Duamata.id – Pagi itu warung kopi Mang Edi belum terlalu ramai. Hanya ada suara sendok beradu dengan gelas dan radio kecil yang kadang hilang sinyal.
Saya, Asep, dan Mang Ujang duduk santai di meja kayu yang sudah mulai mengilap karena terlalu sering dilap.
Asep tiba-tiba tertawa sambil melihat ponselnya.
“Ini menarik,” katanya. “Daerah kita katanya pertumbuhan ekonominya paling tinggi di Rebana. 6,98 persen.”
Mang Ujang yang sedang meniup kopi langsung mengangkat alis.
“Persen itu maksudnya apa sih sebenarnya?”
Asep langsung merapikan duduknya. Kalau sudah soal menjelaskan sesuatu, dia selalu kelihatan seperti dosen ekonomi dadakan.
“Gampang, Mang. Bayangin ada keluarga penghasilannya 1 juta rupiah sebulan. Tahun depan naik jadi 1 juta 70 ribu.”
“Berarti naik 70 ribu,” kata Mang Ujang.
“Betul. Nah kalau pakai hitungan ekonomi, itu disebut naik 7 persen.”
Mang Ujang mengangguk. Masih mengikuti.
“Sekarang ada keluarga lain,” lanjut Asep.
“Penghasilannya 10 juta rupiah. Tahun depan naik jadi 10 juta 500 ribu.”
Saya ikut menghitung.
“Berarti naik 500 ribu.”
“Iya,” kata Asep. “Tapi kalau dihitung persen, cuma 5 persen.”
Mang Ujang berhenti mengaduk kopi.
“Lho… berarti yang 7 persen lebih hebat dong?”
Asep tertawa.
“Kalau di laporan statistik, iya.”
Mang Ujang menatap gelasnya sebentar lalu berkata pelan,
“Tapi kalau di dapur… kayaknya yang tambah 500 ribu lebih kerasa.”
Kami tertawa. Warung kopi memang tempat paling aman untuk meruntuhkan teori ekonomi dengan logika dapur.
Asep lalu melanjutkan membaca berita di ponselnya.
“Ini juga menarik,” katanya. “Katanya daerah kita paling tinggi pertumbuhan ekonominya… tapi UMK-nya paling kecil di Rebana.”
Mang Ujang langsung mengangguk cepat.
“Oh itu saya ngerti,” katanya.
“Ngerti gimana?” saya bertanya.
“Ya kelihatan saja.”
Ia menunjuk ke jalan raya di depan warung.
“Kalau belanja Lebaran, orang sini banyaknya ke Cirebon.”
Saya dan Asep langsung tertawa karena memang itu kebiasaan tahunan.
Mang Ujang melanjutkan sambil menyalakan rokok.
“Kalau mau jalan-jalan pantai, ya ke Pangandaran.”
“Kalau mau naik pesawat?” tanya Asep.
“Ya ke Majalengka. Ada bandara besar di sana,” jawab Mang Ujang.
“Kalau soal pabrik?” saya menimpali.
“Ya lihat saja ke Indramayu. Cerobongnya dari jauh juga kelihatan.”
Kami semua diam sebentar. Hanya suara motor lewat dan radio yang kembali mencari frekuensi.
Asep masih menatap ponselnya.
“Tapi tetap saja,” katanya. “Di berita ini daerah kita yang paling tinggi pertumbuhan ekonominya.”
Mang Ujang tersenyum kecil.
“Bagus itu,” katanya santai.
Ia berdiri hendak pulang, lalu menoleh lagi sebelum keluar warung.
“Artinya ekonomi kita memang tumbuh cepat.”
Kami menunggu lanjutannya.
Mang Ujang menghembuskan asap rokok dan berkata ringan,
“Cuma saya kadang masih bingung…”
“Kalau pertumbuhannya hampir tujuh persen…”
“…kenapa kalau belanja Lebaran kita tetap lebih sering ke kota sebelah.”
Asep Menambahkan, “Kenapa anak mudanya pada hijrah ke kota-kota lain, cari kerja di tempat yang UMK nya lebih tinggi”.
Hanya Cerpen by Mang Duta
Leave a comment