Home Cerpen Genteng, Tegangan, dan Harga Diri

Genteng, Tegangan, dan Harga Diri

Share
Share

Duamata.id – Siang itu matahari menggigit seperti tagihan listrik yang terlambat dibayar. Di sebuah rumah besar dengan pagar tinggi dan kamera di tiap sudut, seorang ahli listrik berdiri menengadah.

Di atas sana, di punggung genteng yang curam, ada kabel yang kusut seperti pikiran orang yang terlalu sering merasa paling benar.

Namanya Ghani. Ia datang bukan sekadar membawa tang, obeng, dan tespen. Ia membawa sesuatu yang tak terlihat, pengalaman bertahun-tahun, insting membaca arus, dan keberanian menari di antara risiko yang tak semua orang pahami.

“Naik aja ke atas,” kata si tuan rumah dari teras, sambil menyeruput kopi. “Paling juga cuma benerin kabel.”

Cuma.

Kata itu meluncur ringan, seperti daun jatuh. Tapi bagi Ghani, kata itu seperti menjatuhkan harga diri ke tanah.

Ia tidak menjawab. Ia tahu, di dunia seperti ini, menjelaskan sering kali kalah oleh orang yang merasa sudah mengerti.

Tangga disandarkan. Langkah demi langkah, ia naik. Bukan sekadar naik genteng, ia sedang memanjat prasangka.

Angin siang berembus, genteng berderit pelan, dan di hadapannya kabel-kabel itu saling melilit, seperti hubungan yang salah sambung.

Ghani mulai bekerja. Ia membaca aliran seperti orang membaca bahasa yang tak tertulis. Ia tahu mana yang hidup, mana yang pura-pura mati. Ia tahu mana yang harus diputus, mana yang harus disambung kembali.

Di bawah, si tuan rumah sesekali melirik, lalu kembali sibuk dengan ponselnya.

Baginya, pekerjaan itu sederhana: naik, benerin, selesai.

Tak ada yang melihat bagaimana Ghani menahan keseimbangan, mengukur risiko, dan memastikan satu kesalahan kecil tidak berubah menjadi percikan yang bisa membakar seluruh rumah.

Satu jam berlalu.

Ghani turun. Keringatnya jatuh bersama lelah yang tak sempat ia keluhkan.

“Sudah beres, Pak. Coba dicek.”

Lampu dinyalakan. Menyala. Stabil. Tak ada lagi kedip-kedip seperti janji yang setengah ditepati.

Si tuan rumah tersenyum puas.

“Nah kan, beres. Saya juga tadi sudah nyuruh orang buat naik genteng.”

Ghani diam.

Kalimat itu seperti saklar yang dimatikan tiba-tiba. Bukan listrik yang padam, melainkan rasa.

Ia menatap si tuan rumah sebentar. Bukan marah, bukan juga kecewa yang meledak-ledak. Lebih seperti seseorang yang akhirnya mengerti bahwa tidak semua orang ingin memahami.

“Betul, Pak,” jawabnya pelan. “Naik genteng memang bisa disuruh siapa saja.”

Ia mengemas alat-alatnya.

“Tapi memperbaiki listrik… itu bukan tentang siapa yang naik. Tapi siapa yang tahu apa yang sedang ia hadapi.”

Si tuan rumah tertawa kecil. Tidak benar-benar mengerti, tapi merasa cukup mengerti.

Seperti biasa.

Ghani tidak menunggu tawa itu selesai. Ia melangkah keluar, melewati pagar tinggi yang mungkin mahal, tapi tak cukup tinggi untuk menyaring kesombongan.

Di jalan, ia berhenti sejenak. Menatap langit.

Ia sadar, dunia ini penuh orang yang mengira telah membeli hasil, padahal yang mereka abaikan adalah proses.

Mereka melihat keringat, tapi tak pernah menghargai pikiran. Mereka membayar tenaga, tapi menawar keahlian.

Dan yang lebih lucu, mereka sering merasa itu sudah cukup.

Ghani tersenyum tipis.

Di kejauhan, ada rumah lain yang mungkin juga bermasalah dengan listriknya. Atau mungkin, bukan listriknya yang bermasalah, melainkan cara pandangnya.

Ia melangkah lagi.

Karena ada satu hal yang ia tahu pasti:

Lebih baik meninggalkan tempat yang tak menghargai cahaya, daripada terus memperbaiki gelap yang sengaja dipelihara.

Cerpen oleh Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Dedi Mulyadi Jadi Saksi, Pernikahan Pasangan Tunarungu di KUA Bale Endah Haru dan Menginspirasi

BANDUNG — Suasana hangat dan penuh haru menyelimuti Kantor Urusan Agama Bale...

Mahkota Binokasih Diarak Sakral, Dedi Mulyadi Hidupkan Kembali Jejak Kerajaan Padjadjaran Keliling Jawa Barat

SUMEDANG — Aura sakral menyelimuti halaman Museum Geusan Ulun, Sabtu (2/5/2026). Untuk...

Panggung yang Terlalu Cepat Didirikan

Duamata.id - Malam sudah lewat pukul sebelas ketika lampu di ruang kerja...

Kebudayaan Itu Nafas, dan Kita Sedang Menjaganya Bersama

Duamata.id - Minggu ini, orang-orang yang ‘dianggap’ peduli akan budaya yang ada...