Duamata.id – Menjelang sore di bulan Ramadan, meja di ruang kecil kantor protokoler dipenuhi kertas agenda. Kalender dinding sudah penuh coretan stabilo.
Ada yang kuning, hijau, bahkan merah, warna yang konon melambangkan tingkat kepentingan.
Di tengah tumpukan itu, seorang staf protokol menghela napas panjang.
“Pak, ini jadwal hari Minggu sudah final?” tanya Raka, staf baru yang masih percaya bahwa kalender bisa diatur dengan logika.
“Sudah,” jawab Pak Bima, senior yang sudah puluhan tahun hidup di antara agenda pejabat.
Raka membaca keras-keras dari lembar agenda.
“Pukul 14.30 sampai 18.30, menghadiri buka puasa bersama Scooterist… di Ciawigebang.”
Pak Bima mengangguk santai.
Raka lanjut membaca.
“Pukul 16.30 sampai 18.30, dialog pembangunan daerah dengan Forum Rektor… di Pendopo.”
Raka berhenti. Ia menatap Pak Bima.
“Pak… ini… dua-duanya sampai jam 18.30.”
“Iya.”
“Tempatnya juga beda.”
“Iya.”
Raka mengerutkan dahi, “Berarti… Bupati harus ada di dua tempat?”
Pak Bima menyeruput kopi. Wajahnya tenang seperti orang yang sudah berdamai dengan absurditas birokrasi.
“Namanya juga pelayanan publik.”
“Tapi… Pak… secara fisika…”
“Di protokoler,” potong Pak Bima pelan, “fisika itu fleksibel.”
Raka menatap lagi agenda itu.
Ciawigebang dan Pendopo bukan sekadar beda ruangan. Itu beda kecamatan, beda keramaian, beda panggung sambutan.
“Pak… masa Bupati dibelah dua?”
Pak Bima tersenyum kecil.
“Kalau bisa, kita juga mau.”
Mereka berdua tertawa kecil. Tapi tawa itu lebih mirip kelelahan.
Di ruangan sebelah, seorang staf lain sedang menyiapkan dua teks sambutan.
Sambutan pertama dimulai dengan kalimat:
“Komunitas adalah kekuatan sosial yang menjaga persaudaraan…”
Sambutan kedua dimulai dengan kalimat:
“Sinergi akademisi dan pemerintah menjadi fondasi pembangunan daerah…”
Keduanya sama-sama diakhiri pantun yang dipas-pasin dan dengan kalimat klasik:
“Semoga silaturahmi ini membawa keberkahan di bulan Ramadan.”
Raka kembali menatap agenda.
“Pak, kenapa sih bisa begini?”
Pak Bima menatap langit-langit.
“Karena setiap bagian ingin acaranya dihadiri Bupati.”
“Terus?”
“Terus mereka kirim undangan.”
“Terus?”
“Terus protokoler… mencatat.”
“Terus?”
Pak Bima tersenyum getir.
“Terus kita berharap waktu bisa dilipat seperti sajadah.”
Di luar kantor, matahari mulai turun. Di dua tempat yang berbeda, panitia mulai menyusun kursi.
Di Symphony Cafe Ciawigebang, para scooterist sibuk memarkir vespa tua mereka. Mesin-mesin klasik itu berdengung seperti nostalgia yang belum pensiun.
Di Teras Pendopo, para rektor merapikan map berisi data pembangunan daerah yang tebalnya hampir setara skripsi mahasiswa.
Kedua panitia sama-sama berkata kepada tamunya:
“Insya Allah Bupati hadir.”
Di kantor protokoler, Raka akhirnya mengerti sesuatu. Kadang masalah birokrasi bukan karena orang jahat.
Kadang hanya karena terlalu banyak orang baik yang ingin acaranya terlihat penting.
Ia melipat kertas agenda itu.
“Pak…”
“Ya?”
“Kalau nanti Bupati cuma datang ke satu acara?”
Pak Bima tersenyum seperti orang yang sudah hafal akhir cerita.
“Yang satu lagi akan bilang…”
Ia menirukan nada suara panitia dengan sangat meyakinkan.
“Bupati sebenarnya sangat ingin hadir, tapi ada agenda yang tidak bisa ditinggalkan.”
Raka tertawa.
Pak Bima menambahkan pelan:
“Padahal agenda yang tidak bisa ditinggalkan itu… ya agenda yang kita buat sendiri.”
Di meja protokoler, agenda hari itu tetap rapi.
Dua acara.
Satu waktu.
Satu Bupati.
Dan satu kenyataan kecil yang sering disembunyikan di balik kata silaturahmi:
Kadang yang paling sibuk bukan Bupatinya.
Tapi orang-orang yang mengatur bagaimana beliau terlihat sibuk.
Raka kembali bertanya.
“Pak… jujur saja. Bupati sebenarnya buka di mana?”
Pak Bima tersenyum.
“Coba tebak.”
“Di scooter?”
“Belum tentu.”
“Di rektor?”
“Belum tentu juga.”
“Loh?”
Pak Bima mencondongkan badan sedikit, seperti orang yang hendak membocorkan rahasia negara.
“Begini, Nak… dalam dunia protokoler, ada dua jenis acara.”
Raka menunggu.
“Acara yang memang tempat Bupati berbuka.”
“Dan?”
“Acara yang hanya tempat Bupati terlihat hadir.”
Raka mengangguk pelan. Mulai paham.
“Biasanya,” lanjut Pak Bima, “yang satu itu acara utama.”
“Yang satu lagi?”
“Acara mampir.”
“Berapa lama mampirnya?”
Pak Bima mengangkat dua jari.
“Sepuluh menit?”
“Kadang lima.”
“Lima menit?”
“Kadang cukup foto.”
Raka tertawa.
Di kedua tempat acara, panitia sama-sama percaya satu hal.
“Insya Allah Bupati buka puasa bersama kami.”
Di ruang protokoler, Raka akhirnya berani bertanya pertanyaan terakhir.
“Pak… dari awal sebenarnya kita sudah tahu kan Bupati akan buka di mana?”
Pak Bima tersenyum lebih lebar.
“Sudah.”
“Lalu kenapa yang satu tetap dibuat sampai jam buka?”
Pak Bima berdiri, merapikan map agenda.
“Supaya terlihat adil.”
Raka mengangguk.
Sebelum keluar ruangan, Pak Bima menoleh lagi.
“Sekarang aku kasih tebak-tebakan buat kamu.”
“Apa, Pak?”
“Menurutmu…”
Ia berhenti sebentar.
“Acara mana yang dari awal memang tempat Bupati berbuka?”
“Dan acara mana yang hanya tempat beliau muncul sebentar… untuk menggugurkan agenda?”
Pak Bima berjalan keluar sambil tertawa kecil.
Raka kembali menatap kertas agenda di tangannya.
Dua acara.
Dua lokasi.
Satu waktu magrib.
Dan sebuah teka-teki kecil yang sebenarnya…
semua orang di kantor protokoler sudah tahu jawabannya.
Cerpen by Mang Duta
Leave a comment