KUNINGAN — Ada yang berbeda dalam peringatan Hari Kartini ke-147 di Kabupaten Kuningan, Selasa (21/04/2026).
Di tengah rangkaian acara yang berlangsung khidmat, sebuah momen personal justru mencuri perhatian, saat Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menyerahkan buku berjudul “Jejak Hati” kepada sang istri.
Bukan sekadar seremoni penyerahan buku, momen itu terasa lebih dalam, seperti potongan perjalanan hidup yang akhirnya dibagikan kepada orang terdekat yang selama ini ikut berjalan di sampingnya.
Di hadapan tamu undangan, Dian tak hanya menyerahkan buku. Ia juga menyampaikan refleksi yang menjadi epilog dalam buku.
Suasana mendadak hening saat kata-katanya mengalir pelan, penuh makna.
“Aku pernah berpikir… bahwa setiap perjalanan pasti punya titik akhir. Tapi semakin aku menjalani semua ini… aku justru menyadari satu hal: perjalanan seperti ini tidak pernah benar-benar selesai.”
Ia menggambarkan kepemimpinan bukan sebagai garis finish, melainkan proses panjang yang penuh dinamika, ringan dan berat, pasti dan penuh tanda tanya.
“Menjadi pemimpin… bukan tentang mencapai garis akhir. Tapi tentang terus berjalan, meski jalan itu tidak selalu rata.”
Dalam epilog tersebut, Dian juga mengakui bahwa dirinya bukan sosok yang sempurna. Ia justru belajar dari tekanan, dari keputusan-keputusan sulit, hingga dari kehilangan yang menguatkan.
“Aku tidak lagi terlalu sibuk mengejar kesempurnaan… Yang lebih penting sekarang adalah tetap berjalan dengan niat yang benar.”
Momen penyerahan buku itu pun terasa simbolis. Seolah menjadi bentuk penghargaan bagi sang istri yang selama ini turut menyertai setiap langkah, termasuk dalam masa-masa penuh tekanan sebagai kepala daerah.
Tak sedikit yang terdiam. Beberapa bahkan terlihat larut dalam suasana haru.
Dalam bagian penutup epilog, Dian menyampaikan harapan sederhana tentang bagaimana ia ingin dikenang.
“Aku tidak ingin dikenang sebagai seseorang yang berhasil melakukan segalanya. Aku hanya ingin dikenang… sebagai seseorang yang tidak berhenti mencoba.”
Ia menegaskan, pada akhirnya jabatan akan selesai, waktu akan berganti. Namun yang tersisa bukanlah posisi, melainkan jejak—jejak niat baik, usaha, dan nilai yang dijaga.
“Kalau suatu hari nanti semua ini harus berhenti… yang tersisa bukan jabatan, tapi jejak.”
Peringatan Hari Kartini tahun ini pun seakan mendapatkan makna baru. Bukan hanya tentang perempuan dan perjuangannya, tetapi juga tentang perjalanan, ketulusan, dan arti dukungan dalam diam.
Dan di momen itu, “Jejak Hati” bukan lagi sekadar buku melainkan cerita yang masih terus berjalan. (Bengpri).
Leave a comment