Di kaki sebuah gunung yang selalu diselimuti kabut tipis, hiduplah sebuah kampung bernama Sukmaseger. Namanya terdengar seperti minuman isotonik, tapi dulunya memang benar-benar menyegarkan.
Sawah hijau, ladang sawi, daun bawang dan wortel yang rapih, sapi-sapi yang diperah setiap pagi, semuanya berjalan damai, sederhana, dan apa adanya.
Hingga suatu hari datanglah rombongan pejabat berkemeja licin dan pengusaha bersepatu mahal. Mereka memuji pemandangan kampung sambil memotret apa pun yang bergerak.
“Luar biasa!” kata salah satu pejabat. “Ini harus jadi destinasi wisata kelas dunia!”
Penduduk tersenyum kaku. Mereka tak tahu kelas dunia itu berapa biayanya.
Tak lama, papan-papan besar muncul:
“Akan Dibangun Resto Panorama Gunung!”
“Segera Hadir Hotel Premium Eco-Lux!”
“Coming Soon: Glamping Estetik Berbintang Langit!”
Rupa-rupanya, demi atas nama meningkatkan PAD, seluruh sudut kampung boleh dijadikan apa saja, asal tidak kembali menjadi ladang.
Masalah sebenarnya muncul perlahan, seperti rumput liar yang tumbuh diam-diam.
Dulu air di Sukmaseger melimpah. Sungai bersih, mata air jernih, sawah ladang tak pernah kering. Kini, air dialirkan ke bak penampungan hotel dan resto dengan pipa-pipa besar yang bunyinya bagai perut kosong.
“Maaf, Bu. Debit air berkurang karena musim,” kata seorang manajer hotel.
Musim apa? Penduduk tidak mengerti, sebab hujan masih turun seperti biasa. Yang berbeda hanyalah munculnya kolam renang di lereng gunung, lengkap dengan lampu biru untuk foto malam.
Saat ini, warga kadang harus antre berebut limpahan air yang dulu mereka anggap tak akan habis. Agar sawah dan ladang mereka bisa terairi. Ironisnya, di atas sana para tamu hotel sedang mandi dengan shower yang bisa memilih air panas atau dingin sambil live streaming.
Perubahan semakin terasa ketika malam-malam hening di kaki gunung mulai terdengar deru gergaji mesin. Pohon-pohon tumbang pelan, jatuh dalam sunyi, hanya untuk membuka lahan parkir dan area glamping baru.
Namun ketika siang tiba, pejabat dan pemilik usaha tampil gagah dalam acara “Gerakan Penanaman Pohon Seribu Harapan”.
Mereka menanam bibit pohon sambil difoto dari berbagai sudut: depan, samping, dan sedikit dari atas agar terlihat heroik.
Setiap penanaman diakhiri dengan tepuk tangan meriah, padahal jumlah pohon yang mereka tebang dalam diam jauh lebih banyak dari bibit yang mereka tanam penuh publikasi.
“Demi lingkungan!” seru mereka sambil memegang cangkul lima menit, lalu menyerahkannya pada warga yang menunggu di belakang.
Gunung mungkin ingin tertawa kalau punya mulut.
“Terkadang, orang yang sama yang menebang banyak pohon dalam sunyi, dan menanam sedikit bibit pohon dengan membawa kamera, dan akan ditulis dengan tinta besar bak Pahlawan Lingkungan” Bisik sang Gunung dalam hati.
Lahan-lahan warga sudah dibeli satu per satu. Yang memiliki modal datang menjadi raja, yang memiliki tanah pulang hanya membawa uang yang tak seberapa.
Sebagian penduduk bekerja sebagai kuli bangunan membangun hotel yang nanti tidak mampu mereka masuki. Sebagian lagi jadi pelayan, tukang parkir, atau penjaga pintu villa.
Anak-anak muda angkat kaki ke kota. “Di kampung cuma jadi karyawan wisata,” kata mereka. “Itu pun kalau ada lowongan.”
Sementara banner pariwisata kian ramai:
“Datanglah ke Sukmaseger! Nikmati Keaslian Desa dan Keindahan Alamnya!”
Padahal keaslian perlahan terkikis, dan alamnya sedang dipotong-potong demi konten Instagram.
Gunung yang Hanya Bisa Menggeleng
Setiap sore, orang-orang tua kampung duduk di beranda rumah, menatap hotel yang memantulkan cahaya senja.
Mereka mengingat masa ketika suara gergaji hanya terdengar saat membuat kandang sapi, bukan saat menebang hutan diam-diam.
“Dulu kita pemilik tanah,” gumam seorang kakek. “Sekarang kita tamu yang antre air.”
Gunung berdiri tenang, tetapi entah mengapa tampak muram. Jika gunung bisa bicara, mungkin ia akan berkata:
“Maaf, anak-anak kampung. Yang menebang aku berbisik dalam gelap, yang menanamku berteriak di depan kamera.”
Dan kampung Sukmaseger pun akhirnya terkenal. Bukan karena ladang sawi, bukan karena susu segarnya, melainkan karena menjadi contoh pahit di seminar kebijakan:
“Ketika Pariwisata Dipromosikan, Penduduk Asli Justru Tergusur dari Hidupnya Sendiri.”
Namun seminar usai, kue-kue dibawa pulang, dan pejabat berfoto lagi di acara tanam pohon berikutnya.
Sementara penduduk Sukmaseger tetap bertahan, di kampung yang telah berubah menjadi panggung besar,
tempat mereka menjadi figuran di tanah yang seharusnya mereka miliki.
Hanya Cerpen by Bengpri
Leave a comment