Duamata.id – Grup WhatsApp itu bernama “Alumni SMA 2006 – Selamanya Muda.” Jumlah anggotanya 126 orang, tapi yang aktif sebenarnya hanya belasan.
Sejak awal Ramadan, grup itu tiba-tiba ramai.
“Lebaran tahun ini kita reuni yuk!” tulis Ardi, yang sekarang dikenal sukses sebagai pengusaha properti.
Tak lama kemudian notifikasi berdenting tanpa henti.
“Setuju!”
“Gaskeun!”
“Kumpul di kafe baru di kota aja!”
“Sekalian bawa keluarga dong!”
Emoji tertawa, stiker ketupat, sampai foto-foto jadul masa sekolah mulai bertebaran.
Di balik layar ponsel masing-masing, setiap orang membaca pesan itu dengan perasaan yang berbeda.
Bagi Rina, reuni adalah kesempatan temu kangen.
Ia tersenyum setiap kali melihat foto lama.
“Ya Allah, dulu kita kurus-kurus ya…” tulisnya sambil mengirim foto saat mereka kerja kelompok di perpustakaan.
Rina sekarang guru di sebuah sekolah desa. Hidupnya sederhana, tapi hatinya hangat. Baginya, bertemu teman lama adalah seperti membuka album kenangan.
“Yang penting bisa ketemu kalian lagi,” tulisnya.
Bagi Ardi, reuni adalah panggung kecil untuk merayakan perjalanan hidup.
Ia mengirim foto mobil barunya di parkiran kantor.
“Kalau jadi reuni, saya traktir kopi deh!” tulisnya.
Beberapa teman langsung membalas dengan emoji kagum.
Sebagian memuji.
Ardi tersenyum puas. Ia tak bermaksud pamer, pikirnya. Hanya berbagi kebahagiaan.
Namun di sisi lain layar, ada orang yang merasa berbeda.
Bima membaca semua pesan itu diam-diam.
Ia adalah siswa yang dulu paling pintar di kelas. Guru-guru pernah berkata masa depannya akan cerah.
Tapi hidup punya rencana lain.
Usahanya bangkrut saat pandemi. Tabungannya habis. Sekarang ia bekerja sebagai kurir paket.
Bima mengetik pesan berkali-kali.
“Wah seru nih.”
Ia mengetik… lalu menghapusnya.
“InsyaAllah datang.”
Dihapus lagi.
Akhirnya ia hanya membaca.
Notifikasi grup terus berbunyi.
“Yang belum sukses jangan takut datang ya!” tulis seseorang bercanda.
Bima menatap kalimat itu lama.
Entah kenapa rasanya seperti ditujukan kepadanya.
Ia mematikan notifikasi grup.
Beberapa hari kemudian, Rina menyadari sesuatu.
“Eh, Bima kok gak pernah muncul ya?” tulisnya di grup.
Tak ada yang menjawab.
Rina membuka chat pribadi.
“Bim, kamu ikut reuni kan?” tulisnya.
Beberapa menit kemudian, balasan muncul.
“Kayaknya nggak bisa Rin. Ada kerjaan.”
Rina membaca pesan itu sambil menghela napas. Ia tahu Bima dulu bukan tipe orang yang mudah menolak teman.
“Reuni itu bukan lomba siapa paling sukses, Bim,” tulis Rina lagi.
“Cuma kangen-kangenan.”
Beberapa saat tidak ada balasan.
Lalu muncul pesan pendek.
“Kadang kangen itu kalah sama rasa malu.”
Rina terdiam membaca kalimat itu.
Hari-hari menjelang Lebaran, grup alumni semakin riuh.
Ada yang mengusulkan tempat makan mahal.
Ada yang mengusulkan foto bersama dengan drone.
Ada juga yang bercanda soal siapa yang paling berubah.
Di tengah keramaian itu, Rina menulis satu pesan panjang.
“Teman-teman, kita dulu duduk di bangku yang sama. Pakai seragam yang sama. Dimarahi guru yang sama. Kita dulu nggak pernah tahu siapa yang nanti jadi apa. Dan mungkin sampai sekarang pun kita masih sama-sama belajar jadi manusia.”
Grup mendadak sepi beberapa detik.
Lalu Rina menulis lagi.
“Kalau reuni nanti hanya untuk membandingkan hidup, mungkin sebagian dari kita tidak akan pernah datang.”
Beberapa orang mengirim emoji diam.
Ardi membaca pesan itu sambil memandang layar cukup lama.
Kemudian ia menulis:
“Rina benar. Reuni ini bukan pamer pencapaian. Yang penting kita masih diberi kesempatan hidup untuk bertemu lagi.”
Tak lama kemudian, pesan baru muncul dari seseorang yang sudah lama tak bicara.
Bima.
“Kalau gitu… saya datang.”
Grup langsung meledak dengan emoji tepuk tangan.
Hari reuni akhirnya tiba.
Di sebuah rumah makan sederhana, satu per satu alumni datang.
Ada yang membawa mobil mewah.
Ada yang datang naik motor tua.
Ada yang sudah sukses.
Ada yang masih berjuang.
Ketika Bima datang, ia terlihat ragu di pintu.
Namun Rina langsung melambaikan tangan.
“Bima! Sini!”
Ardi berdiri dan menepuk pundaknya.
“Bro, lama banget!”
Tak ada yang menanyakan jabatan.
Tak ada yang menanyakan gaji.
Yang ada hanya tawa lama yang terasa seperti pulang ke masa sekolah.
Di tengah makan bersama, Bima berkata pelan,
“Ternyata yang kita butuhkan bukan pengakuan… tapi penerimaan.”
Ardi mengangguk.
“Kadang kita lupa, yang membuat kita berharga bukan apa yang kita punya… tapi siapa yang masih mau duduk bersama kita.”
Di luar, angin malam Lebaran bertiup lembut.
Dan di meja kecil itu, mereka sadar satu hal sederhana:
Persahabatan sejati tidak pernah menanyakan seberapa tinggi kita berdiri, tapi seberapa tulus kita saling menyambut ketika akhirnya kembali.
Hanya Cerpen by Mang Duta
Leave a comment