Home CATATAN DIRAYA

CATATAN DIRAYA

Episode 1: Hari Aku Dilantik, Tapi Bukan Akhir Perjalanan

Namaku Diraya.

20 Februari 2025.

Tanggal yang sejak lama hanya berani aku bayangkan… kini benar-benar terjadi.

Aku berdiri di Istana Negara, mengenakan setelan resmi yang terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena kainnya, tapi karena tanggung jawab yang menempel di dalamnya.

Hari itu, aku dilantik langsung oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Bupati Kuningan.

Di luar sana, orang-orang mungkin melihat ini sebagai puncak.
Tapi di dalam diriku… justru terasa seperti garis start.

Aku sempat menunduk sejenak setelah sumpah jabatan diucapkan.
Dalam hati, aku bertanya:

“Apakah aku benar-benar siap?”

Karena jujur saja, aku bukan orang yang tiba-tiba muncul.
Aku tumbuh dari bawah. Dari birokrasi. Dari rapat-rapat panjang yang kadang lebih banyak teori daripada solusi. Dari meja kerja yang seringkali dipenuhi berkas, tapi tidak selalu

menyentuh hati masyarakat.

Aku pernah jadi Sekda.
Aku tahu sistem.
Tapi aku juga tahu… sistem sering kali tidak cukup.

Dan justru itu yang membuatku takut.

Perjalanan pulang ke Kuningan hari itu… tidak pernah aku lupakan. Ribuan warga menyambut. Dari Tugu Ikan Sampora hingga Pendopo, jalanan penuh. Sorak, lambaian tangan, senyum, harapan.

Aku berdiri di mobil, mencoba tersenyum, melambaikan tangan. Tapi di balik itu, ada satu perasaan yang diam-diam menyelinap:

“Mereka menaruh harapan… apakah aku tidak akan mengecewakan mereka?”

Karena aku tahu, ekspektasi rakyat tidak pernah kecil.

Mereka tidak peduli aku lulusan mana.
Tidak peduli gelar doktor yang kusandang.
Mereka hanya ingin satu hal, hidup mereka lebih baik.

Malamnya, di Pendopo, suasana hangat.
Tasyakuran. Doa. Harapan dipanjatkan.

Aku duduk di tengah-tengah masyarakat, mencoba menyerap semuanya. Wajah-wajah itu… bukan sekadar kerumunan. Mereka adalah cerita.

Ada petani yang menunggu harga stabil.
Ada ibu-ibu yang berharap layanan kesehatan lebih mudah.
Ada anak muda yang ingin pekerjaan, bukan sekadar janji.

Dan di situlah aku mulai sadar…

Menjadi bupati bukan tentang jabatan.

Tapi tentang menanggung mimpi orang lain.

Aku ingat, setelah semua acara selesai, aku kembali ke kamar. Sunyi. Sepi. Tidak ada tepuk tangan di sana.

Hanya aku… dan pikiranku sendiri.

Aku duduk, melepas jas, lalu menatap cermin cukup lama.

“Dian… kamu sekarang bukan lagi sekda.”

“Kamu tidak bisa hanya menjalankan sistem.”

“Kamu harus berani mengubahnya.”

Dan jujur… itu bagian paling sulit.

Besoknya, aku harus berangkat ke Magelang.
Orientasi kepala daerah selama beberapa hari.

Ironis ya…
Baru dilantik, tapi belum sempat benar-benar bekerja.

Tapi mungkin memang begitu cara Tuhan mengingatkan:

Bahwa jabatan ini bukan soal cepat-cepat bergerak,
tapi tentang siap sebelum melangkah.

Di dalam perjalanan itu, aku mulai menulis satu kalimat di buku kecilku:

“Jangan sampai aku menjadi pemimpin yang sibuk terlihat bekerja, tapi lupa benar-benar bekerja.”

Karena aku tahu… itu penyakit lama birokrasi.

Dan aku tidak ingin mengulanginya.

Hari pelantikan itu bukan kemenangan.

Itu adalah peringatan.

Bahwa mulai hari itu, setiap keputusan yang kuambil…
tidak lagi hanya berdampak pada diriku.

Tapi pada satu kabupaten penuh.

Pada rumah-rumah yang bahkan belum pernah aku datangi.

Pada anak-anak yang bahkan belum tahu siapa aku.

Dan di situlah, aku akhirnya mengerti…

Bahwa perjalanan ini tidak akan mudah.

Dan mungkin…
aku bisa melakukan kesalahan.

Tapi satu hal yang aku janjikan pada diriku sendiri malam itu:

Aku tidak akan berhenti belajar.
Aku tidak akan berhenti mendengar.
Dan aku tidak akan berpura-pura sempurna.

Karena menjadi pemimpin, bukan tentang menjadi yang paling benar.

Tapi tentang berani memperbaiki yang salah.

CATATAN DIRAYA

Episode 2: Hari-Hari Pertama, Antara Idealisme dan Realita

Hari pertama aku benar-benar bekerja sebagai Bupati Kuningan…tidak seheroik yang orang bayangkan.

Tidak ada musik latar.
Tidak ada tepuk tangan.
Yang ada… justru tumpukan masalah yang seperti sudah menunggu lama.

Pagi itu, aku duduk di ruang kerja Pendopo.

Meja besar di depanku penuh dengan map. Beberapa berwarna merah, sebagian kuning, sisanya… entah sejak kapan belum tersentuh.

Aku membuka satu per satu.

Tentang jalan rusak.
Tentang sampah yang belum tertangani maksimal.
Tentang pelayanan kesehatan yang masih dikeluhkan.
Tentang PAD yang harus digenjot, tapi ruang geraknya terbatas.

Aku menghela napas.

“Jadi ini yang selama ini aku lihat dari jauh… sekarang ada di tanganku sendiri.”

Lucunya… aku bukan orang baru di pemerintahan ini.

Aku pernah jadi Sekda.
Aku tahu banyak hal. Bahkan mungkin terlalu tahu.

Tapi justru itu yang membuatku sedikit gelisah.

Karena saat dulu aku melihat masalah, aku masih bisa berkata:
“Itu bukan kewenangan saya sepenuhnya.”

Sekarang?

Tidak ada lagi kalimat itu.

Semua kembali ke satu titik, aku.

Hari-hari pertama ini membuatku belajar satu hal penting : Idealisme itu mudah diucapkan, tapi realita selalu punya cara untuk menguji.

Aku pernah bicara tentang perubahan. Tentang birokrasi yang harus cepat, responsif, dan berpihak pada masyarakat.

Tapi ketika mulai dijalankan, ternyata ada kebiasaan lama yang tidak mudah diubah.

Ada pegawai yang masih bekerja “sekadar rutinitas”.
Ada sistem yang berjalan lambat karena terlalu banyak tahapan.
Ada keputusan yang seharusnya cepat, tapi tertahan oleh prosedur panjang.

Dan jujur saja, di beberapa momen, aku merasa frustasi.

Suatu siang, aku memanggil beberapa kepala dinas.

Kami duduk bersama, suasananya formal, tapi aku mencoba mencairkan.

Aku bilang pelan:

“Saya tidak ingin kita hanya terlihat sibuk. Saya ingin kita benar-benar menyelesaikan masalah.”

Mereka mengangguk.

Tapi aku tahu… mengangguk itu mudah, yang sulit adalah mengubah cara kerja.

Di situlah aku mulai mengoreksi diriku sendiri.

Mungkin selama ini… aku juga bagian dari sistem yang terlalu nyaman.

Aku terbiasa dengan ritme birokrasi. Terbiasa dengan laporan yang rapi di atas kertas, tapi belum tentu terasa di lapangan.

Dan sekarang, ketika aku ingin perubahan, aku seperti sedang menantang kebiasaan yang dulu juga aku jalani.

Malam hari, aku kembali menulis di buku kecilku.

“Perubahan tidak bisa hanya diperintahkan.”

“Perubahan harus dicontohkan.”

Kalimat itu sederhana… tapi berat untuk dijalankan.

Aku mulai mencoba hal kecil.

Datang lebih pagi.
Mendadak turun ke lapangan tanpa banyak protokoler.
Mendengarkan langsung, bukan hanya dari laporan.

Dan dari situ… aku menemukan sesuatu yang tidak tertulis di dokumen mana pun : kejujuran masyarakat.

Seorang bapak pernah bilang ke aku:

“Pak, kami tidak butuh janji yang besar. Yang penting nyata.”

Kalimat itu sederhana… tapi menampar.

Karena aku sadar, terlalu banyak pemimpin, termasuk mungkin aku di masa lalu, yang terlalu percaya pada kata-kata.

Padahal masyarakat lebih percaya pada hasil.

Hari-hari pertama ini perlahan mengubah cara pandangku.

Aku mulai mengurangi bicara yang terlalu tinggi.
Aku mulai lebih banyak bertanya.
Aku mulai belajar, mendengar tanpa ingin selalu terlihat benar.

Tapi bukan berarti semuanya langsung berjalan baik.

Ada keputusan yang aku ambil, ternyata kurang tepat.
Ada langkah yang terlalu cepat, tapi belum siap di lapangan.

Dan ya, aku mulai merasakan satu hal yang tidak pernah diajarkan di buku manapun:

Menjadi pemimpin berarti siap dikritik.

Awalnya tidak mudah.

Karena sebagai manusia, aku juga punya ego.

Tapi aku belajar menahan diri.

Karena kalau aku anti kritik, aku akan kehilangan arah.

Di akhir minggu pertamaku, aku duduk lagi di ruang kerja.

Tidak ada yang berubah secara drastis.

Masalah masih ada.
Tantangan masih sama.

Tapi ada satu hal yang berbeda, cara aku melihat semuanya.

Aku tidak lagi ingin terlihat sebagai bupati yang hebat.

Aku hanya ingin menjadi bupati yang, tidak lari dari masalah.

Dan di situlah aku mulai memahami…

Perjalanan ini bukan tentang seberapa cepat aku berlari.

Tapi tentang seberapa kuat aku bertahan, dan terus memperbaiki diri.

Di buku kecilku, aku menulis lagi:

“Kalau hari ini belum sempurna, tidak apa-apa.”

“Yang penting… jangan berhenti menjadi lebih baik.”

Dan tanpa aku sadari, perjalanan ini baru saja dimulai dari titik yang sebenarnya yaitu kenyataan.

CATATAN DIRAYA

Episode 3: Ketika Harapan Bertemu Tekanan

Ada satu fase dalam perjalanan ini yang tidak pernah benar-benar diceritakan di depan publik. Fase ketika senyum tetap harus terlihat, padahal di dalam banyak hal sedang tidak baik-baik saja.

Minggu-minggu setelah aku mulai bekerja, ritme semakin cepat. Undangan datang tanpa jeda. Masalah muncul hampir setiap hari.

Dan ekspektasi… terus naik tanpa kompromi.

Aku mulai merasakan sesuatu yang dulu hanya aku lihat dari pemimpin lain, tekanan.

Tekanan itu tidak selalu datang dengan suara keras.

Kadang justru diam… tapi berat.

Seperti ketika laporan PAD belum sesuai target.
Seperti ketika program yang dirancang belum terasa dampaknya.
Seperti ketika kritik mulai muncul pelan, lalu semakin sering.

Aku ingat satu malam.

Aku duduk sendiri di ruang kerja, lampu masih menyala, jam sudah lewat tengah malam. Di meja, ada laporan tentang pengelolaan sampah. Masalah klasik. Dari dulu ada. Dan sampai sekarang belum benar-benar selesai.

Aku membaca pelan, lalu bersandar.

“Kenapa hal-hal seperti ini selalu berulang?”

Di situ aku mulai berpikir lebih dalam.

Mungkin masalahnya bukan hanya pada program.

Mungkin, cara kita melihat masalahnya yang belum berubah.

Selama ini, kita sering ingin hasil cepat.

Padahal beberapa persoalan seperti sampah, kesehatan, perilaku masyarakat, itu bukan hanya soal kebijakan.

Itu soal kebiasaan. Dan kebiasaan tidak bisa diubah dalam semalam. Tapi di sisi lain, masyarakat tidak ingin tahu proses panjang itu.

Mereka hanya melihat hasil, dan mereka tidak salah.

Di situlah aku merasa seperti berada di dua sisi sekaligus.

Sebagai pemimpin, aku tahu proses itu penting.
Sebagai wakil masyarakat, aku juga tahu, mereka butuh bukti.

Dan jujur saja…menjembatani dua hal itu tidak mudah.

Tekanan juga datang dari arah yang tidak selalu terlihat.

Ada kepentingan. Ada harapan kelompok. Ada dorongan yang kadang ingin semuanya berjalan sesuai keinginan masing-masing.

Aku belajar satu hal penting bahwa tidak semua orang akan puas, dan itu harus aku terima.

Awalnya aku mencoba menyenangkan semua pihak.

Tapi semakin aku jalani, aku sadar, itu tidak mungkin.

Ada satu momen yang cukup menggangguku.

Keputusan yang aku ambil yang menurutku sudah melalui pertimbangan matang, ternyata mendapat kritik cukup keras.

Aku membaca komentar-komentar itu. Beberapa masuk akal. Beberapa terasa menyakitkan. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar ingin menjauh sejenak.

Tapi aku tidak bisa.

Karena ini bukan lagi tentang perasaanku.

Ini tentang tanggung jawab.

Malam itu, aku kembali membuka buku kecilku.

Aku menulis cukup lama.

Tidak rapi, tidak terstruktur.
Seperti orang yang sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

“Dian, kamu tidak harus selalu benar.”

“Tapi kamu tidak boleh berhenti mencari yang benar.”

Kalimat itu membuatku sedikit tenang.

Aku mulai belajar memilah kritik.

Mana yang harus aku terima.
Mana yang harus aku renungkan.
Dan mana yang cukup aku dengarkan tanpa harus bereaksi berlebihan.

Perlahan, aku juga mulai membangun tim dengan cara yang berbeda. Aku tidak ingin hanya dikelilingi orang yang selalu berkata “siap, pak”.

Aku butuh orang yang berani bilang:

“Pak, ini belum tepat.”

Karena aku tahu… pemimpin yang tidak pernah dikoreksi, biasanya pelan-pelan kehilangan arah.

Tekanan itu ternyata tidak sepenuhnya buruk.

Ia seperti cermin.

Menunjukkan di mana aku masih kurang. Di mana aku terlalu cepat, dan di mana aku harus lebih sabar.

Aku juga mulai belajar satu hal yang paling sulit yaitu menerima keterbatasan.

Aku tidak bisa menyelesaikan semua masalah sekaligus.
Aku tidak bisa membuat semua orang puas.
Aku bahkan tidak bisa memastikan semua rencanaku berjalan sempurna.

Dan itu… dulu sulit aku akui.

Tapi sekarang, aku mulai melihatnya dengan cara berbeda.

Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti.

Tapi pengingat, bahwa aku harus bekerja bersama, bukan sendirian.

Di akhir bulan itu, aku berdiri di balkon Pendopo.

Melihat Kuningan di malam hari.

Lampu-lampu rumah menyala. Tenang. Sederhana.

Dan di balik setiap lampu itu ada kehidupan. Ada harapan.

Aku menarik napas panjang.

“Mereka tidak butuh aku sempurna.”

“Mereka hanya butuh aku… tidak menyerah.”

Dan di situlah aku menemukan sedikit ketenangan.

Bahwa di tengah tekanan, kritik, dan ketidakpastian…

aku masih punya satu hal yang bisa aku pegang, niat untuk terus memperbaiki.

Aku menutup hari itu dengan satu kalimat di buku kecilku:

“Tekanan tidak akan pernah hilang.”
“Tapi aku bisa memilih… untuk tidak kalah.”

Perjalanan ini belum ringan.

Dan mungkin akan semakin berat.

Tapi aku mulai mengerti satu hal:

Menjadi pemimpin bukan tentang menghindari tekanan.

Tapi tentang tetap berjalan meski ditekan dari berbagai arah.

CATATAN DIRAYA

Episode 4: Keputusan Sulit, Saat Tidak Semua Terpuaskan

Ada satu hal yang dulu sering aku dengar, tapi baru benar-benar aku pahami sekarang, semakin tinggi posisi, semakin sepi tempat berdiri.

Hari-hari itu mulai terasa berbeda.

Bukan karena masalahnya berkurang, justru sebaliknya.

Tapi karena aku mulai dihadapkan pada keputusan-keputusan yang tidak punya pilihan sempurna.

Salah satunya tentang anggaran.

Rapat demi rapat digelar. Angka-angka dibahas panjang.
Prioritas diperdebatkan.

Semua terlihat rasional.

Tapi di balik angka itu, ada kenyataan yang tidak bisa dihindari, kita tidak bisa membiayai semuanya.

Aku melihat daftar program. Perbaikan jalan, penanganan sampah, peningkatan layanan kesehatan, dukungan UMKM, pendidikan, dan yang lainnya.

Semua penting, semua mendesak, dan justru itu masalahnya.

Aku duduk cukup lama malam itu.

Menatap lembaran anggaran.

“Kalau aku pilih ini… yang itu harus ditunda.”

“Kalau aku utamakan ini… ada yang akan kecewa.”

Dan benar saja.

Setiap keputusan yang aku ambil, selalu diikuti oleh dua hal, yang mendukung dan yang mempertanyakan.

Ada yang bilang aku terlalu fokus ke satu sektor.
Ada yang merasa wilayahnya belum tersentuh.
Ada yang menganggap kebijakan ini belum tepat.

Dan sekali lagi, mereka tidak sepenuhnya salah.

Di situlah aku mulai belajar sesuatu yang pahit, keputusan terbaik pun tetap bisa melahirkan kekecewaan.

Awalnya, itu mengganggu pikiranku.

Aku ingin semuanya berjalan ideal. Aku ingin semua pihak merasa diperhatikan. Tapi semakin aku mencoba, aku justru semakin kehilangan fokus.

Sampai akhirnya aku berhenti sejenak.

Aku kembali ke pertanyaan paling dasar: “Untuk siapa sebenarnya aku bekerja?”

Jawabannya sederhan tapi sering terlupakan, yakni untuk masyarakat.

Bukan untuk kepentingan sesaat. Bukan untuk menyenangkan semua pihak. Tapi untuk dampak jangka panjang.

Sejak itu, aku mulai mengubah cara mengambil keputusan.

Aku tidak lagi mencari keputusan yang paling aman. Aku mulai mencari keputusan yang paling berdampak.

Tentu saja, itu tidak membuat semuanya lebih mudah, justru sebaliknya.

Aku pernah menandatangani satu kebijakan yang aku tahu akan menuai reaksi.

Tanganku sempat berhenti sejenak di atas kertas. Bukan karena ragu pada datanya. Tapi karena aku tahu konsekuensinya tidak ringan.

Aku menarik napas.

“Kalau ini untuk kebaikan yang lebih besar… aku harus berani.”

Dan aku tanda tangani.

Beberapa hari setelah itu, kritik datang.

Tidak sedikit, tidak pelan.

Aku membaca, mendengar, dan mencoba memahami.

Ada satu komentar yang cukup melekat:

“Pak, kenapa keputusan seperti ini diambil tanpa melihat kondisi kami?”

Aku terdiam, karena di situlah aku sadar, mungkin yang kurang bukan hanya kebijakannya. Tapi juga cara aku menyampaikannya.

Sejak saat itu, aku mulai lebih terbuka.

Lebih sering menjelaskan, lebih banyak berdialog.
Tidak hanya mengumumkan keputusan, tapi juga menjelaskan alasannya.

Karena aku belajar, kebijakan tanpa komunikasi, hanya akan jadi jarak.

Di sisi lain, aku juga mulai menerima satu kenyataan penting:

Bahwa menjadi pemimpin bukan berarti selalu disukai.

Dan itu tidak apa-apa.

Yang tidak boleh adalah, mengambil keputusan hanya demi disukai.

Malam itu, aku kembali menulis di buku kecilku.

Tulisan kali ini lebih tenang.

Lebih jujur.

“Aku tidak akan selalu benar.”
“Aku tidak akan selalu disetujui.”

“Tapi aku harus memastikan… setiap keputusan diambil dengan niat yang benar.”

Aku menutup buku itu perlahan.

Lalu melihat keluar jendela.

Kuningan tetap sama.

Tenang, sederhana, dan penuh harapan.

Dan aku sadar…

Di balik semua kritik, perbedaan, dan tekanan masyarakat tidak benar-benar menuntut kesempurnaan.

Mereka hanya ingin diyakinkan, bahwa pemimpinnya tidak asal memilih.

Aku berdiri malam itu dengan satu keyakinan baru:

Lebih baik dikritik karena keputusan yang berani, daripada dipuji karena tidak melakukan apa-apa.

Perjalanan ini masih panjang, dan keputusan-keputusan sulit tidak akan berhenti di sini.


Tapi sekarang aku lebih siap.

Bukan karena semuanya sudah mudah.

Tapi karena aku sudah mulai memahami, bahwa menjadi pemimpin berarti berani memilih, meski tidak semua akan senang dan terpuaskan

CATATAN DIRAYA

Episode 5: Turun ke Lapangan, Belajar dari yang Tak Tertulis

Ada satu hal yang pelan-pelan aku sadari, Tidak semua kebenaran ada di atas meja kerja.

Sebagian justru tersembunyi, di jalan-jalan kecil, di sudut desa, di obrolan sederhana yang tidak pernah masuk laporan resmi.

Aku mulai lebih sering turun ke lapangan.

Bukan kunjungan besar dengan panggung dan sambutan panjang.
Tapi kunjungan diam-diam.

Kadang pagi-pagi sekali, kadang tanpa pemberitahuan, kadang sendiri sambil berkeliling Kuningan.

Awalnya, beberapa orang terlihat kaget.

Mungkin karena mereka terbiasa menerima kunjungan yang sudah “dipersiapkan”.

Yang jalannya sudah dibersihkan, yang warganya sudah dikondisikan, yang ceritanya sudah dirapikan.

Tapi aku justru ingin melihat yang belum rapi.

Suatu pagi, aku datang ke satu desa.

Hanya beberapa warga yang sedang beraktivitas seperti biasa.

Aku duduk di warung kecil, sambil mengobrol dengan warga tanpa sekat.

Tidak lama, obrolan mulai mengalir.

Tentang harga kebutuhan pokok, tentang jalan yang belum diperbaiki, tentang anak-anak yang harus pergi jauh untuk sekolah.

Tidak ada bahasa resmi, tidak ada istilah birokrasi.

Tapi justru di situlah aku merasa, lebih dekat dengan kenyataan.

Seorang ibu berkata pelan:

“Pak, kami ini tidak banyak minta. Yang penting kalau ada masalah, ada yang dengar.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi terasa dalam.

Karena aku sadar, selama ini mungkin pemerintah terlalu sibuk “memberi solusi” tanpa benar-benar “mendengar masalah”.

Di kunjungan lain, aku melihat langsung persoalan sampah.

Bukan dari laporan, bukan dari presentasi.

Tapi dari bau yang tidak bisa disembunyikan, dari tumpukan yang nyata.

Aku berdiri cukup lama di sana.

Tidak banyak bicara.

Karena kadang, melihat langsung itu sudah cukup untuk mengubah cara berpikir.

Aku mulai mengerti:

Masalah yang terlihat kecil di laporan, bisa terasa sangat besar di lapangan.

Dan sebaliknya, program yang terlihat besar di atas kertas, belum tentu terasa bagi masyarakat.

Dari situ, aku mulai mengoreksi banyak hal.

Cara menyusun prioritas, cara mengevaluasi program.
Bahkan cara berbicara di depan publik.

Aku mulai mengurangi istilah-istilah yang terlalu tinggi.

Aku ingin bicara dengan bahasa yang dimengerti.

Karena percuma kalau kebijakan bagus tapi tidak sampai ke hati masyarakat.

Ada satu momen yang cukup membekas.

Seorang bapak menghampiriku setelah aku selesai melihat kondisi jalan di desanya.

Dia tidak banyak bicara.

Hanya menepuk bahuku pelan, lalu berkata:

“Pak, terima kasih sudah mau datang. Biasanya kami cuma dengar dari jauh.”

Aku terdiam.

Karena di situ aku merasa kehadiran saja sudah punya arti.

Dan mungkin, selama ini itu yang kurang.

Bukan hanya program, bukan hanya anggaran.

Tapi kedekatan.

Aku juga mulai menyadari satu hal yang cukup menggangguku, masih ada jarak antara pemerintah dan masyarakat.

Jarak yang tidak terlihat tapi terasa.

Dan jujur, aku juga bagian dari jarak itu.

Dulu, aku lebih banyak bekerja dari balik meja. Lebih sering membaca laporan daripada mendengar langsung. Dan sekarang, aku seperti sedang mengejar sesuatu yang sempat tertinggal : kepercayaan.

Perjalanan ke lapangan ini tidak selalu nyaman.

Kadang panas, kadang melelahkan, kadang menemukan hal-hal yang membuat hati tidak tenang.

Tapi justru di situlah aku merasa hidup sebagai pemimpin.

Bukan di ruang rapat, tapi di tengah masyarakat.

Malam hari setelah salah satu kunjungan, aku kembali membuka buku kecilku.

Aku menulis pelan:

“Hari ini aku belajar lebih banyak… dari satu warung kecil… daripada dari satu ruang rapat besar.”

Aku tersenyum sendiri.

Karena kalimat itu mungkin terdengar sederhana.

Tapi buatku itu perubahan besar.

Aku mulai memahami satu hal penting:

Pemimpin tidak hanya harus pintar mengambil keputusan.
Tapi juga harus mau turun untuk memahami.

Dan dari perjalanan ini, aku menemukan sesuatu yang tidak pernah aku duga sebelumnya:

Bahwa di tengah segala keterbatasan, kritik, dan masalah masyarakat masih punya satu hal yang luar biasa, kesabaran.

Dan mungkin itu yang harus aku balas.

Dengan kerja yang lebih nyata, dengan keputusan yang lebih tepat, dan dengan hati yang tidak jauh dari mereka.

Aku menutup hari itu dengan satu kalimat:

“Kalau ingin memimpin mereka…jangan berdiri terlalu jauh.”

Perjalanan ini terus berjalan.

Dan aku tahu, masih banyak hal yang harus aku lihat sendiri.

CATATAN DIRAYA

Episode 6: Saat Harapan Diuji Waktu

Ada satu hal yang tidak pernah bisa aku percepat, sekeras apa pun aku mencoba, waktu.

Beberapa bulan sejak aku dilantik, ritme kerja semakin padat.

Program mulai berjalan, koordinasi makin intens, kunjungan lapangan semakin sering.

Secara kasat mata, semuanya bergerak.

Tapi di sisi lain, ada satu pertanyaan yang mulai sering muncul, baik dari luar, maupun dari dalam diriku sendiri, “Mana hasilnya?”

Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya, tidak sesederhana itu.

Aku melihat beberapa program yang sudah dijalankan.

Penanganan sampah mulai diperbaiki, layanan publik mulai dibenahi, koordinasi antar dinas mulai diperkuat. Semua ada progres, tapi progres tidak selalu terlihat.

Dan di situlah aku mulai merasakan satu ujian yang berbeda, ketika kerja keras tidak langsung berbuah pengakuan.

Ada yang mulai membandingkan.

Ada yang bertanya kenapa perubahan belum terasa signifikan, ada yang mulai ragu, dan sekali lagi, mereka tidak salah.

Karena masyarakat hidup di realita harian.

Mereka tidak melihat proses, mereka merasakan hasil.

Aku sempat duduk lama di ruang kerja, menatap papan rencana kerja yang sudah disusun rapi. Semua terlihat jelas.
Semua punya target.

Tapi kenyataannya, perubahan tidak berjalan secepat yang tertulis.

Di situ aku mulai mengoreksi diriku sendiri lagi.

Mungkin selama ini aku terlalu optimis.

Atau mungkin aku kurang sabar.

Karena ternyata, membangun daerah itu bukan seperti membalik telapak tangan.

Ia lebih mirip menanam.

Harus ada waktu untuk tumbuh. Harus ada proses yang tidak terlihat. Dan harus ada kesabaran yang tidak bisa dipaksakan.

Tapi jujur saja memahami itu tidak serta-merta membuat semuanya terasa ringan.

Ada momen ketika aku merasa lelah.

Bukan karena pekerjaannya. Tapi karena ekspektasi yang terus berjalan tanpa jeda.

Suatu malam, aku membuka kembali buku kecilku. Sudah mulai penuh. Tulisan-tulisannya juga tidak lagi serapi dulu. Mungkin karena pikiranku juga sedang penuh.

Aku menulis satu kalimat:

“Apa aku sudah berjalan di arah yang benar?”

Pertanyaan itu aku biarkan menggantung cukup lama.

Karena aku tahu jawabannya tidak bisa aku temukan sendiri.

Keesokan harinya, aku kembali turun ke lapangan.

Bukan untuk mengecek program.

Tapi untuk mencari jawaban.

Di sebuah desa, aku bertemu dengan seorang pemuda.

Kami berbincang santai.

Tentang pekerjaan. Tentang harapan. Tentang Kuningan ke depan.

Di akhir obrolan, dia berkata:

“Pak, kami sih tahu ini tidak bisa langsung berubah. Yang penting kami lihat ada usaha.”

Aku terdiam.

Kalimat itu sederhana.

Tapi entah kenapa terasa sangat menenangkan.

Karena di tengah banyaknya tuntutan hasil cepat, ternyata masih ada yang memahami proses.

Aku pulang dengan perasaan yang berbeda, tidak sepenuhnya lega, Tapi lebih tenang. Aku mulai menerima satu hal penting, bahwa hasil itu penting, tapi proses yang benar tidak boleh dikorbankan.

Sejak itu, aku mencoba menyeimbangkan.

Tetap mendorong percepatan, tapi tidak memaksakan yang tidak realistis. Tetap bekerja keras, tapi juga memberi ruang bagi proses untuk tumbuh.

Aku juga mulai lebih terbuka dalam menyampaikan kepada masyarakat. Bahwa tidak semua bisa selesai hari ini.
Bahwa ada hal-hal yang butuh waktu.

Dan ternyata, kejujuran itu justru lebih mudah diterima.

Malam itu, aku kembali menulis.

Tulisan kali ini lebih tenang.

“Perubahan yang bertahan… tidak pernah instan.”

“Kalau hari ini belum terlihat, bukan berarti tidak berjalan.”

Aku menutup buku itu dengan satu perasaan yang baru, sabar.

Bukan sabar yang pasif.

Tapi sabar yang tetap bekerja, tetap bergerak, tetap percaya.

Karena aku mulai mengerti, menjadi pemimpin bukan hanya tentang membuat perubahan. Tapi juga tentang bertahan cukup lama, untuk melihat perubahan itu terjadi.

Perjalanan ini masih panjang.

Dan waktu akan terus berjalan.

Tapi sekarang aku tidak lagi ingin melawannya.

Aku hanya ingin memastikan, setiap detik yang berjalan, tidak terbuang sia-sia.

CATATAN DIRAYA

Episode 7: Antara Jabatan dan Kehidupan Pribadi

Ada satu hal yang tidak pernah tertulis dalam sumpah jabatan.

Tentang waktu yang perlahan tidak lagi sepenuhnya menjadi milikku.

Sejak menjadi bupati, hariku hampir tidak pernah benar-benar kosong.

Pagi sudah dimulai dengan agenda. Siang diisi rapat dan kunjungan.
Malam seringkali masih ada yang harus diselesaikan. Dan tanpa terasa, aku mulai kehilangan hal-hal kecil yang dulu terasa biasa.

Seperti duduk santai tanpa memikirkan apa pun.
Seperti makan bersama keluarga tanpa terganggu telepon.
Seperti tidur tanpa membawa pikiran pekerjaan.

Awalnya aku tidak terlalu menyadari.

Karena semua terasa seperti bagian dari tanggung jawab.

Sampai suatu malam, aku pulang lebih larut dari biasanya.

Rumah sudah sepi, lampu ruang tamu masih menyala dan di meja, ada makanan yang sudah dingin.

Aku duduk pelan.

Melihat sekeliling.

Sunyi.

Di situ aku baru benar-benar merasakan, ada bagian dari hidupku yang mulai berubah.

Keluarga.

Mereka tidak pernah menuntut banyak.

Tidak pernah mengeluh secara langsung.

Tapi justru itu yang kadang membuatku merasa bersalah.

Karena aku tahu, di balik diam mereka, ada waktu yang terlewat.

Ada momen yang tidak aku hadiri.

Ada kebersamaan yang tertunda.

Aku pernah ditanya dengan sederhana:

“Capek?”

Aku hanya tersenyum.

“Biasa saja.”

Padahal dalam hati, aku tahu jawabannya tidak sesederhana itu.

Menjadi bupati bukan hanya soal memimpin daerah.

Tapi juga soal mengelola diri sendiri.

Menjaga agar tidak lelah secara pikiran. Menjaga agar tidak kosong secara perasaan.

Dan jujur saja, itu tidak mudah.

Ada hari-hari ketika aku merasa sangat penuh.

Bukan karena pekerjaan semata.

Tapi karena semua hal datang bersamaan.

Tanggung jawab, ekspektasi, keputusan, dan rasa rindu pada kehidupan yang lebih sederhana.

Aku mulai belajar satu hal yang dulu sering aku abaikan, keseimbangan.

Walaupun tidak selalu berhasil, aku mencoba menyisihkan waktu.

Tidak harus lama.

Kadang hanya beberapa menit. Kadang hanya obrolan singkat. Tapi aku mulai sadar, hal kecil itu penting.

Karena kalau aku kehilangan keseimbangan, aku juga akan kehilangan arah.

Aku juga mulai lebih jujur pada diriku sendiri.

Bahwa aku bukan manusia tanpa batas.

Aku bisa lelah. Aku bisa ragu. Aku juga bisa… butuh istirahat.

Dan itu bukan kelemahan.

Malam itu, aku kembali membuka buku kecilku.

Untuk pertama kalinya, aku tidak menulis tentang program.
Tidak tentang kebijakan. Tidak tentang pekerjaan.

Aku menulis tentang… diriku sendiri.

“Jangan sampai dalam menjalani peran ini… aku kehilangan siapa diriku sebenarnya.”

“Jangan sampai aku terlalu sibuk mengurus banyak orang… tapi lupa menjaga yang paling dekat.”

Aku berhenti sejenak.

Menarik napas panjang.

Karena aku sadar, menjadi pemimpin yang baik bukan hanya tentang apa yang terlihat di luar. Tapi juga tentang apa yang tetap utuh di dalam.

Aku tidak ingin menjadi bupati yang berhasil…tapi kehilangan makna dalam hidupnya.

Aku ingin tetap menjadi manusia.

Yang bisa merasakan, bisa dekat, dan tidak sepenuhnya tenggelam dalam jabatan.

Dan mungkin, itulah bagian paling sulit dari perjalanan ini.

Menjaga agar tetap kuat di depan, tanpa menjadi kosong di dalam.

Aku menutup hari itu dengan satu kalimat yang sederhana:

“Jabatan ini penting.”

“Tapi hidup… jauh lebih luas dari itu.”

Perjalanan ini masih panjang.

Dan aku tahu, menjaga keseimbangan ini tidak akan pernah benar-benar mudah.

Tapi setidaknya sekarang… aku sudah mulai menyadari.

Bahwa di balik semua peran besar yang aku jalani, aku tetap seorang manusia yang juga perlu dijaga.

CATATAN DIRAYA

Episode 8: Titik Balik, Perubahan yang Mulai Terlihat

Ada satu momen dalam perjalanan ini, yang tidak datang dengan suara keras. Tidak dirayakan, tidak diumumkan secara besar-besaran, tapi diam-diam terasa.

Perubahan itu… akhirnya mulai terlihat.

Bukan perubahan besar yang langsung mengubah segalanya. Tapi justru yang kecil-kecil, yang dulu sering dianggap sepele.

Aku mulai menyadarinya saat kembali ke beberapa titik yang pernah aku kunjungi. Tempat yang dulu penuh keluhan, terasa stagnan. Sekarang ada sedikit perbedaan, tidak sempurna, tapi bergerak.

Di satu desa, pengelolaan sampah mulai lebih tertata. Belum rapi sepenuhnya, tapi sudah tidak seperti dulu. Ada upaya, ada kesadaran dan yang paling penting ada perubahan perilaku.

Di tempat lain, pelayanan publik mulai terasa lebih cepat.

Tidak semua. Masih ada kekurangan, tapi keluhan yang dulu sering aku dengar mulai berkurang.

Aku berdiri di tengah itu semua cukup lama, bukan untuk memastikan angka, tapi untuk merasakan.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku dilantik, aku tidak hanya melihat masalah. Aku mulai melihat… hasil.

Kecil, pelan, tapi nyata.

Aku tidak langsung merasa bangga, justru yang muncul pertama kali adalah refleksi.

“Kenapa perubahan ini terasa begitu berarti?”

Karena aku tahu betapa sulitnya proses di belakangnya. Rapat panjang, diskusi yang tidak selalu mudah, keputusan yang penuh pertimbangan dan yang paling berat adalah mengubah kebiasaan.

Di situlah aku mulai menghargai setiap langkah kecil.

Karena aku sadar, perubahan besar selalu dimulai dari sana.

Ada satu momen yang cukup membekas.

Seorang warga yang dulu pernah mengeluh tentang layanan, kali ini berkata:

“Sekarang sudah lebih enak, Pak. Belum sempurna, tapi sudah beda.”

Aku tersenyum.

Bukan karena puas, tapi karena itu cukup.

Karena dalam perjalanan ini, aku belajar: “lebih baik” itu jauh lebih jujur daripada “langsung sempurna.”

Aku juga mulai melihat perubahan di dalam tim.

Yang dulu terasa kaku, mulai lebih terbuka, yang dulu hanya menunggu arahan mulai berinisiatif.

Tidak semua, tapi cukup untuk memberi harapan.

Dan di situlah aku menyadari sesuatu yang penting yaitu perubahan itu bukan hanya tentang program, tapi tentang orang-orang di dalamnya.

Aku kembali ke Pendopo dengan perasaan yang berbeda.

Tidak lagi penuh keraguan seperti di awal, tidak juga terlalu percaya diri. Tapi lebih… seimbang.

Aku membuka buku kecilku, halaman-halamannya sudah hampir penuh dan tulisan kali ini lebih ringan.

“Hari ini aku tidak melihat keajaiban.”

“Tapi aku melihat tanda-tanda kehidupan.”

Aku berhenti sejenak, lalu melanjutkan:

“Dan mungkin… itu yang selama ini aku cari.”

Perjalanan ini belum selesai.

Masih banyak yang harus diperbaiki, masih banyak yang belum tersentuh.Tapi sekarang, aku tidak lagi berjalan dalam gelap.

Ada arah.

Ada tanda.

Ada harapan yang mulai terlihat bentuknya.

Aku menutup hari itu dengan satu keyakinan sederhana, bahwa usaha yang jujur pada akhirnya akan menemukan jalannya.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku merasa sedikit lebih tenang. Bukan karena semua sudah selesai, tapi karena aku tahu aku tidak berjalan sia-sia.

Suatu pag, dari ruang kerjanya di pendopo, aku duduk menatap setumpuk laporan. Di layar laptopnya, angka besar terpampang: Pertumbuhan Ekonomi 10,4%.

Banyak orang bertepuk tangan. Media sosial ramai membicarakan, sebagian bangga, sebagian curiga.

Namun bagiku, angka itu bukan sekadar statistik yang bisa dijadikan bahan pidato. Aku tahu, di balik 10,4 persen itu, ada peluh dan napas rakyat yang bekerja siang malam.

“Sepuluh koma empat persen,” gumamku pelan. “Tapi… apakah mereka semua sudah benar-benar tersenyum?”

Aku masih ingat bagaimana dulu turun sendiri ke lapangan, berdiri di bawah hujan, mengawasi pekerja yang menambal aspal hingga larut malam.

“Kalau jalan ini selesai, pedagang sayur di desa bisa hemat waktu dua jam,” kataku kala itu pada tim.

Dan benar, seminggu setelah rampung, pasar kecil di kaki gunung kembali ramai. Roda ekonomi bergerak dari jalan yang dulu dianggap sepele.

Beberapa hari kemudian, aku meninjau gudang pupuk untuk memastikan distribusinya tepat sasaran. Bagiku, subsidi pupuk dan benih gratis bukan hanya soal angka bantuan, tapi tentang harapan para petani yang hidupnya bergantung pada musim.

Aku ingat suatu sore, berdiri di tepi bendungan sambil menebar bibit ikan ke permukaan air yang berkilau diterpa senja.

Anak-anak desa bersorak gembira melihat ribuan ikan kecil berenang lepas. Bagi mereka, itu sekadar permainan air.
Bagiku, itu adalah simbol kehidupan, ekonomi yang berputar dari sungai hingga pasar.

Suatu hari nanti, ikan-ikan ini akan memberi makan keluarga yang bahkan belum aku kenal.

Program demi program berjalan. Gerakan pangan murah membuat warga tak lagi resah menghadapi kenaikan harga.

Aku bahkan turun langsung ke lapangan, berdiri di tengah panas pasar, membagikan kupon beras dan minyak goreng murah.

Aku juga mendatangi para pedagang kaki lima (PKL) yang sempat terpukul akibat pandemi dan sepinya pembeli.

Bantuan ini mungkin kecil, kataku saat menyerahkan amplop berisi stimulan usaha, tapi semoga bisa mengembalikan semangat.

Tak berhenti di situ, aku membuka lapangan kerja baru dengan menggerakkan proyek padat karya dan investasi lokal.

Aku tahu, setiap pekerjaan baru bukan hanya menghidupi satu orang, tapi satu keluarga.

Aku bahkan turun ke lokasi proyek penyelesaian tunda bayar investasi daerah, berbicara langsung dengan kontraktor dan pekerja.

Kepercayaan itu mahal, kalau kita berani menepati janji, ekonomi akan bergerak sendiri.

Malam itu, setelah seharian berkeliling, aku kembali ke ruang kerja yang sepi. Laporan BPS masih terbuka di meja.

Aku menatap angka 10,4% itu sekali lagi, kali ini bukan dengan kebanggaan, tapi dengan rasa syukur yang tenang.

Di luar, lampu jalan menyala, menerangi jalur yang baru diperbaiki. Dari kejauhan, suara tawa anak-anak di pasar malam terdengar samar.

Aku tahu, sebagian dari tawa itu lahir dari hasil kerja keras dari seluruh timnya.

Aku menulis sesuatu di buku catatan:

“Angka boleh naik turun, tapi senyum rakyat harus tetap tumbuh. Karena pertumbuhan sejati bukan dari statistik, melainkan dari kehidupan yang terasa lebih baik.”

Aku menutup buku perlahan. Di luar, angin malam Kuningan berhembus lembut, membawa pesan diam yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang bekerja bukan untuk sorak, tapi untuk senyum di balik angka.

CATATAN DIRAYA

Episode 9: Menjaga Api, Dari 100 Hari Kerja Sampai Satu Tahun Perjalanan

Ada satu fase yang sering dijadikan tolok ukur yaitu 100 hari kerja.

Sejak awal, aku tahu fase ini bukan tentang hasil besar. Tapi tentang membangun kepercayaan.

Aku dan tim menyusun banyak hal.

Bukan sekadar janji kampanye. Tapi program yang benar-benar bisa langsung dirasakan.

Aku masih ingat bagaimana kami memulainya dari hal yang paling mendesak. APBD.

Kondisinya, tidak sederhana.

Ada defisit, ada tunda bayar, ada kewajiban yang harus diselesaikan lebih dulu. Bahkan angka defisit sempat menyentuh lebih dari Rp100 miliar.

Di situlah aku sadar, sebelum berlari jauh, aku harus memastikan “nafas” daerah ini kembali stabil.

Aku bilang pada tim:

“Kalau keuangan kita tidak sehat… program bagus pun hanya akan jadi rencana.”

Maka 100 hari pertama, bukan hanya tentang pembangunan fisik. Tapi tentang menyehatkan fondasi, efisiensi, penghematan., dan menata ulang prioritas.

Tidak populer.

Tidak terlihat cepat.

Tapi harus dilakukan.

Di sisi lain, aku tetap ingin masyarakat melihat bahwa kami bekerja. Maka beberapa program langsung kami jalankan.

Perbaikan jalan.

Targetnya tidak kecil sekitar 100 kilometer jalan rusak di jalur strategis.

Aku tahu, jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah urat nadi ekonomi.

Lalu pertanian.

Karena aku paham betul setengah dari masyarakat kita bergantung pada sektor ini.

Kami dorong ketersediaan benih, pupuk, dan perbaikan irigasi.


Aku pernah bilang dalam satu rapat:

“Kalau petani tenang… Kuningan juga akan ikut tenang.”


Program lain juga berjalan.

Pelayanan satu jam untuk administrasi. Bantuan untuk UMKM. Penanganan sampah. Rehabilitasi sekolah, bahkan belasan ruang kelas langsung diperbaiki di awal masa kerja.

Semua berjalan.

Pelan.
Tidak sempurna.

Tapi nyata.

Namun di balik semua itu ada satu tantangan besar yang terus mengikutiku: keterbatasan anggaran.

Aku tidak bisa menutup mata.

Kapasitas fiskal daerah kami terbatas.

Sementara kebutuhan jauh lebih besar.

Dan di situlah aku mulai mengambil langkah yang dulu mungkin tidak terlalu terasa: menjemput bola.

Aku mulai intens berkomunikasi dengan pemerintah provinsi. Mengajukan program, menyelaraskan prioritas.

Lalu ke pusat.

Kementerian.
Lembaga.

Aku datang bukan sekadar membawa proposal, tapi membawa cerita tentang Kuningan.

Tentang petani, tentang jalan desa, tentang kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Kadang tidak langsung berhasil, kadang harus menunggu, kadang harus menjelaskan berulang-ulang.

Tapi aku tidak punya pilihan lain.

Aku pernah menulis di buku kecilku:

“Kalau kita tidak cukup kuat sendiri… kita harus berani meminta bantuan.”

Dan perlahan hasil itu mulai terasa.

Tidak besar, tapi cukup untuk menggerakkan beberapa hal yang sebelumnya tertahan.

Memasuki bulan-bulan berikutnya, aku mulai melihat perjalanan ini sebagai maraton, bukan sprint.

100 hari kerja selesai, bukan dengan sempurna tapi dengan fondasi yang mulai terbentuk.

Lalu waktu terus berjalan.

Tanpa terasa mendekati satu tahun.

Aku kembali melihat ke belakang. Apa yang sudah berubah?

Tidak semua, masih banyak yang harus diperbaiki.

Tapi ada satu hal yang berbeda, arahnya sudah jelas.

Aku tidak lagi merasa berjalan tanpa peta.

Aku tahu mana yang harus dipercepat. Mana yang harus diperbaiki danan mana yang harus disabarkan.

Aku juga mulai lebih memahami ritme. Kapan harus gas.
Kapan harus rem. Dan kapan harus berhenti sejenak untuk mengevaluasi.

Di satu titik, aku berdiri lagi di balkon Pendopo.

Seperti dulu. Tapi perasaannya berbeda.

Dulu penuh pertanyaan, sekarang masih ada pertanyaan, tapi juga ada jawaban.

Aku tersenyum kecil.

“Perjalanan ini belum jauh.”

“Tapi setidaknya… aku tidak diam di tempat.”

Aku membuka buku kecilku.

Halamannya hampir habis, aku menulis pelan:

“100 hari adalah awal.”

“Satu tahun adalah pembelajaran.”

“Dan sisanya… adalah ujian tentang konsistensi.”

Aku menutup buku itu.

Karena aku tahu tantangan ke depan tidak akan lebih ringan.

Tapi sekarang aku sudah mengerti satu hal:

Menjadi pemimpin bukan tentang seberapa cepat memulai.

Tapi tentang seberapa kuat menjaga api itu tetap hidup sampai akhir.

CATATAN DIRAYA

Episode 10: Menyusun Tim, Antara Kepercayaan dan Pro Kontra

Ada satu keputusan yang sejak awal aku tahu tidak akan pernah benar-benar aman, hal itu adalah menyusun tim.

Di luar sana, orang mungkin melihat jabatan bupati sebagai pusat kendali. Seolah semua bisa aku jalankan sendiri.

Padahal kenyataannya… justru sebaliknya.

Aku tidak bisa bekerja sendirian.

Dan kualitas kepemimpinan sangat ditentukan oleh siapa yang ada di sekelilingku.

Di situlah muncul satu kebutuhan yang tidak bisa dihindari, penataan dan mutasi ASN.

Keputusan ini bukan sekadar rotasi jabatan.

Ini tentang arah. Tentang ritme kerja. Tentang siapa yang benar-benar siap berlari bersama.


Tapi jujur saja, ini juga salah satu keputusan paling sensitif.


Karena di balik setiap posisi ada manusia, ada pengalaman,ada harapan, dan kadang ada kenyamanan yang sudah terlalu lama.

Aku duduk cukup lama sebelum memulai proses ini.

Membaca rekam jejak, melihat kinerja, mendengar masukan dari berbagai pihak.

Aku bertanya pada diriku sendiri:

“Apakah aku akan memilih yang aman… atau yang terbaik?”

Karena seringkali keduanya tidak selalu sama.

Aku ingin tim yang tidak hanya pintar di atas kertas.

Tapi juga punya keberanian untuk bergerak. Punya kemauan untuk berubah. Dan yang paling penting punya integritas.

Aku pernah menulis di buku kecilku:

“Lebih baik tim kecil yang solid… daripada besar tapi tidak bergerak.”

Proses itu akhirnya berjalan Mutasi dilakukan, rotasi jabatan mulai terlihat.

Dan seperti yang sudah aku duga, reaksi pun datang.

Ada yang mendukung. Ada yang mempertanyakan.
Ada yang merasa keputusan ini tepat. Ada juga yang merasa sebaliknya.

Aku membaca, mendengar, dan mencoba memahami.

Ada yang menilai ini terlalu cepat. Ada yang bilang ini terlalu berani. Ada juga yang mengaitkan dengan berbagai kepentingan.

Aku tidak kaget.

Karena aku tahu keputusan seperti ini memang tidak akan pernah netral.

Yang membuatku berpikir justru bukan kritiknya.

Tapi pertanyaan di dalam diriku sendiri:

“Apakah aku sudah cukup objektif?”

Karena sebagai manusia aku juga punya subjektivitas.

Di situlah aku benar-benar menguji diriku.

Apakah aku memilih berdasarkan kedekatan atau berdasarkan kebutuhan?

Apakah aku ingin nyaman? Atau ingin bergerak?

Jawaban itu tidak selalu mudah.

Tapi aku berusaha jujur.

Aku tahu, mungkin tidak semua keputusan sempurna.

Mungkin ada yang belum tepat.Mungkin ada yang perlu diperbaiki.

Tapi satu hal yang aku pegang, niatnya harus benar.

Aku tidak ingin membentuk tim yang hanya mengiyakan.

Aku butuh tim yang bisa berpikir. Yang bisa berbeda pendapat. Yang bisa mengingatkan ketika aku mulai keluar arah.

Karena aku belajar dari perjalanan ini, pemimpin tidak akan jatuh karena musuhnya. Tapi bisa jatuh karena timnya tidak berani berkata jujur.

Beberapa hari setelah mutasi itu, aku duduk sendiri.

Suasananya tidak jauh berbeda dari malam-malam sebelumnya.

Tenang, tapi penuh pikiran.

Aku membuka buku kecilku.

Menulis dengan pelan.


“Hari ini aku mungkin membuat beberapa orang kecewa.”

“Tapi aku berharap… ini bukan tentang siapa yang dipilih.”

“Ini tentang bagaimana kita bisa bekerja lebih baik.”

Aku berhenti sejenak.

Menatap tulisan itu.

Karena aku sadar, keputusan ini bukan akhir, ini justru awal dari ujian berikutnya.

Apakah tim ini bisa berjalan?
Apakah ritme kerja bisa berubah?
Apakah hasilnya akan terlihat?

Semua itu belum pasti.

Tapi aku harus percaya.

Karena kalau aku ragu pada tim yang aku pilih sendiri, aku juga akan ragu pada arah yang aku buat.

Di luar sana, pro dan kontra masih berjalan.

Dan mungkin tidak akan pernah benar-benar berhenti.

Tapi sekarang aku lebih tenang.

Karena aku tahu, menjadi pemimpin bukan tentang menghindari perbedaan.

Tapi tentang tetap berdiri di tengah perbedaan itu.

Aku menutup hari itu dengan satu keyakinan, lebih baik mengambil risiko dengan tujuan yang jelas, daripada diam dalam ketidakpastian.


Perjalanan ini terus berjalan.

Dan tim yang aku pilih akan menjadi bagian penting dari cerita ini.


CATATAN DIRAYA

Episode 11: Ketika Aku Berharap pada BUMD

Ada satu kegelisahan yang terus berulang di kepalaku, tentang satu kata yang sederhana, tapi berat untuk diwujudkan yaitu kemandirian.

Sejak awal menjabat, aku sudah melihat satu kenyataan yang tidak bisa dihindari.

Kuningan masih sangat bergantung.

Pada transfer dari pusat. Pada bantuan dari provinsi. Pada hal-hal yang kadang di luar kendali kita sendiri.

Aku tidak mengatakan itu salah.

Karena memang seperti itu sistemnya.

Tapi di dalam hati aku selalu bertanya:

“Sampai kapan?”

Karena aku percaya, sebuah daerah tidak akan benar-benar kuat kalau tidak punya kekuatan dari dalam.

Di situlah pikiranku mulai tertuju pada satu hal: BUMD.

Badan Usaha Milik Daerah.

Selama ini ada, berjalan. Tapi jujur saja belum menjadi tumpuan.

Padahal seharusnya, BUMD bukan sekadar pelengkap, tapi bisa menjadi mesin penggerak ekonomi daerah.


Aku mulai membaca banyak hal.

Melihat potensi, melihat yang sudah ada, melihat yang belum dimaksimalkan.

Dan aku menemukan satu kesimpulan sederhana, kita belum serius menjadikannya besar.

Aku pernah menyampaikan dalam satu forum:

“Kuningan harus punya BUMD yang kuat. Yang bisa memberikan kontribusi nyata terhadap PAD.”

Bukan sekadar ada, tapi benar-benar hidup.

Aku membayangkan, BUMD yang mampu mengelola potensi daerah. Air, pariwisata, perdagangan, bahkan sektor-sektor lain yang selama ini belum tergarap maksimal.

Bukan hanya untuk keuntungan.

Tapi untuk membuka lapangan kerja, untuk menggerakkan ekonomi lokal, untuk memberi ruang bagi masyarakat berkembang.

Tapi seperti banyak hal lainnya, mimpi itu tidak datang tanpa tantangan. Ada persoalan lama, manajemen yang belum optimal, kinerja yang belum maksimal, kepercayaan publik yang belum sepenuhnya pulih.

Dan jujur saja, itu tidak bisa diperbaiki dalam waktu singkat.


Aku kembali dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah, apakah mempertahankan yang ada, atau berani melakukan pembenahan besar?

Aku memilih yang kedua.

Bukan karena lebih mudah.

Tapi karena aku tahu kalau ingin berubah, harus berani mulai dari akar.

Aku ingin BUMD tidak lagi dipandang sebelah mata, tidak lagi dianggap hanya formalitas.

Aku ingin suatu hari nanti, ketika kita bicara PAD,
kita tidak hanya bergantung pada pajak dan retribusi. Tapi juga pada usaha daerah yang benar-benar produktif.


Aku pernah menulis di buku kecilku:

“Kalau kita ingin berdiri tegak… kita harus punya kaki sendiri.”

BUMD adalah salah satu kaki itu.


Langkah-langkah mulai diambil. Evaluasi, penataan, mencari orang-orang yang tepat. Dan tentu saja, kembali muncul pro dan kontra.

Ada yang pesimis, ada yang ragu, ada yang bertanya apakah ini bisa berhasil?

Aku tidak menyalahkan mereka.

Karena melihat kondisi sebelumnya keraguan itu wajar.

Tapi aku memilih untuk tetap berjalan.


Karena aku percaya setiap daerah punya potensi.

Dan tugas pemimpin adalah membuka potensi itu, bukan membiarkannya tertutup.

Malam itu, aku kembali duduk sendiri, seperti banyak malam sebelumnya.

Aku membuka buku kecilku, aku menulis pelan:

“Aku tidak ingin Kuningan hanya bertahan.”

“Aku ingin Kuningan… tumbuh melesa


Aku berhenti sejenak, lalu menambahkan:

“Dan mungkin… BUMD adalah salah satu jalannya.”

Aku menutup buku itu dengan satu perasaan yang tidak terlalu keras, tapi cukup kuat untuk membuatku terus melangkah yaitu harapan.


Karena pada akhirnya, menjadi pemimpin bukan hanya tentang menyelesaikan masalah hari ini. Tapi juga tentang menyiapkan kekuatan untuk masa depan.

CATATAN DIRAYA

Episode 12: Ayah, Warisan yang Tak Pernah Usai

Hari itu, menjelang peringatan Hari Ayah, aku berdiri di beranda pendopo. Angin pagi membawa aroma tanah basah, mengingatkanku pada masa kecil di rumah sederhana milik kedua orang tuaku: pasangan guru, yang mendidik dan membesarkanku hingga menjadi sukses seperti saat ini.

Ayah, bukan hanya seorang guru, tapi juga pendidik kehidupan. Ia tak pernah marah, namun selalu mengajarkan melalui teladan.

“Guyub, saling mengayomi, dan menjaga etika,” itulah tiga prinsip yang tak pernah berhenti diulangnya.

Ayah selalu mengingatkan, jika kelak aku menjadi seorang pemimpin, kekuasaan itu bukan untuk disanjung, tapi untuk mengayomi.

Kalimat itu menancap begitu dalam, bahkan hingga kini.

Oleh karenanya, dibalik segala kesibukan memimpin daerah, aku paling takut pada satu hal, gagal meneruskan nilai-nilai luhur ayahnya kepada anak-anaknya sendiri.

27 November 2025

Aku berdiri di samping keranda yang ditutupi kain putih, sementara aroma harum kayu dan doa-doa kerabat dan tetangga mengalun pelan.

Langit sore itu tidak kelabu, tetapi terasa sepi, sepi yang menyesap sampai ke tulang paling dalam.

Aku menatap wajah ayah yang kini terbaring damai. Sosok lelaki yang selama ini menjadi rumah, guru, sekaligus kompas dalam hidupku, akhirnya kembali ke pangkuan Sang Pencipta.

Usianya telah melampaui sembilan dekade, tetapi bagiku, kepergian itu tetap terasa terlalu cepat.

Aku menarik napas panjang, dengan suara yang nyaris patah, berbisik pelan,

“Ayah… izinkan aku mengantarkanmu dengan doa yang paling dalam.”

Sejak kecil, aku tumbuh dalam kesederhanaan yang justru penuh kebijaksanaan. Ayahku bukan tokoh besar yang setiap hari muncul di layar televisi, tapi bagi anak-anaknya, ia adalah pemberi cahaya.

Ayah tak pernah mengajarkan kesuksesan dengan kemewahan, melainkan dengan ketekunan dan integritas. Tak pernah memaksakan apa pun, namun nilai-nilai yang diajarkannya menempel kuat di hati.

“Menjadi pemimpin tidak harus duduk di jabatan tinggi, Nak. Menjadi pemimpin itu cukup dengan mampu menjaga amanah, meski hanya untuk satu orang,” begitu kata ayahku saat diriku masih remaja.

Kini, puluhan tahun kemudian, aku berdiri sebagai salah satu pemimpin daerah, sebuah amanah besar yang tidak pernah ia impikan, tetapi ia perjuangkan. Dan setiap langkah yang aku ambil selalu mengingatkan pada pesan-pesan ayah.

Tentang kesabaran, tentang keberanian, dan tentang tidak meninggalkan siapa pun di belakang.

Aku duduk di dekat kepala ayah, menggenggam tangan itu, tangan tua yang dulu menggandengku dengan hangat ketika belajar berjalan, tangan yang mengusap kepalaku ketika gagal, tangan yang menepuk bahuku ketika ia berhasil.

Hari ini, tangan itu dingin. Tapi kenangan yang melekat padanya tetap hangat.

“Ayah… terima kasih telah membesarkanku dengan penuh pengorbanan. Terima kasih sudah mengajarkan bagaimana menjadi lelaki yang tidak hanya kuat, tapi juga lembut.”

Suaraku pecah, tak terasa mataku berair.

Jika hari ini aku bisa menjadi pemimpin, itu karena ayah yang lebih dulu memimpin hati ini. Dan jika suatu hari aku menjadi ayah yang baik, itu karena ayah telah menunjukkan caranya.

Doa-doa mulai dipanjatkan. Suara para tetangga, sahabat, dan keluarga menyatu menjadi lantunan yang menggetarkan dinding rumah.

Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah Ayah, memaafkan setiap khilafnya, dan memberikan tempat terindah di sisi-Nya.

Semoga Ayah beristirahat dengan tenang, setelah menghabiskan hidup untuk membesarkan kami menjadi manusia yang bermanfaat.


Ketika keranda akhirnya diangkat, aku tidak menangis lagi.
Ada kekuatan baru yang tumbuh di dadaku, kekuatan yang ayah wariskan, tanpa pernah aku sadari.

Di balik tangis yang telah reda, aku tahu, sesungguhnya warisan terbesar ayah bukanlah jabatan, bukan pula harta, melainkan keteladanan yang akan ia bawa sepanjang hidup.


CATATAN DIRAYA

Episode 13: Warisan Apa yang Sebenarnya Ingin Aku Tinggalkan

Ada satu pertanyaan yang belakangan ini sering muncul, bukan dari orang lain. Tapi dari dalam diriku sendiri.

“Setelah semua ini selesai… apa yang akan tersisa?”


Karena jabatan ini, ada batas waktunya.

Dan waktu, seperti yang sudah aku pelajari,
tidak pernah benar-benar bisa ditahan.

Aku mulai melihat ke depan.

Bukan lagi sekadar program tahunan, bukan hanya target jangka pendek. Tapi sesuatu yang lebih panjang, lebih dalam, yakni warisan apa yang akan aku tinggalkan untuk masyarakat Kuningan tercinta ini.

Tapi aku tidak ingin warisan itu hanya berupa bangunan atau angka-angka di laporan. Karena semua itu, bisa berubah, bisa hilang, bisa dilupakan.

Aku ingin sesuatu yang lebih bertahan.

Aku ingin meninggalkan, cara berpikir yang berbeda.

Bahwa bekerja di pemerintahan bukan sekadar rutinitas.
Bahwa melayani bukan hanya slogan., bahwa perubahan itu mungkin.

Aku ingin ketika nanti aku tidak lagi di jabatan ini, orang-orang tetap bekerja dengan semangat yang sama. Tetap berani berubah. Tetap mau mendengar. Tetap tidak puas dengan keadaan.


Karena menurutku, itulah warisan yang sebenarnya.

Aku juga ingin meninggalkan kepercayaan.

Bahwa pemerintah bisa dekat.
Bahwa pemimpin bisa hadir.
Bahwa suara masyarakat benar-benar didengar.

Mungkin terdengar sederhana.

Tapi aku tahu, itu tidak selalu mudah diwujudkan.

Aku melihat kembali perjalanan ini.

Dari hari pelantikan.
Dari 100 hari kerja.
Dari tekanan, kritik, keputusan sulit.

Dari mutasi.
Dari mimpi tentang BUMD.
Dari langkah-langkah kecil yang perlahan terasa.

Semuanya belum sempurna.

Bahkan mungkin masih jauh dari kata ideal.

Tapi di situlah aku menemukan satu hal penting, warisan tidak dibangun dari kesempurnaan.

Tapi dari konsistensi.

Hal kecil yang dilakukan berulang. Keputusan yang diambil dengan niat benar. Keberanian untuk terus memperbaiki.

Aku kembali berdiri di balkon Pendopo.

Tempat yang entah sudah berapa kali menjadi saksi pikiranku.

Kuningan tetap seperti biasa.

Tenang.
Sederhana.
Dan penuh kehidupan.


Aku tersenyum kecil.

“Mungkin aku tidak bisa mengubah semuanya.”

“Tapi aku bisa memastikan… aku tidak melewati waktu ini dengan sia-sia.”

Aku membuka kembali buku kecilku.

Halaman terakhir.


Aku menulis perlahan.

Lebih hati-hati dari biasanya.


“Aku tidak ingin dikenang sebagai bupati yang sempurna.”

“Aku hanya ingin dikenang… sebagai seseorang yang berusaha jujur dalam menjalankan amanah.”

Aku berhenti.

Menatap tulisan itu cukup lama.

Karena pada akhirnya, itu saja yang benar-benar bisa aku jaga.

Bukan penilaian orang.
Bukan pujian.
Bukan kritik.

Tapi niat dan usaha.

Aku menutup buku itu.

Untuk terakhir kalinya.

Dan di dalam hati, aku tahu perjalanan ini belum selesai.

Masih ada waktu.
Masih ada kesempatan.

]Tapi setidaknya sekarang… aku sudah tahu arah akhirnya.

Bahwa semua ini bukan tentang jabatan.

Bukan tentang kekuasaan.

Tapi tentang makna.

Makna dari setiap langkah.
Makna dari setiap keputusan.
Makna dari setiap kesempatan untuk melayani.

Dan kalau suatu hari nanti aku harus berhenti, aku hanya berharap satu hal bahwa apa yang aku lakukan, meski kecil, tapi pernah berarti.

TAMAT (atau… mungkin justru awal dari cerita yang lain).