Home Cerpen Berburu Kantong Kresek

Berburu Kantong Kresek

Share
Share

Duamata.id – Pagi itu, langit kampung seperti baru dicuci semalaman. Takbir masih menggema dari mushala kecil di ujung gang. Anak-anak berlari membawa balon, para bapak sibuk mengasah golok, sementara ibu-ibu mulai menyiapkan panci paling besar yang setahun sekali keluar dari gudang.

Hari Raya Idul Adha.

Hari raya qurban.

Tapi bagi sebagian orang di Kampung Cibadak, hari itu lebih terkenal sebagai hari berburu kantong kresek.

Sejak subuh, jalanan sudah ramai oleh “pasukan pemburu daging.” Mereka bergerak lincah seperti intel. Ada yang membawa tas belanja, ada yang membawa ember cat bekas, bahkan ada yang membawa karung beras lima kilo.

Yang paling senior adalah Mang Darsa.

Ia punya strategi yang diwariskan turun-temurun. Kaosnya selalu diganti tiga kali agar bisa antre di tiga tempat berbeda.

“Di masjid Al-Ikhlas pakai peci hitam. Di mushala Al-Hidayah pakai topi haji putih. Di komplek perumahan pakai masker,” bisiknya bangga kepada rekannya.

“Kalau ketahuan?”

“Makanya jalannya agak pincang sedikit. Biar dikira orang beda.”

Tahun demi tahun, Mang Darsa selalu pulang membawa daging lebih banyak daripada panitia qurban sendiri.

Padahal di rumahnya ada motor baru.

TV 55 inci.

Dan dua handphone yang cicilannya belum lunas.

Tapi soal daging qurban, ia punya prinsip hidup: “Kalau gratis, kenapa harus malu?”

Di sisi lain kampung, tinggal Pak Rahmat.

Rumahnya kecil. Dindingnya belum diplester. Atap dapurnya bocor kalau hujan besar. Ia hanya tukang tambal ban.

Namun setiap Idul Adha, Pak Rahmat selalu sibuk membantu panitia sejak subuh.

Mengikat sapi.

Membawakan air.

Membersihkan darah.

Mengantar kantong daging.

Tapi anehnya, ia hampir tidak pernah membawa pulang daging.

“Pak, ambil dulu bagian bapak,” kata panitia.

Pak Rahmat tersenyum kecil. “Duluin yang lebih membutuhkan.”

Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa terdengar mahal.

Menjelang siang, grup WhatsApp warga mulai ramai.

“INFOOOO! Di masjid perumahan Permata masih ada pembagian!”

“Katanya RW sebelah sapinya tiga ekor!”

“Buruan! Sebelum habis!”

Maka bergeraklah para pemburu.

Motor hilir mudik seperti ojek online promo akhir bulan.

Ada yang baru dapat satu kilo tapi masih antre lagi.

Ada yang pura-pura jadi tamu.

Ada yang membawa anak kecil sebagai “senjata tambahan” agar dikasih iba.

Yang lucu, sebagian dari mereka sepanjang tahun rajin memamerkan makan di restoran mahal.

Upload kopi kekinian.

Pamer cicilan mobil.

Tapi saat Idul Adha berubah menjadi pejuang garis depan pencari daging gratis.

Seolah harga diri bisa dicicil setelah Lebaran.

Sore harinya, Mang Darsa duduk puas di teras rumah. Di depannya berjajar plastik-plastik daging hasil “operasi lapangan”.

Istrinya tersenyum bangga. “Alhamdulillah, dapat banyak ya, Kang.”

Mang Darsa mengangguk. “Kalau niat dan usaha mah rezeki gak ke mana.”

Tiba-tiba matanya tertuju ke ujung gang.

Pak Rahmat sedang berjalan pulang sambil menuntun sepeda tua. Tangannya kosong.

Kosong.

Tak ada kantong kresek.

Tak ada buntelan daging.

Hanya baju penuh noda darah sapi.

Mang Darsa nyeletuk, “Heran saya sama si Rahmat. Dari pagi bantu motong sapi, masa gak kebagian?”

Seorang panitia yang lewat mendengar itu lalu berkata pelan, “Pak Rahmat tadi sebenarnya dapat dua kantong.”

“Terus?”

“Yang satu dikasih ke janda tua belakang mushala.”

“Yang satu lagi?”

“Buat keluarga pemulung dekat rel kereta.”

Mang Darsa mendadak diam.

Untuk pertama kalinya hari itu, plastik-plastik daging di depannya terasa berat.

Bukan karena isinya.

Tapi karena malu.

Malamnya, takbir masih berkumandang.

Namun entah kenapa, suara itu terdengar seperti sindiran halus bagi manusia-manusia yang terlalu semangat menerima, tapi lupa belajar memberi.

Karena ternyata…

Idul Adha bukan tentang seberapa banyak daging yang berhasil dibawa pulang.

Melainkan seberapa besar ego yang berhasil disembelih.

Cerpen oleh : Topic Offirstson, M.Si., M.Pd.,

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Ribuan Jamaah Padati Masjid Agung Syiarul Islam, Bupati Dian: Idul Adha Momentum Pengorbanan dan Kepedulian

KUNINGAN — Ribuan jamaah memadati Masjid Agung Syiarul Islam untuk melaksanakan Sholat...

Pemprov Jabar Pastikan Sistem SPMB 2026 Siap, Pendaftaran Sekolah Maung Dibuka 25–29 Mei

BANDUNG – Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan sistem pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid...

Dedi Mulyadi Tegas: Tak Ada Titipan di Sekolah Maung, Kepala Sekolah Bisa Dicopot

BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan tidak boleh ada praktik...

Dedi Mulyadi Bonuskan Rp1 Miliar untuk Persib Usai Juara Super League 2025/2026

BANDUNG – Dedi Mulyadi memberikan bonus sebesar Rp1 miliar kepada Persib Bandung...