Ada satu titik dalam kehidupan di mana langkah tidak lagi tentang diri sendiri, tetapi tentang berbagi kehidupan dengan orang lain. Bagi Bunda Ela, titik itu hadir dalam pernikahan.
Bunda memahami bahwa pernikahan bukan hanya penyatuan dua insan, tetapi penyatuan dua perjalanan hidup yang harus saling menguatkan. Tidak selalu mudah, tidak selalu berjalan lurus, namun selalu mengandung pembelajaran.
Dalam kehidupan rumah tangga, Bunda menemukan makna cinta yang sesungguhnya, bukan sekadar rasa, tetapi komitmen yang dijaga dalam keseharian.
Cinta, baginya, hadir dalam hal-hal sederhana, dalam perhatian kecil, dalam kesabaran menghadapi perbedaan, dan dalam keikhlasan untuk saling mengerti.
Sebagai seorang istri, Bunda belajar bahwa mendampingi bukan berarti selalu setuju, tetapi selalu berusaha memahami. Bahwa kekuatan hubungan tidak terletak pada kesempurnaan, tetapi pada kemampuan untuk bertahan dan bertumbuh bersama.
Namun peran yang paling mengubah dirinya adalah ketika Bunda menjadi seorang ibu. Di situlah Bunda benar-benar memahami bahwa kehidupan bukan lagi tentang dirinya.
Menjadi ibu adalah perjalanan tanpa akhir, penuh cinta, penuh kekhawatiran, dan penuh harapan. Tidak ada panduan yang sempurna, tidak ada cara yang selalu benar. Namun ada satu hal yang selalu ia pegang, memberikan yang terbaik dengan hati.
Bunda menyadari bahwa rumah adalah sekolah pertama. Dari rumah, anak-anak belajar tentang cinta. Dari rumah, mereka belajar tentang nilai. Dan dari rumah, mereka mengenal dunia.
Bunda berusaha menghadirkan rumah yang tidak hanya nyaman secara fisik, tetapi juga hangat secara batin. Rumah yang menjadi tempat pulang, tempat bercerita, dan tempat tumbuh.
Dalam keseharian, Bunda menanamkan nilai tanpa banyak kata, kejujuran melalui contoh, kesabaran melalui sikap, dan kasih sayang melalui kehadiran
Tidak selalu mudah. Ada saat lelah, ada momen ketika kesabaran diuji. Namun Bunda percaya bahwa keluarga bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang terus berusaha menjadi lebih baik. Dan dari keluarga itulah, seluruh kekuatan hidupnya bertumbuh.
Dalam perjalanan hidup Bunda, di antara banyak peran dan amanah yang Allah titipkan, keluarga selalu menjadi tempat Bunda kembali.
Tempat di mana Bunda bisa melepas segala penat, menata ulang hati, dan menemukan kembali alasan mengapa Bunda ingin terus berbuat baik.
Bunda percaya, rumah adalah sekolah pertama kehidupan. Di sanalah cinta, kesabaran, dan tanggung jawab pertama kali diajarkan.
Dan sebagai seorang istri sekaligus ibu, Bunda selalu berusaha agar rumah kami tidak hanya menjadi tempat beristirahat, tetapi juga tempat tumbuhnya kasih dan nilai-nilai kehidupan.
Suami Bunda, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si, bukan hanya pasangan hidup, tapi juga sahabat berpikir dan teman berjuang.
Sejak awal pernikahan, kami selalu berbagi mimpi tentang bagaimana ingin berbuat untuk masyarakat, bagaimana menjadikan pengabdian sebagai bagian dari ibadah.
Dan ketika beliau kini mengemban amanah sebagai Bupati Kuningan, Bunda tahu bahwa tugas Bunda adalah menjadi penopang, bukan penghalang, menjadi penguat, bukan pengkritik; menjadi rumah yang menenangkan, bukan beban pikiran.
Menjadi istri seseorang yang memiliki cita-cita besar adalah anugerah sekaligus ujian. Bunda melihat langsung bagaimana suami bekerja, berjuang, dan berkorban demi masyarakat.
Kadang hari-hari kami terasa begitu panjang. Ada kalanya ia pulang larut malam dengan wajah lelah, ada kalanya ia berangkat sebelum matahari terbit.
Namun di setiap langkahnya, Bunda selalu melihat ketulusan yang sama seperti dulu saat pertama kali mengenalnya.
Bunda tahu, jalan yang ia pilih bukan jalan mudah. Menjadi pemimpin berarti siap untuk dikritik, disalahpahami, bahkan diuji oleh banyak hal yang tidak selalu adil.
Dan sebagai istri, Bunda pun ikut belajar tentang keteguhan. Bunda belajar untuk menjadi rumah bagi suami, tempat ia pulang, beristirahat, dan menguatkan kembali semangatnya.
Bunda tidak ingin menjadi sosok yang hanya berdiri di belakang. Bunda ingin menjadi bagian dari langkahnya. Bukan untuk tampil, tapi untuk menopang.
Bunda percaya, cinta sejati tidak menjadikan seseorang sebagai bayangan, melainkan cahaya yang berjalan sejajar.
Bunda masih ingat satu malam ketika hujan turun deras. Suami baru saja pulang dari kegiatan di desa yang jauh. Ia tampak letih, tapi matanya tetap menyala.
Sambil menyeruput teh hangat, ia berkata pelan, “Capeknya hilang kalau lihat senyummu.”
Bunda tersenyum waktu itu, tapi di hati Bunda berdoa lirih, semoga Allah senantiasa menjaga langkah kami, memberi kekuatan untuk tetap berjalan di jalan pengabdian yang benar.
Ketika anak-anak kami lahir, hidup Bunda berubah arah. Jika dulu Bunda banyak mengatur waktu untuk pekerjaan, kini Bunda belajar mengatur hati untuk menjadi ibu.
Bunda percaya, menjadi ibu adalah panggilan paling suci dalam hidup seorang perempuan.
Ibu bukan sekadar peran biologis, tapi juga tanggung jawab spiritual, untuk menanamkan nilai, menumbuhkan karakter, dan membentuk manusia yang berakhlak.
Setiap fase tumbuh kembang anak-anak adalah lembaran berharga dalam hidup Bunda.
Ada tangis pertama, langkah pertama, kata pertama, semua menjadi kenangan yang tak tergantikan. Bunda selalu berusaha hadir dalam setiap momen mereka, meskipun kesibukan terkadang menguji waktu.
Bunda ingin anak-anak tumbuh dengan melihat bahwa cinta dan tanggung jawab bisa berjalan beriringan. Bahwa seorang ibu bisa tetap berkarya, tanpa kehilangan kelembutan di rumahnya.
Bunda tidak pernah ingin menjadi sempurna, Bunda hanya ingin menjadi cukup, cukup hadir, cukup hangat, dan cukup sabar.
Ada masa-masa ketika Bunda merasa lelah, tapi setiap kali melihat wajah anak-anak yang tersenyum atau mendengar mereka memanggil, semua lelah itu luruh, berubah menjadi kekuatan baru.
Bunda selalu mengingat satu prinsip sederhana yang ditanamkan Ibu Bunda dulu:
“Jangan hanya membesarkan anak dengan makanan, tapi juga dengan kasih dan doa.”
Doa itulah yang selalu Bunda panjatkan setiap malam, sebelum mata terpejam, doa agar anak-anak kami tumbuh menjadi manusia yang tidak hanya pintar, tapi juga berhati baik.
Seiring waktu, kehidupan kami berdua tidak selalu berjalan mulus.
Ada masa di mana kami harus menempuh jarak, menghadapi tekanan, bahkan menahan perasaan ketika kelelahan dan kritik datang bersamaan.
Namun di setiap ujian itu, kami selalu memilih untuk saling kembali. Bunda belajar, cinta yang tumbuh bersama bukanlah cinta yang tanpa badai, melainkan cinta yang justru tumbuh karena badai itu sendiri.
Bunda sering berkata kepada diri sendiri:
“Perempuan tidak diukur dari seberapa kuat ia berbicara, tapi dari seberapa tenang ia mampu meneguhkan.”
Ketika suami mendapat amanah besar sebagai Bupati Kuningan, Bunda tahu perjalanan baru telah dimulai. Bukan hanya untuknya, tapi juga untuk kami sebagai keluarga.
Tanggung jawab itu bukan beban, melainkan ujian cinta, apakah kami mampu menjaga keseimbangan antara kehidupan publik dan kehidupan pribadi.
Bunda selalu berusaha mendampingi, bukan dengan sorotan, tapi dengan kehadiran.
Ketika suami melangkah ke panggung pelayanan publik, Bunda melangkah ke ruang yang lebih sunyi, ruang di mana Bunda bisa mendengar suara masyarakat, memahami kebutuhan mereka, dan menjadi jembatan yang menghubungkan kasih pemerintah dengan hati rakyat.
Dari perjalanan panjang kami, Bunda belajar satu hal penting: cinta yang sejati bukan membuat seseorang bergantung, tapi membuatnya tumbuh.
Bunda merasa bersyukur memiliki suami yang selalu mendukung setiap langkah Bunda.
Ia tidak pernah melarang Bunda untuk berkiprah, asalkan apa yang Bunda lakukan memberi manfaat dan tidak melenceng dari niat baik.
Dukungan itu membuat Bunda semakin yakin untuk mengambil peran-peran sosial, terutama yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan dan keluarga.
Kami saling menguatkan. Bunda menjadi penyemangatnya ketika ia lelah, dan ia menjadi sandaran Bunda ketika Bunda ragu.
Di antara segala kesibukan, kami selalu menyisihkan waktu untuk berbincang, sekadar meneguk teh hangat bersama, bertukar cerita tentang hari yang panjang, atau membicarakan hal-hal kecil yang menenangkan hati.
Bunda percaya, komunikasi adalah jantung dari sebuah rumah tangga. Tanpanya, cinta mudah layu. Dengan komunikasi, cinta akan selalu menemukan cara untuk tumbuh kembali.
Ketika Bunda menoleh ke belakang, Bunda menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar kisah dua insan yang membangun rumah tangga.
Ini adalah perjalanan spiritual, tentang bagaimana cinta bisa menjadi sumber kekuatan untuk terus berbuat baik.
Dari suami, Bunda belajar tentang pengabdian. Dari anak-anak, Bunda belajar tentang kesabaran. Dan dari kehidupan berkeluarga, Bunda belajar tentang keseimbangan antara memberi dan menerima.
Bunda tidak ingin dikenal sebagai istri siapa, atau ibu dari siapa. Bunda ingin dikenal sebagai perempuan yang berusaha menjalani perannya dengan tulus.
Cinta yang Bunda miliki bukan hanya untuk keluarga, tapi juga untuk masyarakat yang menjadi bagian dari keluarga besar kami di Kuningan.
“Cinta sejati tidak hanya membuat kita bahagia, tapi juga menjadikan kita lebih kuat untuk berbagi.”
Itulah yang Bunda pegang sampai hari ini, bahwa cinta yang tumbuh dari ketulusan, akan selalu menumbuhkan kekuatan.
Bunda sering merenung, betapa Allah begitu baik telah mempertemukan Bunda dengan seseorang yang sabar, visioner, dan penuh kasih.
Kami mungkin tak selalu sependapat, tapi kami selalu sepakat bahwa keluarga harus dijaga dengan cinta dan doa.
Dari pernikahan kami, Allah menganugerahkan tiga buah hati yang menjadi kebanggaan sekaligus sumber semangat Bunda: dr. Abyantara Insan, Athaya Haura Khaerunnisa, S.K.G, dan Azalea Rauda Firdaussy.
Mereka bukan hanya anak-anak Bunda, tapi juga guru kehidupan. Dari mereka, Bunda belajar arti perjuangan, kerja keras, dan ketulusan yang tak pernah habis.
Melihat anak-anak tumbuh, belajar, dan meraih cita-cita adalah kebahagiaan yang tak ternilai.
Ketika putra sulung kami akhirnya menyandang gelar dokter, Bunda menangis, bukan karena bangga semata, tapi karena Bunda teringat semua proses panjangnya: begadang, ujian, doa, dan air mata.
Begitu pula dengan anak kedua yang sedang menempuh pendidikan dokter, dan si bungsu yang masih sekolah namun sudah menunjukkan semangat yang luar biasa.
Bagi Bunda, mendidik anak adalah ibadah paling sunyi namun paling mulia.
Tak ada yang sempurna dalam menjadi ibu, tapi setiap upaya yang kita lBundakan dengan cinta akan selalu berarti di mata mereka.
Bunda ingin anak-anak Bunda tumbuh menjadi manusia yang berilmu, berakhlak, dan punya empati, karena bagi Bunda, kesuksesan sejati bukan diukur dari jabatan, tapi dari seberapa besar manfaat yang bisa diberikan pada sesama.
Dalam kesibukan menjalankan berbagai amanah, Bunda selalu berusaha menjaga keseimbangan.
Sesibuk apa pun, Bunda harus tetap punya waktu untuk keluarga.
Sekadar sarapan bersama, berbincang ringan di ruang tamu, atau sekadar menanyakan kabar lewat pesan singkat, hal-hal kecil itu yang menjaga kehangatan di antara kami.
“Rumah bukan hanya tempat tinggal, tapi tempat pulang dengan hati yang tenang.”
Keluarga bagi Bunda bukan sekadar ikatan darah, tapi ikatan doa dan cinta yang saling menguatkan.
Dan Bunda percaya, kekuatan sejati seorang perempuan bukan pada seberapa banyak jabatan yang diembannya, melainkan seberapa kokoh ia menjaga rumahnya tetap menjadi sumber kasih dan doa.
Dalam setiap langkah Bunda di masyarakat, dalam setiap kegiatan sosial, dalam setiap sambutan dan program yang Bunda jalankan, Bunda tahu, kekuatan itu berawal dari rumah.
Dari suami yang mendukung, anak-anak yang mendoakan, dan keluarga yang selalu menjadi tempat Bunda berlabuh.
Dan setiap kali Bunda memandang wajah mereka, hati Bunda selalu berbisik pelan: “Terima kasih, Ya Allah, telah memberiku rumah yang penuh cinta. Dari sinilah Bunda belajar menjadi manusia yang lebih baik.”