lebih menarik, Pak.”
Mereka tertawa.
Tawa kecil yang rasanya seperti komentar editorial.
Kadang-kadang Pak Arman sengaja menyalakan kompor.
Bukan untuk memasak.
Hanya supaya dapur terasa seperti dapur.
Ia menumis sedikit bawang putih.
Aromanya langsung memenuhi ruangan.
Seorang staf lewat dan berkata kagum,
“Wah, dapurnya jadi wangi.”
Pak Arman mengangguk.
“Iya. Kompor ini juga kadang perlu diingatkan bahwa dia diciptakan untuk menyala.”
Setiap minggu ada rapat evaluasi menu.
Semua duduk serius di meja.
Bu Rina membuka catatannya.
“Kalau melihat standar gizi anak, sebaiknya ada variasi protein segar, sayuran, dan makanan hangat.”
Semua mengangguk setuju.
Koordinator logistik lalu membuka daftar pengadaan.
“Untuk minggu depan menunya tetap ya. Roti, sosis, susu, biskuit.”
Semua kembali mengangguk.
Rapat selesai dalam waktu delapan menit.
Pak Arman mencatat sesuatu di buku kecilnya.
“Rapat dapur tanpa pembahasan memasak.”
Walau begitu, makanan tetap dibagikan setiap pagi ke sekolah.
Anak-anak tetap senang.
Ada yang langsung makan rotinya.
Ada yang menukar biskuit dengan temannya.
Ada yang menyimpan susu untuk nanti.
Bu Rina memperhatikan dari jauh.
“Setidaknya mereka tetap makan,” katanya.
Pak Arman mengangguk.
“Iya. Hanya saja kadang saya merasa seperti pemain bola… direkrut sebagai striker tapi setiap pertandingan diminta menjaga bangku cadangan.”
Suatu sore dapur itu sepi.
Kompor besar berdiri diam.
Wajan lebar masih mengkilap.
Pisau dapur tajam belum pernah bertemu wortel.
Pak Arman berdiri di tengah ruangan.
“Dapur ini sebenarnya hebat,” katanya.
Bu Rina bertanya,
“Kenapa?”
“Karena semua orang di sini ahli di bidangnya,” jawab Pak Arman.
“Chef ada, ahli gizi ada, dapurnya lengkap. Tinggal satu saja yang jarang datang.”
“Apa itu?” tanya Bu Rina.
Pak Arman menunjuk kompor.
“Masakan.”
Bu Rina tertawa kecil.
Lalu Pak Arman menutup kardus roti yang baru saja datang.
Ia berkata setengah bercanda, setengah berpikir keras.
“Kadang saya bertanya-tanya juga, Bu.”
“Kalau menunya memang kebanyakan roti, sosis, biskuit, dan makanan kering… bahkan sesekali kalau ada makanan hangat tinggal pesan dari luar…”
Ia menatap dapur besar itu.
Kompor.
Oven.
Wajan.
Rak bumbu.
Semuanya lengkap.
Lalu ia berkata pelan.
“Kalau begitu… kenapa harus repot membangun dapur sebesar ini?”
Bu Rina diam.
Pak Arman melanjutkan sambil tersenyum tipis.
“Bukankah lebih sederhana kalau kita kerja sama saja dengan toko kelontong?”
Hening sebentar.
Kompor besar di sudut ruangan tetap diam, seperti ikut mendengarkan.
Dan untuk pertama kalinya sejak dapur itu berdiri, pertanyaan paling sederhana justru terasa paling bergizi.
Hanya cerpen by Mang Duta
Leave a comment